Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Hikayat Airmata

7 Juni 2018   00:41 Diperbarui: 8 Juni 2018   07:20 2043 7 2
Puisi | Hikayat Airmata
ilustrasi. (pixabay)

Malam dirajam kelam. Keping-keping kenangan buram berjatuhan. Melumat seluruh syaraf kepala. Dalam kisah yang disebut hikayat berairmata.

Tokoh yang memerankan cerita adalah mata. Sepasang indera yang terbelalak atau terpejam ketika menatap atau melihat. Rinai hujan yang berhamburan di halaman atau cahaya senja yang tumbang begitu gelap merapat.

Perannya sungguhlah dahsyat. Mewakili iblis sekaligus malaikat. Dengki dan tawakkal bergantian mengisi kornea. Ketika lupa dan ingat adalah skenarionya.

Airmata kemudian menjadi tuhan. Tumpuan atas segala hal yang tak berkenan.  Menerima lalu menyalahkan.

Airmata juga menjadi jurang. Atas nama duka yang tak bisa cepat menghilang. Merayapi dinding tebing keteguhan. Untuk kemudian kembali terhempas tunggang langgang.

Malam yang sepi. Setelah semua suara mendadak berhenti. Adalah waktu yang tepat bagi airmata untuk diakhiri.

Pelalawan, 6 Juni 2018