Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Demi Kesempurnaan Peran, Kita Menjadi Tokoh yang Menyedihkan

27 Mei 2019   04:15 Diperbarui: 28 Mei 2019   19:41 0 27 10 Mohon Tunggu...
Puisi | Demi Kesempurnaan Peran, Kita Menjadi Tokoh yang Menyedihkan
Sumber ilustrasi: Pixabay.com/Mysticsartdesign

Entah akan berapa lama kita bisa memutuskan rasa kehilangan itu akan hilang. Ingatan, adalah barang pelik yang sama sekali tak bisa dikekang. Di situ ada ruang-ruang gelap yang muskil diterangi. Sekalipun beberapa diktat filosofi coba dikunyah berulangkali.

Mengenai lupa. Adalah biasa kalau kita selalu berurusan dengannya. Dan akibatnya, kita harus membangun gudang-gudang besar berisi alasan. Tempat kita meletakkan rasa bersalah pada setiap petikan memori yang lekang.

Apabila kita diminta untuk mengurutkan peringkat kehilangan berdasarkan prestasi kita dalam mengenang. Barangkali kita bisa menghitung berapa banyak waktu luang yang kita buang. Demi beberapa macam lamunan tak karuan yang membuat kita menggelinjang jalang. Padahal seharusnya bisa kita gunakan untuk mendulang kenyataan.

Kita menyusahkan diri dengan tidak tidur malam lalu merutuk habis-habisan kedatangan hujan. Kita bilang hujan adalah biang utama dalam membangkitkan kenangan. Sebagian besarnya tentu tentang rasa yang hilang. Dan nyaris semua adalah tentang cinta, kerinduan, dan keinginan pulang.

Selanjutnya malam kita kutuk. Menganggap kegelapan adalah pemegang rahasia yang buruk. Selalu saja berhasil memunculkan ungkapan-ungkapan akan kesepian. Sehingga kemudian kita berulang-ulang mementaskan ratapan.

Beginilah arti sebenarnya dari kasihan. Kita sangat menyukai drama yang berakhir menyenangkan. Tapi kita lupa sedang memerankan diri sebagai tokoh yang menyedihkan.

Bogor, 27 Mei 2019