Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Penjelajah Masa Lalu (Episode 2, Candi Laut Selatan)

15 September 2019   20:55 Diperbarui: 15 September 2019   21:45 0 3 1 Mohon Tunggu...
Penjelajah Masa Lalu (Episode 2, Candi Laut Selatan)
pixabay.com

Episode 1

Keempat sahabat itu terpaku diam. Pemandangan di hadapan mereka, meski jaraknya masih cukup jauh, menghantam keberanian mereka. Wajah yang cantik jelita namun dengan taring panjang berdarah di mulutnya, sedikit banyak menciutkan nyali.

Raja memberanikan diri terus maju. Dia yakin apa yang mereka saksikan saat ini pasti punya alasan khusus hingga "makhluk" itu menampakkan diri di depan manusia. Raka, Dewi, dan Bima mengikuti dengan was-was dari belakang.

Begitu jarak di antara mereka dengan perempuan itu tak sampai sepuluh meter lagi, perempuan itu tertawa panjang mendirikan bulu roma.

"Hi hi hi hi hi....." tubuhnya yang semampai diayun ke belakang dengan gemulai. Lenyap dari pandangan.

Setengah berlari Raja mendatangi diikuti teman-temannya. Tempat perempuan itu tadi berdiri persis di bibir sebuah jurang dalam yang dasarnya sama sekali tak kelihatan karena tertutup kabut. Perempuan tadi membuang dirinya ke jurang!

Mereka berempat saling berpandangan. Mencoba memahami apa yang terjadi. Lalu masing-masing tertunduk. Tenggelam dalam kesimpulan sendiri. Pagi yang sangat aneh untuk memulai hari.

Ketenangan yang mencekam itu dipecahkan oleh teriakan histeris, lagi-lagi Dewi.

"Li...lihaaaattt!" dalam keterpakuannya Dewi menudingkan telunjuknya.

Serentak yang lain mengikuti arah jari Dewi. Dan, tak bisa dicegah lagi ketiganya terbelalak hebat menyaksikan sebuah pemandangan yang mengejutkan, menakjubkan, sekaligus menakutkan.

Di bawah mereka, reruntuhan candi yang baru saja mereka tinggalkan dan tadinya hanya berupa bongkahan batu-batu besar tergeletak tak beraturan, sekarang berubah menjadi sosok candi utuh yang terlihat megah dan agung.

Rajalah yang pertama kali sadar dan menghela nafas panjang.

"Aku sudah menduganya. Seperti apa yang aku bilang kawan, kita hanya tidak di tempat yang tepat untuk melihat. Candi itu persis seperti sketsa yang dibuat Raka."

Raka dan Bima tak sanggup berkata-kata. Hanya mengangguk-anggukkan kepala berulang kali. Sedangkan Dewi masih terpana dengan pandangan mata yang tak bisa diartikan saking kacaunya apa yang berkutat dalam pikirannya sekarang. Mereka berada di sebuah wilayah misterius dengan kejadian-kejadian yang tak bisa dinalar, dan Dara masih belum ditemukan!

Pikiran inilah yang kemudian menyadarkan Dewi.

"Raja, lalu bagaimana kita bisa menemukan Dara?" ada isak dalam pertanyaan itu. Dara adalah sahabat terdekat Dewi sejak lama.

Raja menggamit lengan Raka dan Bima serta memberi isyarat kepada Dewi untuk mendekat.

"Aku yakin sekali bahwa Dara masih hidup dan sekarang dia sedang disembunyikan oleh "sesuatu" di sini. Raka coba lihat apakah ada yang tidak biasa pada penampakan candi di sana itu?" Raja tahu hanya Raka yang paling paham mengenai struktur arkeologi sebuah situs karena itu memang keahlian khususnya.

Raka tidak menyahut. Lelaki itu hanya memusatkan perhatian pada candi megah yang berdiri di bawah bukit tempat mereka berdiri, lalu pandangannya berganti meneliti sketsa di tangannya. Begitu beberapa kali sampai akhirnya menyatakan satu hal yang mengagetkan.

"Di dalam sketsa tidak nampak jelas tapi candi di bawah kita itu sudah pasti memiliki pintu masuk. Hanya saja aku tidak tahu kemana."

Kembali empat sekawan itu jatuh dalam lamunan masing-masing. Jika candi memiliki pintu berarti ada ruang yang bisa diakses menuju tempat penyimpanan sesuatu.

"Hmm, ini pasti ada kaitannya dengan Dara. Aku merasakan firasat bahwa teman kita itu berada tidak jauh dari sini. Dara berusaha disembunyikan namun dengan maksud agar kita berusaha menemukan," Raja memberikan pernyataan yang lagi-lagi mengejutkan. Sekaligus juga memberikan harapan.

Tanpa diskusi lebih jauh lagi, keempatnya segera turun menuju tempat semula. Namun belum sampai beberapa langkah Raja mengangkat tangannya.

"Tunggu dulu! Kita tidak bisa menuju candi itu dari tempat semula. Kita harus mencari jalan lain yang searah dengan bukit ini. Aku khawatir jika tetap menggunakan jalan ini dan mencapai candi itu seperti apa yang kita lakukan kemarin, candi itu akan kita temukan kembali dalam keadaan seperti reruntuhan."

Raja melanjutkan teorinya.

"Perempuan cantik tapi menakutkan yang kita lihat tadi sepertinya malah memberikan petunjuk ke arah mana kita harus menuju candi yang utuh itu."

"Tapi bukannya itu jurang, Raja? Bagaimana bisa?" Bima yang sedari tadi hanya bengong menukas cepat.

"Nah itu juga yang mesti kita pecahkan. Ini adalah kepingan teka-teki yang disodorkan di hadapan kita agar bisa kita pecahkan. Mungkin ada misteri yang ingin dibuka atas keberadaan candi ini."

Raja menyelesaikan ucapannya kemudian mengajak yang lain mengikuti. Mereka kembali ke bibir jurang tempat perempuan tadi membuang dirinya.

Memang sepertinya sangat mustahil melihat atau menemukan jalan di tengah tebalnya kabut yang terhampar di jurang itu. Namun karena sangat yakin dengan firasat Raja, mereka semua dengan tekun mencoba mencari-cari. Apapun itu. Dan ternyata memang tidak sia-sia. Mata Bima yang tajam melihat satu hal yang menarik perhatian.

Pada suatu kesempatan kabut menipis dan menimbulkan celah, Bima melihat ada sebuah lubang gua tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Berada di tebing yang tidak terlalu curam dan pada dinding tebing ditumbuhi oleh beberapa pohon kerdil yang terlihat cukup kuat untuk dijadikan pijakan maupun pegangan pada saat turun ke gua tersebut.

Mereka sepakat untuk menuruni tebing dan menuju ke gua yang dilihat oleh Bima. Raja mempersiapkan alat dan perlengkapan untuk mendaki atau menuruni tebing. Bagaimanapun safety tetap harus dijaga meskipun pohon-pohon kerdil itu nampak kokoh sebagai pijakan maupun pegangan.

Tidak perlu waktu lama akhirnya satu persatu menuruni tebing. Dipimpin oleh Bima yang memang ahli panjat tebing. Dan memang ternyata pohon-pohon itu sesuai perkiraan bisa dipergunakan sebagai pijakan dan pegangan. Lagipula di pinggang masing-masing telah diikatkan tali keselamatan jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bima dan yang lainnya merasakan hawa luar biasa dingin menerpa tubuh dan muka mereka saat proses menuruni tebing. Hawa dingin yang oleh Raja dirasakan sebagai aura tidak biasa. Sebuah pertanda yang hanya bisa dirasakan oleh Raja. Sementara yang lain hanya merasakan hawa dingin itu karena mereka berada di ketinggian. Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya bukit tempat mereka berada tak lebih dari 250 meter di atas permukaan laut.

Meskipun diliputi rasa was-was dan cemas, semua anggota tim sampai juga di bibir gua dan memasukinya bersama-sama. Hawa dingin semakin menusuk begitu mereka semua berada di dalam gua. Kali ini bahkan disertai dengan menguarnya wangi bunga melati yang sangat tajam. Semuanya terheran-heran karena sedari tadi mereka tidak menemukan satupun perdu melati.

Keheranan yang bercampur dengan kengerian karena ruang gua yang mereka masuki sekarang memiliki beberapa lorong yang berbeda arah! Lorong mana yang harus mereka ikuti?

Raja menyalakan senter dan menyipitkan matanya untuk melihat perbedaan antar lorong. Lorong di sebelah kanan terlihat sempit dan mengharuskan mereka merangkak untuk memasukinya. Lorong di tengah dan kiri cukup lebar untuk dimasuki dengan berjalan biasa. Hanya saja lorong yang sebelah kiri terlihat banyak sekali stalaktit dan stalagmit di permukaan dan langit-langitnya.

Nyaris semua sepakat untuk masuk ke lorong bagian tengah. Rajapun semula setuju namun segera membatalkan niatnya begitu Dewi menjerit nyaring sambil menunjuk lorong tengah dan kiri secara bergantian. Wajahnya yang tersorot sinar senter teman-temannya terlihat sangat pucat seolah tak berdarah lagi. Tubuhnya gemetar hebat.

Bagaimana tidak? Di mulut kedua lorong yang ditunjuknya terlihat jelas dua sosok tubuh dengan kondisi yang tidak masuk akal.

Di lorong kiri nampak sosok perempuan yang tadi mereka temui di puncak bukit. Tetap dengan penampilannya yang aneh dan mengerikan. Cantik jelita namun memiliki taring di kedua sudut mulutnya. Kali ini darah yang mengalir dari kedua ujung taring itu tidak cuma menetes pelan. Namun mengalir deras seolah perempuan itu menderita luka di dalam mulutnya namun mengalami hemofilia sehingga darahnya tidak bisa membeku.

Sosok berikutnya di pintu lorong tengah sebetulnya tidak terlalu menyeramkan. Namun Raja sendiri bahkan bergidik tidak karuan melihat sosok tersebut. Sama, seorang perempuan. Berbaju tradisional dengan kemben dan kain serta berkebaya. Namun yang membuat merinding adalah perempuan itu tidak berdiri di atas tanah. Namun berpijak pada kepala seekor ular raksasa!

Kedua sosok itu perlahan-lahan mendekat ke arah mereka. Raja yang melihat gelagat tidak menyenangkan, serta merta memberi tanda kepada teman-temannya untuk mengikutinya masuk lorong sebelah kanan. Dengan sangat tergesa-gesa dan hanya mengandalkan head lamp. Raja yang pertama kali masuk karena memang dia yang paling tahu harus berbuat apa jika menemui hal-hal mistis di dalam sana. Diikuti Dewi, Raka dan terakhir Bima.

Ternyata lorong yang kelihatannya sangat sempit itu hanya di bagian depannya saja harus merangkak. Tidak sampai 3 meter, mereka sudah mendapati lorong yang lebar dan tinggi.

Sambil terengah-engah, Raka menyalakan lampu senter besar dan mengajak semuanya berkumpul untuk berkoordinasi dan menyusun rencana selanjutnya. Lorong itu terang seketika. Menerangi wajah pucat Raja, Bima dan Raka sendiri. Dewi tidak ada di antara mereka!

Padahal jelas sekali Dewi tadi merangkak persis di belakang Raja!

------
Jakarta, 15 September 2019







KONTEN MENARIK LAINNYA
x