Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Mengasingkan Diri di Puncak Rasa Sepi

7 Mei 2019   04:25 Diperbarui: 7 Mei 2019   04:35 0 13 2 Mohon Tunggu...
Mengasingkan Diri di Puncak Rasa Sepi
pixabay.com

Kamu berbicara dengan dirimu sendiri di hadapan cermin yang sebelumnya telah kamu tipu. Kamu mengaku sebagai pemburu rindu yang lupa jalan menuju pulang, lantas diam-diam menobatkan diri menjadi lelaki jalang.

Agar semua tetap menjadi misteri, kamu memecahkan cermin terakhir yang ada di muka bumi. supaya tak seorangpun menyadari bahwa kamu adalah pertapa yang kehilangan doa-doanya, pengembara yang kehilangan arah mata anginnya, dan pecinta yang cuma bisa gaduh dengan pikirannya.

Tidak ada seorangpun yang berniat untuk memberitahumu bahwa ini senja terakhir sebelum besok kau mulai bersaing dengan malaikat untuk mendapatkan perhatian dari Yang Tertinggi Sejagat.

Kamu harus bisa mengekang kuda yang tertambat rapuh di benakmu dan seringkali nyaris terlepas karena tali pengikatnya ternyata terbuat dari jerami. Bukan urat-urat besi yang dianyam rapi.

Kamu mesti sangat berhati-hati. Menjaga mata agar tak berapi saat melihat rok terlipat tinggi. Menjaga telinga dari suapan caci-maki atau puja-puji yang biasanya hanyalah basa-basi tak berarti. Menjaga mulut agar tak tergiur untuk membaca puisi tentang hati yang merintih-rintih meminta bunuh diri.

Ini bulan suci. Kamu harus mengasingkan diri di puncak rasa sepi. Supaya paham bagaimana cara mendiamkan pagi, merenangi mimpi, dan menyudahi sunyi.

Kamu, adalah kunang-kunang yang nyaris padam di padang ilalang saat hari masih terang benderang!

Segeralah berubah menjadi elang!

Jakarta, 7 Mei 2019