Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Lamunan Panjang Sesuai Bisikan Cuaca

17 April 2018   12:37 Diperbarui: 17 April 2018   12:56 175 2 0

Menuliskan lagi sebuah puisi.  Di sini.  Di sebuah tempat dimana air mengucur menimpa bebatuan.  Memercik ke segala arah.  Membuat basah daun bakung yang menjuntai rendah.  Sudah beberapa jeda mataku menatap dengan pandangan terbata-bata.  Ini semua begitu indah.

Aku teringat kamu.  Waktu itu.  Di pesisir yang porak poranda karena pasirnya dipermainkan lidah angin.  Kemudian tiba-tiba puncak gelombang mendatangi secepat jilatan api pada minyak yang tumpah pada sehamparan ilalang kering.  Menenggelamkan kisah yang coba kita bangun perlahan melalui langkah kecomang.

Kembali lagi.  Di sini.  Di hadapan kolam ikan yang menyajikan riak kecil sewaktu ikannya berusaha melompati sunyi.  Langsung mengalirkan keramaian tak kira-kira gaduhnya di dalam hati.  Karena itu bersuasana sama ketika kau membaca keras-keras puisi yang aku tuliskan kala pertama aku jatuh cinta.  Kepadamu yang belum aku beri nama panggilan saat itu.

Senada dengan bisikan lirih cuaca.  Menggiring sekumpulan mendung berwarna abu-abu menuju tempatku terpaku.  Sepertinya hujan akan ditumpahkan tanpa aba-aba.  Membubarkan lamunan berpanjang-panjang tentang keributan kenangan yang sekali waktu memang harus tiba.  Pada tempat yang sesungguhnya.

Jakarta, 17 April 2018