Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Patah Hati dalam Menulis Fiksi? Jangan Lagi!

6 Desember 2018   13:33 Diperbarui: 6 Desember 2018   13:40 82 8 5
Patah Hati dalam Menulis Fiksi? Jangan Lagi!
Pixabay


Cermin
Siang hari yang cukup terik. Membuat siapapun untuk bersicepat berteduh. Rata-rata tak suka jika sinar matahari langsung mengetahui isi kepala mereka. Pun demikian saat hujan datang. Sudah dipastikan bahwa orang-orang akan buru-buru menghindarinya. Tak ingin segenap rahasia di kepala terbasuh begitu rupa.

Lalu mereka tak lagi punya rahasia. Sebuah perihal yang sangat menakutkan tentunya. Tidak punya rahasia sama saja dengan telanjang bulat di tengah hujan lebat. Sama sekali tidak ada menariknya. Kecuali kalau pasrah disebut gila.

Dua keadaaan yang akan mematahkan hati kita menjadi dua.

Dua paragraf di atas sebetulnya salah satu upaya saya untuk menarik perhatian. Karena yang akan saya bicarakan di sini cukup riskan. Selain tentu saja bahwa tetap ada hubungan.

Apakah itu?

Lihat bagaimana riskannya judul tulisan ini jika tidak disertai sebuah penarik perhatian. Patah hati! Ya, dua kata yang bisa digolongkan sebagai kata yang dihindari untuk dijalani. Patah hati adalah moncong senjata api yang diarahkan ke kepala kita. Persis di pelipis.

Kita belum mati, tapi rasa-rasanya sudah merasa begitu mati. Sangat mati! ugh!

Cermin yang merefleksikan patah hati saat menulis fiksi adalah saat kita merasa begitu rendah diri setelah membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain. Merasa tak layak bersanding. Merasa terpelanting.

Itu semua adalah kesadaran diri yang begitu amat sangat miring. Ayo cepat bergeming!

Patah Hati? Jangan Lagi!
Masing-masing orang punya kelebihan dan ciri khas pada karya fiksi yang tidak dipunyai oleh orang lain. Meskipun seringkali tidak disadari oleh empunya.

Karena tidak menyadari itulah kemudian timbul perasaan patah hati. Terutama setelah mencoba membandingkan dengan karya orang lain yang dianggap jauh di atas karyanya sendiri.

ini jelas pandangan yang salah! Dalam sebuah karya fiksi tidak ada kriteria wajib yang menyatakan bahwa karyamu harus dikomparasi dengan karya orang lain. Karya itu untuk ditulis, dibaca dan dihayati. Bukan ditulis, dibaca, terus dikomparasi.

Ingat bahwa kehadiran karya hanya karena sebuah gairah yang sukarela. Bukan karena untuk diperbandingkan atau dipertandingkan.

Menulis sebuah puisi bersumber dari hati. Menulis sebuah cerpen karena cetusan ide yang keren. Menulis novel karena keinginan kuat untuk melahirkan karya panjang yang kelak akan menjadi label. Sebuah monumen bagi diri sendiri apabila kelak mati.

Jadi untuk apa pula memutuskan patah hati? Tidak ada gunanya. Itu semua hanya akan menimbulkan kematian pikiran dan keberanian. Lantas membuat ketakutan yang tidak perlu. Berhenti atau vakum berkarya. Alhasil, monumen yang coba dibangun berantakan bahkan sebelum bermula.

Akhirnya
Tinggalkan pikiran yang bukan-bukan dengan menganggap karya kita adalah recehan. Itu namanya bunuh diri yang menyakitkan. Sebuah pembunuhan berencana yang disengaja dengan meracuni otak kita dengan rasa rendah diri yang berlebihan.

Coba bayangkan. Tidak ada gunanya bukan?

Berpijaklah pada satu hal saja. Tuhan memberikan kita khayalan yang berbeda-beda. Dasar utama ramuan kita dalam menulis fiksi. Itu istimewa! Itu sebuah anugerah. Jangan membuat itu semua menjadi onggokan sampah karena menelantarkannya dengan cara berpatah hati karena rendah diri.

Saya tidak sedang membesarkan hati diri sendiri atau anda semua dengan menuliskan ini. Ini benar-benar sebuah kesungguhan yang mesti dibagi. Supaya semakin banyak karya-karya yang dilahirkan. Tanpa harus berpikir tentang patah hati yang justru akan banyak merugikan.

Jadi, jika ini bermanfaat, camkan! Jika tidak, lupakan!

Jakarta, 6 Desember 2018