Muh Iqbal Awaludien
Muh Iqbal Awaludien Content Writer

Berbagi informasi dan gagasan. Suka-suka, tapi berkualitas. https://olahlaga.com/ Email: iqbalawalproject@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

World Cup 2018, Mungkinkah Akan Sedingin Cuaca Rusia?

14 November 2017   11:46 Diperbarui: 15 November 2017   21:48 741 3 1
World Cup 2018, Mungkinkah Akan Sedingin Cuaca Rusia?
Sumber gambar: visityakutia


Cuaca yang sangat ekstrem di Yakutia, Siberia, Rusia

Rusia, negara yang akan jadi tuan rumah World Cup 2018 terkenal dengan cuacanya yang ekstrem. Sebagai sebuah negara dengan wilayah yang luas, membentang dari utara barat daya Laut Arktik hingga ke Timur yaitu Siberia di tepi Pasifik, Rusia beriklim tundra yang sangat dingin.

Pada tahun 2012, negara yang juga dikenal sebagai negara "Beruang Merah" ini pernah mengalami bencana akibat cuaca yang sangat dingin. Tak tanggung-tanggung, 123 orang tewas di Rusia karena mengalami radang dingin. Saat itu, Moskwa, ibu kota Rusia, mencapai minus 30 derajat, sedangkan daerah yang paling dingin adalah Siberia dengan minus 60 derajat (News.com.au)

Namun ini bukan hanya tentang dinginnya cuaca Rusia. Lebih dari itu, tentang potensi dinginnya (juga!) pagelaran sepak bola terakbar di jagat raya yang akan di langsungkan di negara yang sepanjang sejarahnya selalu berseteru dengan Amerika Serikat ini.

(Sumber gambar: goal.com)
(Sumber gambar: goal.com)

Ya, seperti dilansir Kompas.com (14/11), 29 negara telah dipastikan lolos ke Piala Dunia Rusia 2018. Para pecinta sepak bola kiranya cukup puas dapat menyaksikan deretan pemain terbaik dunia beraksi di sana. Sebut saja, Lionel Messi bersama Argentina, Neymar Jr. (Brasil), Cristiano Ronaldo (Portugal), Andreas Iniesta (Spanyol), Harry Kane (Inggris), juara bertahan Jerman, dan nama-nama lain tentu terlalu panjang kalau dijabarkan semuanya.

Meski demikian, selalu ada kekurangan di tengah kelebihan. Dan ini berlaku untuk Piala Dunia edisi mendatang. Pasalnya, sepak bola dunia sudah pasti kehilangan suguhan permainan yang selama ini menjadi filosofi sepak bola; Absennya Belanda yang mewakili Total Football, Italia yang amat melekat dengan Catenaccio, dan Chile yang bergaya Spartan harus rela menjadi penonton.

Belanda, dipastikan tidak lolos Oktober lalu (11/10) karena hanya menempati peringkat tiga dengan 19 poin. Negara yang dikenal dengan permainan menghiburnya dan sering kali melahirkan pemain legendaris semacam Johan Cruyff, Marco van Basten, Robin van Persie dan Arjen Robben ini mengulang kegagalannya 16 tahun silam saat gagal lolos ke World Cup 2002 Korea Jepang.

Italia lebih nahas lagi. Kegagalan ke Rusia merupakan yang terburuk dalam 60 tahun terakhir. Italia, sang juara empat kali, sebelumnya selalu lolos sejak tahun 1958 dan termasuk tim elite unggulan juara. Serangan balik cepat dan bek-bek tangguh menjadi daya tarik Italia. Kenyataan pahit harus mereka hadapi saat kalah oleh Swedia di babak Play-off dengan agregat (1-0) dini hari tadi (14/11)

Karier Gianluigi Buffon berakhir antiklimaks. Gagal membawa Italia lolos ke Rusia, dan pensiun. (Sumber gambar: esportes)
Karier Gianluigi Buffon berakhir antiklimaks. Gagal membawa Italia lolos ke Rusia, dan pensiun. (Sumber gambar: esportes)

Sementara itu, Chile merupakan juara Copa Amerika 2015 dan 2016. Mereka adalah tim yang sedang naik daun karena permainan kolektif dan pantang menyerah. Tim inilah yang berhasil mengandaskan Argentina dua kali di final dan membuat Messi menangis tersedu sampai memutuskan gantung sepatu -- meski akhirnya tidak jadi. Di Akhir akhir klasemen kualifikasi zona Amerika Latin mereka hanya menempati posisi ke-6.

Oke, sampai di sini kita tetap dijamin aksi-aksi menyihir dari Messi serta Ronaldo. Persaingan sengit mereka pasti akan jadi salah satu pusat perhatian di Rusia.

Belum lagi umpan-umpan matang, dengan tingkat presisi yang sangat tinggi dan teknik brilian dari Mesut Ozil, David Silva, Kevin de Bruyne, Philippe Coutinho hingga Paul Pogba pun tentu tersaji di tengah persaingan merebut juara. Lalu ada juga gaya bertahan ngototdan keras ala Sergio Ramos, Pepe, Nicholas Otamendi, Samuel Umtiti, dan Vincent Kompany, yang pastinya mampu membuat para pecinta sepak bola gregetan. Selain itu, kiper-kiper terbaik hadir: Manuel Neuer, David de Gea, Thibaut Courtois, Ederson Moraes, Hugo Lloris, dan Keylor Navas dengan aksi jumpalitanmenyelamatkan gawangnya dari kebobolan.

Akan tetapi, tanpa permainan cepat Belanda, serangan balik kilat Italia, dan Chile, masihkah Piala Dunia 2018 Rusia menarik disaksikan? Pasalnya, sepak bola alih-alih hanya  sebagai ajang pamer kualitas individu, sepak bola adalah olahraga tim yang mengutamakan kolektivitas. Dan tiga tim yang punya sejarah panjang bahkan dua di antaranya pencipta filosofi sepak bola, tidak akan berlaga di Rusia nanti. Jadi apakah World Cup edisi ini akan sedingin cuaca di Rusia?