Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Mati Bahagianya Seekor Anai-anai

11 Oktober 2018   18:17 Diperbarui: 11 Oktober 2018   18:22 486 7 2

Aku paham yang kau maksud dengan mengejar ketetapan. Layaknya sebuah undang-undang, maka akan berlaku jika telah diundangkan, bukan ketika dituliskan, atau sekedar dikatakan akan.

aku sedang meneliti setiap jejak hujan untuk menujumu. Jejak beraroma melati yang hanya menguar saat matahari timbul ketika hujan berhenti. Itu bukan pelangi. Karena jejak pelangi itu maya. Tipuan warna yang mengelabuhi mata untuk percaya.

tentu aku bukanlah sesuatu yang maya. Apalagi jikalau sekedar menjadi penghibur mata. Aku nyata! Lihatlah, aku juga terluka ketika tersandung kubangan tak nampak di hadapan. Sepertinya rata, tapi ternyata tak terduga menyimpan jebakan.

terus terang saja. Aku menunggu pendulum menyentuh angka yang mana. Tepat saat dentangnya berbunyi seperti ribuan lebah sedang menyengat udara, itulah waktu yang pas untuk bergegas melompati sanggurdi kuda, menarik tali kekang sekuatnya, lalu berpacu bersama angin tenggara.

aku sangat ingin menyaksikan pertunjukan. Tentang perjamuan yang diadakan malam secara dadakan. Karena sajian utamanya begitu istimewa; kau dan senja sedang bermain drama. Tentang hikayat robohnya airmata. Dibangkitkan kembali oleh tatapan mata. Atas nama luput, lupa dan cinta.

Entah mana yang lebih piawai, kau yang begitu gemulai atau senja yang memaniskan perangai. Tapi bagiku keduanya sama-sama membadai. Memporak-porandakan hatiku hingga tercerai-berai. Jatuh terkulai ke dalam ngarai. Seperti kisah mati bahagianya seekor anai-anai.

OKI, 11 Oktober 2018