Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Langit yang Terbuat dari Kaca

14 September 2018   19:42 Diperbarui: 14 September 2018   19:57 210 5 1

Melewati gundukan awan rapuh yang sepertinya mau runtuh.  Di ruang tanpa sekat pada langit yang terbuat dari kaca.  Aku melihat keluar jendela.  Siapa tahu aku bisa menemukan kita di sana.  Aku yang merupa pecahan kecil dari kaca sedangkan kau sedang bercermin di bawahnya.

Atau jika kau ingin hal yang berbeda.  Biarlah aku menjadi awan yang luruh, sedangkan kau di bawah sana menengadah cemas sambil mencoba menadah aku yang terjatuh.

Dan aku jatuh tepat di wajahmu.  Mengaliri garis sungai di pipimu.  Menikmati sedu sedan yang menggelombang di dadamu.  Aku rasa aku sedang mencumbumu.

Kau menyecap rasa asin tubuhku yang menyelinap di sela bibir merahmu.  Kau terpana dengan mulut ternganga; ini hujan atau airmata?

Aku hendak berucap.  Tapi aku urungkan niatku untuk menjawab.  Aku yang dijatuhkan oleh langit yang terbuat dari kaca sudah semestinya berahasia.  Hujan dan airmata adalah rahasia terbesar yang harus dijaga.  Jika sampai terbuka, maka tak akan ada lagi misteri mengapa hujan airmata selalu terjadi.  Setiap kali mata disuguhi bukti kehancuran hati.

Aku tak tega.  Sebaiknya aku menguap saja.  Sampai nantinya kau menyadari bahwa aku sebenarnya hujan yang digarami oleh airmata, singgah sejenak di matamu yang berkaca-kaca, sebab kehilangan semua cahaya yang dicecap kembali oleh langit yang terbuat dari kaca.

GA 179, 14 September 2018