Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Tigabelas Halaman Fiksi Mini untuk 13 Tahun Kompasiana

27 Oktober 2021   10:33 Diperbarui: 29 Oktober 2021   00:45 302
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Halaman 6

Ku buka halaman enam. Sebuah cerpen karya Zaldy Chan ku nikmati. Jahitan narasinya sangat indah. Alur ceritanya mengalir bak air sungai citarum. Aku terbuai. Pikiranku  melayang entah kemana. Teringat tentang masa kecilku saat bermain di sungai kecil di belakang rumah yang kini telah menjelma menjadi beton-beton raksasa bisu.

Halaman 7

Suara azan dari masjid mengagetkanku. Orang-orang bersegera menuju ke sana. Meninggalkan segala pernak-pernik kesibukannya. Aku baru memulai membaca puisi  karya Taufiq Sentana yang harus segera ku biarkan tergolek sendirian dilaptopku. Aku pun bergegas menuju Masjid dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Sangat tergesa-gesa.

Halaman 8

Ku buka halaman delapan. Ku temui sebuah cerpen apik karya Henri Koreyanto. Ceritanya mengalun bak sebuah senandung lagu yang indah. Aku terpesona dengan alunan ceritanya. Diksinya menyihir ragaku. Menyegarkan sekujur otak kananku. Tiba-tiba perutku terasa keroncongan.

Halaman 9

Aku menjadi lapar sekali siang ini. Sebuah artikel tentang makanan yang ditulis dengan diksi apik oleh Siska Artati membuat perutku makin terasa keroncongan. Sementara cahaya matahari yang nakal masih berada tepat diatas kepalaku. Bergegas aku mencari warung dekat kantor.

Halaman 10

Tiba-tiba aku menjadi melankolis. Puisi apik yang ditulis Fatmi Sunarya membuat hatiku terkoyak-koyak. Kesedihan melanda sekujur tubuhku. Airmata mengalir dari kedua kelopak mataku. Membasahi ubin yang mulai menghitam diinjak pemakai sepatu yang berdasi. Aku termenung. Menatap cahaya matahari yang mulai menipis.

Halaman 11

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun