Mohon tunggu...
M. Jojo Rahardjo
M. Jojo Rahardjo Mohon Tunggu... Maksimalkan fungsi otak hanya dalam hitungan hari.

Pakar neuroscience mendefinisikan positivity: "Sebuah kondisi di otak di mana otak bekerja maksimal, sehingga otak lebih cerdas, kreatif, inovatif, analitis, mampu memecahkan masalah, tahan terhadap tekanan dan mudah lepas dari depresi, fisik lebih segar, immune system membaik, dan lebih cenderung berbuat kebajikan". ______________________________________________________________________________ Tulisan M. Jojo Rahardjo tentang positivity atau positive psychology bisa dibaca juga di website "Membangun Positivity".

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tahun Ajaran Baru 2020, Masih Belajar dari Rumah?

28 Juli 2020   16:41 Diperbarui: 28 Juli 2020   16:35 31 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tahun Ajaran Baru 2020, Masih Belajar dari Rumah?
Gambar: Kompas TV

Sejak seminggu terakhir ini ada sebuah kisah yang sedang viral di media sosial mengenai sulitnya sekolah di masa pandemi COVID-19. Kebetulan situasi sekolah ini juga bertepatan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2020 lalu. Entah siapa penulis kisah ini, karena ada bagian awal atau akhir tulisan yang dipenggal.

Kisah ini ditulis oleh seseorang yang tak sengaja melihat seorang anak usia SMP di sebuah warnet sedang mengerjakan tugas sekolah yang menghabiskan biaya hingga puluhan ribu rupiah, karena harus diketik dan dicetak. 

Padahal bagi sebagian anak sekolah, biaya sebesar itu mungkin terlalu mahal, karena situasi ekonomi sekarang mulai sulit. Banyak pembaca yang menyatakan sangat prihatin membaca kisah itu.

Mungkin saja kisah itu cuma fiktif belaka. Namun sejak beberapa bulan terakhir memang muncul beberapa kisah yang mirip beredar di media sosial tentang bagaimana sekolah yang menerapkan belajar online di masa pandemi COVID-19. Bukannya malah meringankan, belajar online ternyata  malah menambah beban para orangtua murid, karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli kuota internet. 

Ternyata itu masih ditambah lagi dengan tugas dari guru yang justru tak sejalan dengan belajar online, yaitu keharusan bagi murid mencetak tugas yang diberikan guru.

COVID-19 Memaksa Murid untuk Belajar Online; Apa hasilnya?

Kita semua sedang khawatir pada hasil dari belajar online yang sedang diterapkan karena adanya pandemi COVID-19. Apakah murid tetap bisa menguasai materi pelajarannya sebaik seperti saat diberikan langsung oleh guru di sekolah? Apakah semua murid bisa mengikuti cara belajar online, karena tak semua memiliki perangkat untuk belajar online, seperti HP atau laptop? Apakah semua murid memiliki uang untuk membeli kuota internet?

Kekuatiaran ini diperburuk dengan perkiraan para ahli tentang berapa lama pandemi ini akan berlangsung. Para ahli di seluruh dunia lebih banyak yang memperkirakan, bahwa pandemi ini masih akan berlangsung lama, bahkan bisa berlangsung setahun lagi. Vaksin dan obat memang harus melalui waktu dan prosedur yang panjang untuk bisa diproduksi massal di seluruh dunia. 

Sebelum vaksin dan obat ditemukan, maka perekonomian tiap negeri terancam runtuh, apalagi jika terjadi ledakan jumlah pasien yang mendadak di berbagai rumah sakit.

Menutup sekolah adalah salah satu cara untuk mencegah munculnya ledakan jumlah pasien. Pasar, tempat ibadah,  perkantoran adalah tempat paling rawan untuk menularkan virus. Sekolah juga termasuk. 

Namun tidak seperti sekolah, pasar atau perkantoran harus tetap beroperasi, karena kegiatan di sana mendukung kegiatan perekonomian. Pentutupan sekolah memiliki argumen yang bagus, bahwa murid sekolah harus dicegah untuk tak menjadi penyebar virus dari rumah ke sekolah atau sebaliknya.

Untuk menyambut tahun ajaran baru 2020, di bawah ini adalah beberapa hal yang patut direnungkan:

  1. Cara belajar tak perlu ditentukan oleh guru, sekolah atau pemerintah. Cara belajar harus fleksibel. Artinya dibicarakan bersama antara sekolah, guru, dan murid (orangtua murid).
  2. Situasi sekarang adalah situasi yang membuat stres dan depresi, jadi cara belajar apapun harus tidak boleh membebani murid, terutama di soal biaya.
  3. Ada test yang dibuat oleh guru (atau sekolah, tapi bukan ditentukan oleh pemerintah) untuk mengukur apakah murid menguasai berbagai pelajaran yang ada (tentu testnya bukan seperti yang diceritakan oleh di media sosial di atas).
  4. Testnya berupa pertanyaan atau tugas yang dijawab atau ditulis dalam bentuk beberapa kalimat atau esai (tidak harus dikerjakan dengan perangkat digital).
  5. Untuk tidak menambah beban orangtua dan murid, semua murid harus naik kelas dan harus lulus pada tahun ajaran sekarang ini (bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan ada test juga, apalagi untuk bekerja).
  6. Meski demikian, pemerintah dan masyarakat harus menyadari, bahwa para murid ini membutuhkan standar kualitas belajar agar Indonesia tidak memiliki satu generasi yang tidak kompetitif. Jadi semua harus urun-rembug untuk memikirkan solusinya.
  7. Hampir seluruh dunia sedang berhadapan dengan persoalan yang sama. Peran serta masyarakat harus didorong untuk ikut bersama mencari jalan keluar dari persoalan belajar-mengajar ini.
  8. WHO dan pemerintah sudah mengingatkan, bahwa ada bahaya yang mengancam kita semua di seluruh dunia, yaitu munculnya gelombang stres atau depresi, karena situasi yang dihasilkan oleh pandemi COVID-19 ini.
  9. Stres atau depresi bisa menurunkan produktivitas, menurunkan kecerdasan, menurunkan kemampuan memecahkan masalah, menurunkan kesehatan tubuh, dan merusak perilaku.
  10. Semua harus terlibat untuk mencari jalan keluar untuk ikut mengatasi ancaman gelombang stres atau depresi.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020 dan selamat menempuh tahun ajaran baru 2020.

M. Jojo Rahardjo

VIDEO PILIHAN