Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Takdir Menguak Deni

2 September 2021   22:17 Diperbarui: 2 September 2021   22:17 451
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen : Takdir Menguak Deni

Cahaya malam makin menjauh. Sejauh mimpi para penghuni bumi yang tak kunjung datang. Sinar temaram rembulan mulai terlihat enggan menyinari bumi. Rasa kantuknya mengalahkan kodratinya sebagai penerang alam semesta.

Seorang lelaki berwajah kemayu  berjalan menembus pekatnya malam. Langkahnya berlenggang lenggok bak peragawati di catwalk. Gaya berjalannya tak bisa memungkiri kodratnya. Penampilannya yang rupawan membuat diorama dirinya berubah total. Dan klakson genit dari beberapa pengendara mobil dan motor yang melintasi jalanan sepi itu masih menggoda. Sangat menggoda.  Tak satu pun yang digubrisnya. Dia harus pulang. Sementara malam makin menua seiring mulai terbangunnya mentari dari rasa lelapnya.

Sinar mentari mulai memancarkan cahaya terangnya. Alam terang benderang. Kesibukan mulai terlihat. Dijalanan para pelintas mulai beradu cepat. Di pasar, para pedagang mulai menjajakan produknya. Tak terkecuali lelaki kemayu semalam yang kini tampil dengan dandanan ala rambo.

" Kuat amat Deni. Malam kerja, siang masih kerja sebagai kuli panggul.Kayak rambo saja tenaganya,' ujar seorang temannya saat melihat Deni melintas depan warkop sambil memikul beban dipundaknya.

" Apa boleh buat. Inilah kerasnya kehidupan Kota. Anda tak tahan, jadi pengemislah dijalanan," sahut para pengopi di warkop.

" Tapi kita bangga punya teman seperti dia. Pekerja keras untuk keluarga. Peduli dengan sekitar. Soal gaya hidupkan beda-beda. Itu soal rasa," sambung Mang Masno tetangga rumah Deni. 

Semua tercengang dengan perkataan Mang Masno. Sementara dilubuk hati Mang Masno ada rasa sesal atas ucapannya yang tak bisa diralat seperti dimedia massa.

Sudah tiga malam, Dena tak kelihatan batang hidungnya diantara para penghias malam di Taman Ligut Kota. Para teman sejawat pun mulai resah. Sejuta tanya mengelembung dalam jiwa mareka. Sejuta pertanyaan mulai mareka narasikan kepada alam.

" Kok Dena udah tiga malam nggak markir?," tanya lela.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun