Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Ketika Sunyi Sampai pada Puncak Arti

16 Juni 2019   08:22 Diperbarui: 16 Juni 2019   08:47 0 11 3 Mohon Tunggu...
Puisi | Ketika Sunyi Sampai pada Puncak Arti
pixabay.com

Bermainlah di sini, bersama anak-anak sungai yang saling berebut berahi dengan hujan pagi. Di pinggiran kampung yang hanya menerima sepi sebagai tamu satu-satunya. Juga persinggahan penghabisan bagi rencana yang tidak mempunyai tujuan akhirnya.

Di sini, di pelaminan tanpa pasangan pengantin, yang hanya diramaikan oleh huru-hara kera saling melempar buah ara, dan gemuruh kabut tanpa suara, pada sebuah ngarai yang memuja dingin sebagai tambatan asmara, hening adalah raja. Tanpa mahkota di kepalanya.

Buku-buku yang dituliskan di sini, adalah pengantar tentang bagaimana cara mencinta, sebaik-baiknya. Bagaimana cara merindu, sehebat-hebatnya. Bagaimana cara menyamak senja, menjadi pembaringan yang hangat dan sempurna.

Datanglah ke sini, kau akan saksikan pematang sawah yang lumpurnya berguguran, membunyikan kecipak air tergenang yang belingsatan, setelah para petani menginjakkan kakinya yang telanjang, menuju pulang.

Di sini, suara adzan berkumandang dengan tenang. Menyusur setiap atap rumah, meniup padam tungku-tungku yang melahirkan banyak abu, membangunkan para penghuninya di amben yang berkeriutan, untuk selanjutnya membimbing mereka bergegas ke padasan.

Di sinilah sunyi memiliki puncak arti. Tanpa basa-basi. Sama sekali.

Kalibaru, 16 Juni 2019