Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Acara Membaca Buku

12 Juli 2019   00:33 Diperbarui: 12 Juli 2019   00:37 0 8 4 Mohon Tunggu...
Acara Membaca Buku
pixabay.com

Pertama yang kau lakukan adalah menelusuri rak-rak di almari seperti seorang puteri menyusur jalan setapak di tamansari. Begitu perlahan sampai deretan buku yang hendak kau tuju mengumpat habis-habisan; orang ini berniat baca buku atau sekedar pencitraan di depan tamu yang mengiramu sebagai pelaku rindu?

Tamumu memang agak aneh. Dari dandanannya saja terlihat nyleneh. Tatapannya setajam pagar kawat yang melapisi sekeliling penjara. Seperti siap melukai. Senyumnya setipis cahaya purnama yang mendadak berubah gerhana. Nampak sudah terlukai.

Kau menumpukan siku pada pegangan pintu. Ragu-ragu. Kau memilih sebuah buku yang berisi larik-larik kerinduan. Maksudmu tentu agar tamu itu memandangmu penuh kekaguman. Kau ingin memikatnya agar segera jatuh cinta. Karena kau sendiri sudah nyaris lumpuh pada pandangan pertama.

Tapi tamumu itu benar-benar tak mudah ditaklukkan. Dia hanya melirik sekilas pada judul buku yang kau angsurkan. Sama sekali tidak terlihat tertarik. Matanya hanya tertuju di satu tempat. Keheranan. Ke arah matamu yang nampak begitu kelabakan dengan sorot mata yang terlalu berantakan.

Kau salah tingkah. Kemudian tergesa-gesa mengajak tamumu sama-sama membaca buku yang memang menjadi acara pada hari itu. Kau memberinya buku berjudul Almanak Rindu. Sedangkan kau sendiri mulai menekuni buku berjudul Tak Lekang oleh Waktu.

Kalian lantas tenggelam dalam samudera keheningan yang paling diam. Kau menggali palung pada setiap bab yang mengajakmu menyelaminya hingga dasar, sedangkan tamumu seperti menenangkan diri dari kesakitan atas hatinya yang memar setelah buku yang dibacanya ternyata membuatnya begitu gusar.

Kalian melanjutkan kegiatan membaca buku. Almanak Rindu membawa tamumu ke sebuah situasi yang membuat pikirannya mengeras laksana batu. Rupanya tamumu sangat terganggu dengan deja vu dari kemunculan masa lalu. Sementara kau justru terbawa lamunan Tak Lekang oleh Waktu. Sampai-sampai pipimu yang menganak sungaikan pecahan kaca, terus menerus bercerita tentang betapa dalamnya luka akibat air mata yang bersembilu.

Kau berhenti membaca. Tak sanggup lagi mengunyah luka lebih lama. Apalagi kau belum siap pula membebatnya. Tak ada perban yang cukup lebar untuk menutupi luka. Tak ada bandana yang cukup besar untuk menyembunyikan isi kepala.

Tamumu rupanya juga berhenti membaca. Entah karena bersimpati kepadamu, atau justru sedang berusaha menghindari kembalinya masa lalu yang mengajak bertemu di setiap halaman buku.

Suasana canggung dipecahkan oleh suara keras di almari tempatmu menyimpan buku-buku. Buku-bukumu berjatuhan laksana hujan. Semua kata yang ada di dalamnya ikut berhamburan. Di kolong meja, di bawah jendela, hingga terlempar keluar ruangan. Semua makna otomatis juga saling baku hantam. Masa silam berjibaku dengan kenangan. Dan masa depan saling bersitegang dengan harapan.

Kau panik. Tamumu juga ikut berbuat pelik. Hendak pergi begitu saja tanpa berpamitan. Sementara kau sedang terpaku kebingungan.

Kau hendak mengejar tamumu untuk melanjutkan membaca buku. Tapi tamumu sudah tak mau. Tamumu malah balik mengajakmu untuk menuliskan sesuatu. Apa saja. yang penting bukan tentang cerita yang bercuka. Tamumu ingin berbahagia. Tanpa harus kembali mengenang duka di dahulu kala.

Kau juga. Karena itu kau buru-buru menganggukkan kepala.

Acara membaca buku sekarang berubah menjadi menulis buku. Kau dan tamumu kali ini sama sekali tak ragu-ragu. Untuk akhirnya bersama-sama saling berucap rindu.

Medan, 12 Juli 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x