Gaya Hidup

Medsosmu Harimaumu: Antisipasi Dampak Negatif Media Sosial demi Terwujudnya Keluarga Berketahanan

17 Agustus 2017   17:45 Diperbarui: 17 Agustus 2017   19:31 689 0 0

Di era milenial sekarang ini, media sosial memiliki fungsi penting dan strategis dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, media sosial sudah layak bila disebut sebagai salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, selain sembako. Dari mulai bangun tidur, beraktifitas sehari-hari dan menjelang tidur, media sosial telah menjelma menjadi sahabat sejati yang setia menemani. Tanpa pandang usia, media sosial menjadi wahana interaksi bagi anak-anak hingga orang dewasa.

Oleh karena itu, keluarga memegang peranan penting dalam rangka pendidikan karakter anak khususnya dalam hal penggunaan media sosial demi terwujudnya keluarga berketahanan nasional. Orang tua harus membangun sinergi positif dengan anak-anaknya atau anggota keluarganya sehingga dampak negatif media sosial dapat diantisipasi.

Munculnya kasus pornografi, pencemaran nama baik, bullying, penghinaan terhadap agama melalui dunia maya atau media sosial cukup menguras pikiran para orang tua untuk melakukan antisipasi terhadap anak-anaknya. Persoalan ini tidak bisa dianggap enteng. Sebab, ibarat kata-kata yang telanjur terucap dari mulut, apa yang disampaikan lewat media sosial juga bisa menjadi "harimau".

Media sosial adalah sebuah media online, dimana para penggunanya bisa dengan mudah berkomunikasi, berpartisipasi, berbagi informasi dan menciptakan isi. Jenis-jenis media sosial yang sangat familiar digunakan oleh masyarakat antara lain Facebook, Youtube, Instagram, Twitter,BlackBerry Messenger, WhatsApp , dan lain sebagainya.

Media sosial memiliki dampak positif bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi, berkomunikasi, menyampaikan pesan, saling berdiskusi baik antar teman maupun antar anggota keluarga yang tidak mungkin dilakukan secara langsung karena terpisah oleh ruang atau jarak. Namun demikian media sosial juga memiliki dampak negatif apabila tidak bijak dalam menggunakannya.

Melalui Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-XXIV yang dilaksanakan di Lampung (Harganas Lampung) pada 15 Juli 2017 lalu dapat dijadikan sebagai momentum bagi setiap keluarga Indonesia. Keluarga harus saling menjalin interaksi, saling bercengkrama, saling bertukar pengalaman dengan komunikasi yang berkualitas demi terwujudnya keluarga berketahanan nasional dan berkarakter. Salah satu wahana interaksi keluarga di era milenial sekarang ini yakni interaksi melalui media sosial.

Beberapa hal penting dalam rangka menguatkan karakter anak melalui media sosial menuju keluarga berketahanan nasional, pertama, jadikan media sosial sebagai sarana kita sebagai orang tua untuk menanamkan nilai-nilai religius atau agama. Bagaimanapun juga agama merupakan pondasi yang amat kokoh agar dapat tertanam di jiwa anak untuk bekal mengarungi kehidupan dan dapat mencegah segala bentuk kemaksiatan.

Melalui media sosial, orang tua bisa mengingatkan anaknya kapan saatnya beribadah, mengajarkan tata cara beribadah, saling berdiskusi tentang bagaimana membangun rasa toleransi antar umat beragama, dan lain sebagainya. Saat terpisah jarak pun jalinan komunikasi orang tua dan anak-anak melalui media sosial terkait nilai-nilai agama tetap dapat dilakukan. Ketika anak-anak sekolah, mengerjakan tugas di luar rumah, sedang bepergian bersama teman-temannya maupun sedang kuliah di luar kota, penanaman nilai-nilai agama melalui media sosial sangat penting.

Beberapa kasus mengenai penghinaan terhadap agama, pelecehan kitab suci atau simbol-simbol keagamaan melalui media sosial yang menyeret sejumlah anak remaja berurusan dengan hukum tentu sangat memprihatinkan kita. Nilai-nilai religius dan sikap toleransi yang tertanam dalam jiwa anak diharapkan mampu mencegah hal-hal negatif tersebut.

Kedua, jadikan media sosial sebagai sarana orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran terhadap anaknya. Ketika anak tidak berada di rumah, melalui media sosial pun orang tua tetap dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran.

Beberapa contoh menanamkan nilai-nilai kejujuran melalui media sosial, antara lain meminta kejujuran anaknya tentang apa yang sedang dikerjakan, sedang berada di mana, dengan siapa saja, dan lain sebagainya. Sikap kejujuran anak juga tercermin manakala rajin memberikan informasi kepada orang tua tentang apa yang telah dikerjakan, misalnya mengirimkan foto atau video aktifitas atau tugas yang telah dilaksanakan di sekolah maupun kampus. Hal ini akan membentuk karakter anak untuk berperilaku sebagai pribadi yang selalu dapat dipercaya, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sehingga diharapkan kelak akan menjadi pemimpin yang jujur dan berintegritas tinggi.

Ketiga, jadikan media sosial sebagai sarana orang tua untuk mengingatkan anaknya agar bersikap sopan santun. Santun adalah satu kata sederhana yang memiliki arti banyak dan dalam, berisi nilai-nilai positif yang dicerminkan dalam perilaku dan perbuatan positif. Perilaku positif yang lebih dikenal dengan santun dapat diimplementasikan pada cara berbicara, cara berpakaian, cara memperlakukan orang lain, cara mengekspresikan diri dimanapun dan kapanpun (Chazawi, 2007).

Perilaku tidak sopan dalam cara mengekspresikan diri di media sosial atau dunia maya bisa menyeret si pelaku ke ranah hukum. Perilaku tidak sopan di media sosial bisa tulisan yang berisi ancaman, hinaan, pencemaran nama baik, bullying dan bisa juga berupa konten negatif seperti foto, gambar atau video bermuatan pornografi.

Dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga telah mengatur terkait bagaiman etika interaksi di media sosial atau dunia maya. Banyaknya kasus yang menjerat anak remaja ke meja hijau akibat perilaku tidak sopan di media sosial sangat memprihatinkan kita.

Orang tua perlu memberikan contoh yang baik bagaimana menggunakan gadget secara bijak, berperilaku sopan santun dalam media sosial dan mengajarkan hal-hal positif bahwa melalui media sosial justru akan memudahkan dalam meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan. Orang tua juga perlu mengawasi penggunaan media sosial terutama untuk anak-anaknya yang belum matang secara usia.

Keempat, jadikan media sosial sebagai sarana orang tua untuk menanamkan semangat kebangsaan pada anak-anaknya. Semangat kebangsaan ini penting untuk membentuk karakter anak untuk dapat berpikir, berperilaku dan memiliki wawasan untuk mencintai bangsa dan negaranya, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Banyaknya aksi radikalisme, terorisme, dan paham-paham yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa sangat mencemaskan kita. Orang tua harus bersikap waspada dengan maraknya aksi-aksi tersebut. Anak-anak remaja dinilai rentan terhadap pengaruh paham-paham yang menyimpang tersebut dikarenakan secara psikologis masih belum matang.

Orang tua dapat memantau dan mengingatkan anaknya melalui media sosial agar selalu bersikap waspada terhadap paham-paham atau pengaruh yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Paham-paham atau pengaruh negatif tersebut dapat pula disebarkan melalui dunia maya atau media sosial oleh kelompok-kelompok tertentu.

Kita masih ingat bahwa beberapa waktu lalu pernah muncul aksi semacam propaganda yang disinyalir dari kelompok ISIS yang banyak tersebar di dunia maya atau media sosial. Sehingga dengan menanamkan sikap kebangsaan melalui media sosial diharapkan anak selalu waspada terhadap konten-konten negatif terkait paham-paham yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Dengan demikian, keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam mengantisipasi dampak negatif penggunaan media sosial. Untuk itu, dengan semangat Harganas Lampung mari kita jadikan media sosial sebagai wahana interaksi keluarga yang sehat dan cerdas dalam rangka mewujudkan keluarga berketahanan nasional.


Share link Artikel:

https://twitter.com/ediwinarnoas