Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sebuah Tamsil di Belantara Kecil

15 Juli 2019   03:32 Diperbarui: 15 Juli 2019   03:35 0 12 3 Mohon Tunggu...
Sebuah Tamsil di Belantara Kecil
pixabay.com

kembali ke sini
di sebuah serambi
tempatku dulu mengumpulkan sunyi demi sunyi
ke dalam sebuah teka-teki
yang coba dipecahkan oleh berjatuhannya daun cemara
juga petikan bunga kamboja
pada pagi yang belum lagi beranjak dewasa

udara dingin saling berpacu
dengan masa lalu
mencoba menumbukkan mata
pada sebuah rencana
dari suluran dahan markisa
terhadap keberadaan beranda yang muram
untuk memagutnya dalam-dalam

rumput yang meninggi
karena terlalu sering disirami matahari
dan hujan yang enggan berhenti
menjadikan halaman sebagai belantara kecil
tempat bermainnya banyak tamsil
tentang perjalanan yang tak kunjung selesai
meski badai telah lama usai

di sini,
di sebuah serambi
tempatku kini menjahit koyakan sepatu
dari robekan-robekan masa lalu
agar aku bisa terus berlari
mengendarai surai-surai mimpi
menuju kehangatan fajar pukul enam
sebelum nanti senja membuatnya tenggelam
dalam diam

Bogor, 15 Juli 2019


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x