Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Serum Sesi Recovery-Bab 21

2 Juli 2020   22:44 Diperbarui: 2 Juli 2020   22:50 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cecilia menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hati memaklumi betapa berhati-hatinya Dokter Adli Aslan. Tapi juga sedikit kesal karena mereka harus pergi ke satu tempat lagi yang semestinya dihindari. New Delhi, sebuah kota yang cukup parah terkena pandemi Bakteri Tropis.

Di dalam kokpit pesawat, Andalas membuka ijin itinerary rute pesawat. Di dalam dokumen memang disebutkan bahwa rute mereka pada tanggal ini adalah Beijing-New Delhi. Andalas terheran-heran. Sepertinya Luigi tahu mereka harus menuju kemana setelah Beijing. Padahal bisa saja apabila urusan di Beijing ternyata beres, mereka terbang langsung ke Jenewa.

Andalas semakin bertanya-tanya siapa Luigi sebenarnya.

Penerbangan ke New Delhi akan memakan waktu 7,5 jam. Cukup lama. Andalas mulai berhitung dengan bahaya di udara. Mungkin saja Organisasi akan bertindak lagi mengirimkan pesawat pemburu dalam perjalanan menuju India.

Tapi mau bagaimana lagi. Itulah resiko yang harus mereka jalani. Andalas memeriksa panel kontrol rahasia yang berisi kelengkapan persenjataan. 4 misil Irish-T, 2 rudal Maverick, 2 M2 Browning. Andalas mengerutkan keningnya dengan heran.

Bukankah 1 buah Irish-T telah dia pergunakan untuk menghajar salah satu dari 2 Tomcat? Kenapa keterangan di panel menyebutkan misil udara ke udara itu masih utuh?

Andalas lalu teringat Luigi. Ah, memang betul-betul misterius orang tua itu. Pasti dia telah melengkapi persenjataan Gulfstream ini di sini. Luar biasa! Luigi melakukannya di Bandara Beijing!

Gulfstream itu mengangkasa di udara China dengan anggun. Berbelok 10 derajat ke kiri menuju New Delhi sambil terus mendaki untuk mencapai ketinggian cruising yang ditetapkan.

Andalas mengatakan kepada Lian Xi bahwa mereka harus bergantian mengawasi layar radar. Tidak boleh bersamaan pergi ke kabin belakang. Lian Xi mengiyakan. Terlalu berbahaya memang jika mereka lengah dalam mengawasi radar. Terlambat sedikit saja mengantisipasi kehadiran pesawat musuh lewat pemantauan radar, mereka sama saja dengan menggali kubur sendiri.

Sekarang giliran Andalas. Lian Xi disuruhnya makan dan beristirahat di kabin belakang. Perjalanan 7,5 jam tidak bisa dihandle sendirian. Hal itu akan cukup melelahkan. Apalagi harus selalu memasang mode siaga di kepala mereka.

Andalas tidak mau menjalankan mode siluman dan memilih tetap terbang sesuai ketinggian yang disarankan dalam itinerary. Selama masih di wilayah udara China, rasanya mereka akan aman. Untuk sementara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun