Mohon tunggu...
Misericordias Domini
Misericordias Domini Mohon Tunggu...

@Greet_la23

Selanjutnya

Tutup

Media

Evaluasi Video Buatan Vice Indonesia

25 Februari 2019   01:09 Diperbarui: 25 Februari 2019   03:16 0 1 0 Mohon Tunggu...
Evaluasi Video Buatan Vice Indonesia
Dok.Pribadi

Vice sebuah perusahaan media yang dibentuk oleh Suroosh Alvi & Shane Smith, pada tahun 1994 di Montreal, Canada. Vice Indonesia merupakan salah satu anak perusahaan mereka dan menjadi cabang pertama di Asia Tenggara. Dalam mengemas kontennya Vice Indonesia hadir dengan mengusung dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Orang-orang muda menjadi sasaran pasar produk-produk Vice. Selain mengemas konten sesuai dengan selera kalangan muda, Vice Indonesia melakukan salah satu upaya pendekatan yang matang dengan mengajak kolaborasi selebriti ternama tanah air.

Vice terkenal dengan cara jurnalisme mereka yang mampu bercerita secara mendalam mengenai suatu topik dan berani. Vice menghadirkan bahasan-bahasan anti-mainstream kepada khalayaknya, sering kali Vice mengangkat topik bahasan yang cukup tegang dan mengundang kontroversial. Vice Indonesia sekarang ini berfokus untuk melakukan pengembangan konten dengan memuat talenta baru, seni, serta cerita-cerita yang belum pernah terulik dan berbicara mengenai keragaman di negara ini.

Pada 22 Desember 2018, Vice Indonesia mengunggah sebuah video berjudul, "The Women Who Used Tattoos to Save Themselves From Sexual Slavery". Dalam video ini Vice mengangkat sebuah cerita lokal tersembunyi mengenai wanita Di Malaka, Timor,  yang menggunakan tato dengan tujuan menyelamatkan diri mereka dari militer Jepang yang menjadikan mereka budak seks.  

Tulisan ini akan membahas mengeai visual dari video tersebut dengan menggunakan form evaluasi yang dikeluarkan oleh University of Vermont. Kriteria dalam form ini dibagi menjadi dua katergori, yaitu desain dan pesan atau konten.

Desain 

  • Style and OrganizationDalam video berdurasi 8:25 menit tersebut terlihat bahwa sejak awal  sebelum video dibuat diprediksi telah terdapat konsep yang membuat pengambilan gambar sangat terorganisir sehingga setiap adegannya runtun dan sangat membantu memberikan gambaran pada penonton dan memperjelas isi konten yang ingin disampaikan pada penonton. Transisi dalam video ini juga cukup halus, rapi dan filter yang digunakan konsisten di setiap scenenya sehingga tidak mengakibatkan perpindahan terlihat mencolok. Pemilihan gambar untuk dimasukan ke dalam video juga sudah efektif karena yang diambil benar-benar yang mampu memberikan penggambaran tentang isu yang diangkat.
  • CreativityGambar diambil tidak hanya dari satu sudut pandang saja tetapi dari beragam sudut pandang sehingga memberikan kesan tidak monoton dan membosankan. Pengambilan gambar dilakukan pada waktu yang tepat, dengan menggunaan medium shot yang cukup membantu untuk memperlihatkan kondisi lingkungan, sudut pandang sama dengan posisi manusia normal melihat dan close up juga turut berkontribusi memperlihatkan detail dari setiap ekspresi wajah atau benda. Komposisi sound sudah sesuai porsinya, saling melengkapi. Background musik yang dipilih cukup beragam sehingga tidak mengalami keajegan dan menjadi pemantik juga untuk menarik penonton, pemilihan background musik juga telah disesuaikan supaya serasi disadingkan dengan situasi dan kondisi, isu dan gambar yang diambil.  

Pesan atau Konten

  • ContentSubjek diperkenalkan oleh pembawa acara dengan jelas dan sudah sesuai fokus pada target subjek yang diangkat menjadi konten dan dukungan dari video yang tersusun rapi cukup mempermudah penonton mengikuti alur perjalanan dari cerita tentang subjek yang diangkat. Ditambah lagi penjelasan disertai gambaran dari video dan foto dokumeter, menggambarkan tentang sejarah sehingga perkenalan terbilang cukup jelas. Penonton menjadi betah menonton karena konten diselingi dengan narasi tidak hanya berisi percakapan saja dan dibuat penasaran dengan kata-kata pemantik dari pembawa acara dan sokongan dari gambar yang diambil.

Salah satu foto dokumenter yang ada dalam video The Women Who Used Tattoos to Save Themselves From Sexual Slavery
Salah satu foto dokumenter yang ada dalam video The Women Who Used Tattoos to Save Themselves From Sexual Slavery

  • QualityBackground musik, suara pembawa acara, narasumber serta dubbing sudah terdengar dengan jelas dan jernih. Keras tidaknya sound diatur dengan baik sehingga tidak saling menutupi suara yang satu dengan yang lainnya tetapi saling mengiringi dan tentunya tidak mengagetkan penonton. Gambar terbilang sudah fokus hanya saja terdapat beberapa gambar kabur ketika gambar diambil saat berjalan atau gerakan cepat atau saat cahaya luar ruangan terlalu terang membuat gambar kabur, tapi memang harus diakui pencahayaan luar ruangan cukup sulit untuk dikontrol. Kamera juga sempat beberapa kali bergoyang.
  • Spelling, Usage, Grammar and MechanicsSeperti yang sudah dijelaskan d iatas Vice Indonesia menggunakan dua bahasa dalam kontennya, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Begitupun dalam video ini dua bahasa tersebut digunakan, tetapi karena beberapa narasumber hanya dapat menggunakan bahasa daerah sehingga terdapat tiga bahasa yang dipergunakan dalam video ini. Kemunculan subtitles sudah pada waktu yang tepat dan sudah disesuaikan ketika pembawa acara menggunakan Bahasa Indonesia maka subtitles yang akan muncul adalah Berbahasa Inggris, begitupun sebaliknya. Namun, ketika pembawa acara dan narasumber berbicara menggunakan bahasa daerah maka akan muncul dua subtitle, satu menggunakan Bahasa Inggris dan satu lagi menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak ditemukan grammatical errors.

Berdasarkan dari evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan form video berjudul, "The Women Who Used Tattoos to Save Themselves From Sexual Slavery", sudah memenuhi beberapa kategori. Walaupun tidak dapat dipungkiri masih terdapat beberapa kekurangan tetapi video produksi Vice Indonesia ini dapat dikatakan sudah layak tayang. 


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x