Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Meja Perjamuan Fiksi

17 April 2018   08:49 Diperbarui: 17 April 2018   09:02 134 4 1

Cukup banyak hidangan disajikan di meja perjamuan fiksi.  Ribuan puisi memedaskan hati.  Biasanya ditujukan pada betapa hambarnya udara pagi setelah diperangkap oleh ketergesaan.  Tanpa sempat lagi mencium keharuman bunga yang mekar di mana-mana.  Sungguh sayang, wanginya bisa menjadi rempah yang sangat menghangatkan.

Ribuan puisi lainnya mengutuk kesewenangan penguasa yang tertidur saat wawancara dengan keringat rakyatnya.  Keringat yang mengalir deras di dalam selokan.  Tak kelihatan.  Kecuali bila nanti empunya keringat bermatian di daerah pinggiran.

Lalu ribuan lagi sisanya berbicara tentang cinta.  Sajian utama yang merupakan nafas dunia. Dari seorang ibu terhadap anak-anaknya.  Dari seorang lelaki kepada wanitanya.  Dari seorang manusia kepada langit dan tanah-tanahnya.

Cerita pendek, novel dan dongeng bergulir tak ada habisnya dalam daftar pergantian menu.  Memilih kapan harus mengkhayal sebagai cinderella atau tiba saatnya menjadi nawangwulan.  Merangkai salju menjadi rantai kebekuan.  Menganyam api menjadi tilam tidur saat mengejar mimpi.

Misteri-misteri mengembarai ketakutan akan kehadiran tiba-tiba makhluk tak kasat mata di dalam cermin saat berkaca.  Menjulurkan tangan berkuku panjang, mencekik kecemasan.  Mendidihkan aura kekhawatiran.  Kemudian tersadarkan.  Dunia ini memang tidak sendirian.

Petuah-petuah pertapa mendapatkan giliran mengajak menikmati kebaikan sebagai bagian dari prasmanan.  Menuju kelezatan dengan cara-cara yang Tuhan ajarkan.  Dimulai semenjak nabi dahulu menaiki ontanya dan memasuki gua dengan laba-laba di dalamnya.

Jakarta, 17 April 2018