Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Negeri Kecoa

18 Mei 2018   01:37 Diperbarui: 18 Mei 2018   01:34 195 2 0

Malam menyelam begitu dalam di udara yang geram pada

kejadian akhir-akhir ini yang meminggirkan kemanusian hingga nyaris terperosok di selokan

berbau tikus yang saling memakan dan kecoa yang sedang membangun istana di sana


Angin berhenti di satu titik dimana paru-paru dan mulut saling berlomba

lari dari kerusuhan yang diciptakan secara sengaja oleh

orang-orang yang ingin negerinya menjadi negeri kecoa


Cuaca berbalik arah menuju

kekeringan namun dipenuhi genangan dan

hujan berhari-hari tapi menguap begitu saja


Tak ada yang menjadi kabut atau embun

pagi menjadi angka di jarum mati

dikuburkan tanpa upacara sama sekali


Musim berlalu tanpa kesan yang

mendalam bagi petani maupun nelayan

rubuh dan runtuh seperti penanggalan tua yang usang karena usia


Negeri kecoa di zaman yang katanya berperadaban

mulia namun bersarang dimana saja

menunggu waktu mematahkannya menjadi dua


Renta dan mengantri di belakang kematian semesta


Jakarta, 17 Mei 2018