Mohon tunggu...
M. Jojo Rahardjo
M. Jojo Rahardjo Mohon Tunggu... Maksimalkan fungsi otak hanya dalam hitungan hari.

Pakar neuroscience mendefinisikan positivity: "Sebuah kondisi di otak di mana otak bekerja maksimal, sehingga otak lebih cerdas, kreatif, inovatif, analitis, mampu memecahkan masalah, tahan terhadap tekanan dan mudah lepas dari depresi, fisik lebih segar, immune system membaik, dan lebih cenderung berbuat kebajikan". ______________________________________________________________________________ Tulisan M. Jojo Rahardjo tentang positivity atau positive psychology bisa dibaca juga di website "Membangun Positivity".

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

NF, Remaja Pembunuh Balita Bukan Psikopat? Apa Ciri Psikopat?

13 Maret 2020   16:19 Diperbarui: 14 Maret 2020   15:02 117 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
NF, Remaja Pembunuh Balita Bukan Psikopat? Apa Ciri Psikopat?
Pembunuh berantai terkenal di Amerika, Ted Bundy sebelum dihukum mati mengaku membunuh 30 orang (www.kentucky.com)

Indonesia digemparkan oleh kasus pembunuhan anak berusia 5 tahun yang dilakukan oleh seorang remaja putri yang baru berusia 15 tahun. Pada polisi remaja putri ini mengaku sudah lama memendam hasrat membunuh orang, namun ia berhasil menahannya. Namun di hari itu 5 Maret 2020, ia tak kuasa memendam hasrat membunuhnya. Anak tetangga berusia 5 tahun yang sering main di rumahnya ia benamkan di bak mandi hingga tewas. Ia bahkan menyampaikan pada polisi ia merasa puas telah membunuh korbannya.

Dari coretan berupa tulisan dan gambar yang ditunjukkan polisi, beberapa ahli jiwa menduga anak ini seorang psikopat. Benarkah anak ini seorang psikopat? Tentu kita perlu menunggu hasil pengamatan ahli jiwa pada anak ini dalam beberapa hari ini. Jika anak ini memang psikopat, maka apa yang akan terjadi pada anak ini, dan sikap apa yang harus diambil masyarakat? Apakah psikopat terlahir begitu? Atau dibentuk oleh lingkungannya atau keluarga yang berantakan? Apakah tayangan yang ditonton anak itu memberi pengaruh?

Banyak pertanyaan yang harus dijawab, bukan?

***

Psychopathy adalah kelainan personality sejak lahir. Karakteristik seorang psikopat adalah memiliki perilaku anti sosial sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

1. Psikopat nyaris tak memiliki emosi, seperti cemas, takut, sedih, marah, rasa bersalah, malu, menyesal, dan lain-lain. Meski demikian beberapa ahli menyatakan psikopat sangat pandai dalam persoalan emosi. Itu sebabnya mereka mampu menjadi aktor yang mampu meniru emosi orang lain, sehingga mereka sangat jago menipu, atau memanipulasi orang lain.

2. Psikopat seperti tak memiliki empathy. Ia bisa menyiksa atau membunuh tanpa rasa belas kasihan. Empathy yang dimaksud adalah kemampuan untuk memiliki belas kasihan, kebajikan, atau pandangan yang bermoral (mengikuti nilai-nilai yang berlaku di masyarakat). Ia hanya mengikuti pada apa yang menurutnya baik atau menguntungkan. Seorang psikopat dimotivasi oleh kesenangan yang bisa ia peroleh dalam melakukan apa pun, meski itu mengerikan buat orang lain.

3. Psikopat memiliki kesulitan untuk memahami nilai salah dan benar, atau baik dan jahat. Ia mungkin seperti (seolah) orang normal yang mengikuti aturan yang berlaku, seperti tidak melakukan pelanggaran aturan/hukum atau tidak melakukan kejahatan. Namun dorongan untuk melanggar aturan jauh lebih besar daripada orang normal. Menurutnya aturan atau hukum hanya untuk orang bodoh, bukan untuk mereka yang pintar seperti dia. Kecenderungan ini membuatnya belajar sejak kecil sekali untuk memiliki kemampuan dalam menyembunyikan kecenderungannya ini. Lalu semakin dewasa ia semakin membangun kemampuan yang besar dalam memanipulasi orang lain atau menipu dengan lancar.

4. Psikopat dominan terhadap orang lain. Karena itu ia biasanya mengasah kepandaiannya dalam banyak bidang dan ia bisa sangat fokus dalam melakukannya. Ia akan memilih profesi yang bisa membuatnya dominan. Mereka mengejar posisi CEO karena di sana ia bisa menjadi dominan. Sebesar 4-12% CEO menunjukkan ciri psikopat, meski mereka belum tentu seorang psikopat, tetapi hanya memiliki beberapa karakteristik psikopat, yaitu: 1. hebat dalam pencitraan, 2. tenang dan tetap rasional dalam situasi krisis, 3. membuat keputusan besar tanpa melibatkan emosinya.

5. Psikopat cenderung untuk mengambil untung dari orang lain, meski itu merugikan orang lain. Jika ia baik pada orang lain, itu dalam rangka untuk ambil untung atau mengeksploitasi korbannya. Itu sebabnya seorang psikopat dikenal sebagai orang yang paling mampu mengelabui orang lain. Ia menjadi tak pernah apa adanya. Ia bisa menjadi siapapun bagi orang lain, jika itu menguntungkan si psikopat. Penjara di manapun diisi oleh sekitar 25% psikopat.

6. Psikopat tak selalu membunuh, juga tak selalu melakukan kekerasan, namun ia memiliki karakteristik yang merugikan orang lain seperti yang disebut di nomor 1 hingga 5. Jika seorang psikopat menjadi serial killer, ia akan memulainya pada masa remaja.

7. Psikopat sangat mampu menyembunyikan beberapa karakteristik utama (lihat 1-6 karakteristik di atas) pada pasangannya, keluarganya, atau orang-orang di sekitarnya. Jika seorang psikopat ditangkap polisi, pasangan hidupnya bisa tak pernaya untuk waktu yang lama, bahwa pasangan hidupnya adalah seorang psikopat. Jadi psikopat sering terlihat sempurna, mempesona atau kharismatik.

***

Gambaran tentang psikopat di atas membuat anda teringat akan seseorang yang anda kenal, atau seseorang di pemerintahan, DPR, gubernur, walikota, bupati, pemuka agama?

***

Sejak lahir otak psikopat berbeda dengan otak orang normal. Seperti disebutkan di atas, psikopat tak selalu melakukan kekerasan atau pembunuhan. Namun para ahli meyakini, bahwa lingkungannya atau salah asuh di masa kecil membentuk para psikopat ini untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan yang tak terbayangkan oleh orang normal.

Dr. Kevin Dutton seorang peneliti di Oxford dan penulis buku "The Wisdom of Psychopaths: What Saints, Spies, and Serial Killers Can Teach Us About Success" melakukan penelitian dengan menggunakan "Transcranial magnetic stimulation" (TMS). Alat ini bisa menghasilkan magnit yang kuat yang lalu dihubungkan ke amygdala (bagian otak yang mengatur emosi, seperti rasa takut atau belas kasihan). TMS ini mampu menghentikan sinyal yang dihasilkan oleh amygdala untuk dikirimkan ke prefrontal cortex (bertugas memproses informasi yang masuk dari beberapa bagian lain dari otak, lalu menghasilkan sebuah proses kognitif). Karena amygdala berhenti mengirimkan sinyal ke prefrontal cortex, maka tak ada belas kasihan yang muncul atau rasa takut, dan lain-lain.

Banyak penelitian sudah dilakukan pada otak para psikopat. Hasil scan dengan menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) pada otak psikopat, menunjukkan mereka memiliki amygdala dan prefrontal cortex yang lebih kecil daripada otak orang normal. Artinya dengan amygdala yang lebih kecil, maka aktivitas di amygdala menjadi lebih kecil pula, padahal amygdala bertugas untuk memproduksi emosi seperti rasa takut atau belas kasihan, dan emosi lainnya. Prefrontal cortex yang lebih kecil juga tak memproses sinyal dari amygdala, sehingga psikopat tak memproses emosi yang seharusnya ada pada otak yang normal.

Meski psikopat sering dilaporkan melakukan kekerasan dan pembunuhan berantai, namun sudah banyak ahli yang menyatakan bahwa beberapa karakteristik psikopat dibutuhkan untuk mereka yang ingin memiliki pencapaian tinggi dalam berbagai bidang. Mereka membutuhkan kemampuan untuk fokus yang diperoleh melalui hilangnya rasa cemas dan takut dalam situasi apa pun, atau juga kemampuan untuk tak mudah stres dan depresi.

Banyak pekerjaan atau profesi yang membutuhkan orang yang bisa mengerjakan pekerjaannya tanpa takut, tak melibatkan perasaan atau belas kasihan, seperti tentara yang memerangi musuh, polisi yang mengejar penjahat, penuntut umum atau jaksa terhadap terdakwa di pengadilan, ahli bedah, jurnalis dan lain-lain.

Neuroscience sudah menemukan cara untuk memiliki beberapa kemampuan itu, yaitu melalui meditasi. Sebagaimana psikopat, para biksu yang memiliki jam terbang yang panjang dalam meditasi memiliki beberapa kemampuan yang dimiliki psikopat itu. Namun bedanya para biksu itu malah memiliki empathy atau kasih sayang, kebajikan, dan menolak kekerasan, sedangkan psikopat tidak memiliki itu.

Mungkinkah meditasi bisa menjadi jawaban untuk para psikopat itu agar kecenderungannya pada kekerasan, pembunuhan, pelanggaran hukum/aturan/norma bisa dikurangi? Butuh penelitian yang panjang dan mendalam untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Namun hingga sekarang belum ada klaim yang bisa dipercaya, bahwa psikopat yang sudah "ditemukan" seperti remaja yang membunuh anak kecil itu bisa mendapatkan program rehabilitasi yang mujarab.

M. Jojo Rahardjo

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x