Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Sajak Keempat Ribu

16 Februari 2020   17:09 Diperbarui: 17 Februari 2020   20:54 226 24 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Sajak Keempat Ribu
Sumber: pixabay.com

Karenamu, aku mampu menuliskan sajak-sajak tentang matahari, api, dan tungku. Dulu aku tertidur pulas, menjadi malas, lalu bertingkah seolah telah menjadi seorang penyintas yang telah berhasil melintasi batas. Padahal sesungguhnya aku hanya sehelai kertas. Kosong dan pias.

Lalu, kau mendatangiku di suatu pagi kala jendela kamar masih tertutup rapat oleh suara dengkur yang lelah terhadap nafasnya sendiri. Menyeretku keluar untuk menyaksikan barisan nektar diangkut lebah dan burung kolibri. Berduyun-duyun menyemai putik dan benangsari. Dalam sebuah drama epik yang hanya bisa dilakukan oleh para pencuri hati.

Setelah itu kita bicara terus terang tentang musim penghujan. Menganggapnya sebagai pasal terbaik dari keseluruhan bab yang pelik. Sementara kemarau dihadirkan, sebagai cara matahari mengingatkan. Kita tidak sepenuhnya berhak selalu berdansa dengan hujan.

Ada saat di mana kita tersesat di gurun pasir, padang savana, dan gua-gua yang kehilangan kelelawarnya. Di sana, kita berjumpa dengan kekeringan, perburuan, dan kegelapan. Tapi kita masih bisa tertawa. Karena nyatanya kita juga bagian dari cuaca, berkejaran dengan titi mangsa, dan penyuka sandyakala.

Ini adalah sajak ke empat ribu yang sebagiannya aku tuliskan di dinding kamar, beranda, dan ruang tamu. Terkadang juga di stasiun, halte, dan trotoar yang gagu. Juga di sungai-sungai, persawahan, dan belantara. Tempat-tempat yang ditakdirkan sebagai perantara. Bagi kisah-kisah yang diceritakan secara sederhana. Dari epos dan hikayat yang paripurna.

Bogor, 16 Februari 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x