Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mereka Bilang, Ayahku Koruptor

3 Juli 2017   02:16 Diperbarui: 3 Juli 2017   10:58 912 1 0 Mohon Tunggu...

Aku seolah terhempas dalam gelombang hitam pekat. Menyusuri gelapnya lorong kehidupan dengan penuh kesedihan dan deraian airmata. Semua mata memandangku sinis. Tak ada rasa persahabatan, apalagi persaudaraan yang menjadi ciri khas warga Kota kami. Mereka menjauh dari derap langkah kehidupan kami. Mengucilkan aku sekeluarga. Mereka menjuluki aku anak koruptor. Pemiskin mereka. Pengsengsara hidup mereka dan keluarga mereka yang hidup di alam yang kaya raya ini. Dengan bermodalkan tongkat dan kayu saja mereka bisa hidup sebagaimana lirik lagu band legendaris Koes Plus.

Aku tak mengerti. Sama sekali tak mengerti alur pikiran ayahku hingga harus menjerembabkannya ke dalam sel yang katanya penuh ribuan duka bagi penghuninya. Ayahku bukanlah lelaki yang asing dengan duit. Tak sama sekali. Bagi ayah uang berserakan diatas meja bukanlah sesuatu yang aneh. Semenjak aku tahu cahaya dunia, ayah sudah bergelimangan harta. Uang bergepok-gepok ditas meja, di dalam lemari kamar hingga tasnya bukanlah sesuatu yang asing baginya. Bagaimana tidak, sebagai anak seorang pengusaha, ayah diwarisi berlimpah harta dan sederet usaha yang secara akal sehat tak mungkin memiskinkannya. Uang terus mengalir ke saku celananya hingga ke tabungan bank tiap bulannya dari produk usaha orang tua yang dijalankannya.

Aku sebagai anaknya tak habis pikir. Kenapa ayah tak membelanjakan uangnya yang bejibun itu untuk kemashalatan orang banyak dengan membangun pusat-pusat pelatihan untuk anak-anak muda di Kota kami biar mereka pintar dan cerdas sebagai aset masa depan bangsa. lagi pula uang sebanyak itu tak akan dibawa mati.

" Kamu terlalu banyak membaca buku," ujar Ayah saat itu kepadaku.

" Bukankah dengan banyak membaca, cakrawala berpikir kita luas," jawabku.

" Kamu belum tahu kehidupan yang sebenarnya, Nak. Kamu masih mahasiswa. ayah dulu saat masih kuliah juga berpikiran sama seperti kamu. Idealis," jawab Ayah. 

Aku juga tak mengerti alur pikiran ayah ketika dia tiba-tiba mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah tanpa berbekal ilmu birokrasi yang kuat. Bukankah selama ini ayah tak pernah berkecimpung dalam dunia birokrasi? Ikut dalam kepenguusan organisasi pun ayah tak pernah sama sekali. Selama ini ayah hanya sibuk dengan urusan bisnisnya. Dari mulai mentari terbit hingga matahari terbenam, ayah selalu disibukkan dengan urusan bisns dan bisnis.  Bagaimana ayah bisa menjadi pemimpin yang baik dan berkwalitas kalau tak menguasai ilmu pemerintahan," pikirku sarat dengan ragu atas kemampuan Ayah. Dan aku juga heran dengan cara berpikir  para pemilh yang tak cerdas sehingga mereka menghantarkan ayahku menjadi seorang pemimpin. Apakah mereka menerima uang dari ayah dan timsesnya saat memilih ayah di TPS? Aku hanya bisa memaki. Hanya bisa menggumam dalam hati. Nasi sudah menjadi bubur.

" Ayah bisa belajar. Bukankah belajar tak mengenal usia? Lagi pula ayah tak akan malu belajar dan bertanya kepada bawahan ayah yang pintar-pintar itu," tegas Ayah seolah menjawab keraguanku atas kemampuannya sebagai seorang pemimpin daerah. Aku pun cuma terdiam atas jawaban ayah saat itu.

Ayah kini harus menerima stigma sebagai koruptor. Semua orang menjulukinya demikian dengan nada suara garang berbalut wajah penuh tatapan kebencian. Pengadilan telah memutuskannya dia bersalah karena mengkorupsi dana rumah sakit. Anak-anak hingga orang dewasa di Kota kami tahu dengan predikat ayah sebagai koruptor yang sangat jahat itu dan pekerjaan paling dimusuhi orang dimuka bumi ini.

" Ayahmu orang jahat. Jahat sekali," ujar seorang teman kepada ku.

" Betul sekali kawan. Koruptor," teriak teman ku yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x