Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[RTC] Lelaki Lautan

15 Januari 2019   03:13 Diperbarui: 15 Januari 2019   07:32 299 19 9
[RTC] Lelaki Lautan
Sumber: pixabay.com

Rajo mematikan beberapa pelita dan hanya meninggalkan satu yang menyala di hadapannya. Sambil menghela nafas panjang, Rajo melirik anak lelakinya sedang tertidur pulas menunggu tengah malam nanti dibangunkan. Membantunya mengangkat jaring ikan.

Akhir-akhir ini bagan selalu sepi. Setiap kali mengangkat jaring raksasa yang dibentang dan diangkat secara manual ini, hanya sedikit sekali ikan yang tertangkap.

“Mungkin laut sedang berduka. Orang-orang berkapal besar dan canggih dengan mudah memanen ikan berlimpah ruah. Sampai ke anak-anaknya yang masih kecil pun habis terbawa pukat,” Rajo memutar kalimat itu dalam benaknya yang penat.

Pikirannya melayang ke rumah. Di sebuah petak sempit jajaran rumah-rumah nelayan tradisional. Rumah yang setiap harinya menguarkan aroma ikan asin, terasi dan bau laut yang pekat. Rajo menyukainya. Baginya, rumah seperti cangkang kecomang itulah yang menumbuhkan banyak cinta.

Kepada Ningsih. Wanita lulusan perguruan tinggi di kota yang pernah KKN di sini dan jatuh cinta pada desa yang menggugah semua naluri kemanusiaannya. Wanita yang lalu mengabdikan dirinya sebagai guru bagi anak-anak di desa nelayan yang miskin itu. Wanita yang rela meninggalkan semua kemegahan kota dan memutuskan untuk menetap. Wanita yang kini menjadi ibu dari 3 anaknya.  

Rajo tersenyum. Entah keajaiban apa yang membuat Ningsih lantas menerima pinangannya saat itu.

“Apakah purnama di atas samudera mengirimkan pesan kepadamu Ningsih? Sehingga kau tak berpikir panjang untuk menerima lelaki kasar yang hanya bisa berkawan dengan lautan?” Rajo masih terheran-heran meski hatinya girang bukan kepalang.

Rajo ingat betapa Ningsih tersenyum saat itu sambil menjawab lirih,”hati terbuat dari rasa Bang Rajo, bukan dari baja. Kita tak bisa memerintah hati, dialah raja yang memerintah dirinya sendiri.”

Lelaki muda yang tidak sekolah tinggi dan dibesarkan di pesantren, menyerap ilmu-ilmu agama dan sastra dari para gurunya yang mulia, menggumamkan sebuah syair singkat;

Kekasih, aku adalah lelaki lautan
aku meminangmu sekuat angin daratan
aku akan mencintaimu tanpa putus seperti gelombang
aku akan mencarikanmu ikan meski perahuku berlubang
aku hidup untuk mencintaimu, bersama lautan yang juga mencintai keluargaku
aku juga akan mati dalam keadaan mencintaimu, di lautan yang juga mencintaiku

Ningsih terpana. Sama sekali tak menyangka.

----

“Bawakan kami udang ya bang. Besok hari jadi pernikahan kita. Kita selalu merayakannya dengan memasak udang dari bagan,” Ningsih masih sempat mengingatkan Rajo sore sebelum berangkat.

Rajo tersenyum bila ingat pesan itu. Namun segera memutus lamunannya. Anak lelakinya bangun tiba-tiba.

“Ayah, aku merasakan getaran tak biasa!”

Rajo teringat sesuatu. Sudah beberapa hari ini memang ada tanda-tanda alam tak biasa. Rajo bisa merasakan itu sebagai nelayan yang sudah kawakan. Dan juga berdasarkan pengalaman yang dikisahkan secara turun temurun.

Anaknya tadi dalam posisi terbaring di tikar di lantai bagan, sehingga pasti jauh lebih merasakan perubahan apapun dibanding dirinya yang sibuk mengenang masa silam.

“Pergilah ke daratan nak. Temui ibumu. Katakan untuk pergi ke rumah nenek di Bukit Atas. Bawa adik-adikmu. Tunggu ayah di sana.”

Anak lelaki tanggung yang setangguh ayahnya itu mengangguk tidak membantah. Dihidupkannya mesin tempel perahunya dan pergi menjalankan perintah sang ayah.

Bagan mereka memang terletak tidak jauh dari pantai tempat perkampungan mereka berada. Hanya butuh waktu tak lebih dari 20 menit untuk sampai di sana.

----

Ningsih termangu mendengar perkataan si sulung. Wanita ini ragu-ragu. Tapi Ningsih adalah tipe seorang istri yang patuh terhadap perintah suami. Tanpa persiapan yang matang Ningsih membangunkan Mang Otong, tetangga yang punya mobil pick up dan meminta tolong diantar ke rumah mertuanya di Bukit Atas. Sebuah kampung di atas bukit.

Setelah sampai di rumah mertuanya, Ningsih menitipkan ketiga anaknya dan ikut kembali ke bawah bersama Mang Otong.

“Aku harus menunggu Bang Rajo di rumah Mak. Selama pernikahan kami, belum sekalipun aku tidak ada di rumah saat Bang Rajo pulang melaut,” Ningsih menjelaskan kepada mertuanya ketika ditanya kenapa kembali ke rumah.

Belum sampai setengah perjalanan, Mang Otong mendadak mengerem sekuatnya. Mobil berhenti. Namun mobil tidak berdiam. Tetap terguncang-guncang ke kanan kiri. Bumi bergetar hebat. Gempa bumi!

Ningsih menjerit panik. Mereka masih di tengah perbukitan. Desa nelayan ada di bawah sana. Lampu-lampu redup dari perkampungan dan kota kecamatan kecil yang lebih terang sudah terlihat dari sini. Juga lampu sorot mercu suar di kejauhan nampak seperti mata dewa yang berjaga.

Mang Otong tidak berani melanjutkan perjalanan. Situasi masih berbahaya. Takut ada gempa susulan. Selain itu jalanan berkelok dan turun di depan sana belum tentu masih ada. Gempa tadi sangat hebat!

Ningsih dan Mang Otong memutuskan berhenti dan mengawasi situasi sebelum melanjutkan. Keduanya berdiri memandang kota kecil dan perkampungan di bawah sana dengan seksama. Gempa tadi pasti berdampak serius pada bangunan.

Ningsih sangat cemas apakah rumahnya masih ada atau tidak. Ningsih tidak mencemaskan suaminya. Rajo ada di bagan tengah lautan. Gempa tidak akan berpengaruh di sana.

Suara gemuruh tidak biasa terdengar. Ningsih terbelalak matanya saat cahaya lampu berkerlip di perkampungan dan kota kecamatan mendadak lenyap dari pandang matanya. semuanya menggelap seketika. Ningsih menutup mulutnya menahan jeritan. Apa yang terjadi di bawah sana?

Dan jeritan itu akhirnya keluar dari mulut Ningsih. Melengking nyaring di tengah suara gemuruh di bawah. Lampu sorot mercu suar menerangi keadaan. Beberapa lapis gelombang raksasa menyapu bersih pesisir, perkampungan dan kota kecil itu!

Tsunami! Batin Ningsih langsung mengkerut.

Mang Otong yang juga melihat hal yang sama langsung bertindak cepat. Lelaki itu memutar mobilnya dan kembali ke kampung Bukit Atas.

----

Keesokan harinya seluruh penduduk kampung Bukit Atas turun.

Ningsih termangu menyaksikan kampungnya yang porak poranda. Tidak banyak yang tersisa di sana. Puing-puing bangunan berserakan. Jasad-jasad bergeletakan di mana-mana. Jalanan dipenuhi lumpur hitam.

Ningsih melangkah hati-hati di sela puing. Kampungnya rata dengan tanah.

Mata Ningsih bertemu dengan sesuatu yang sangat dikenalnya. Secarik bendera Merah-Putih!

Hati Ningsih tercekat. ini bendera yang dipasang di bagan mereka. Ningsih ingat betul karena bendera itu dijahitnya sendiri. Terdapat beberapa ciri khas di sana yang berbeda dengan bendera milik orang lain. Ningsih setengah berlari menuju sisa-sisa bagan yang terdampar.

Ningsih terduduk sambil sesenggukan. Di atas sisa-sisa bagan, sambil masih mencengkeram keranjang berisi udang, Rajo tertelungkup tak bernyawa.

Jenazah lelaki lautan itu dibawa laut ke hadapan istrinya. Sambil tetap setia membawa janjinya. Sekeranjang udang untuk perayaan hari jadi pernikahan mereka.

Jakarta, 15 Januari 2019

karya ini diikutsertakan dalam rangka mengikuti Event Cerpen RTC Duka Indonesiaku

Ilustrasi: rumpiestheclub@dok
Ilustrasi: rumpiestheclub@dok