Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Malam Beranjak Pulang

4 April 2018   22:22 Diperbarui: 4 April 2018   22:24 299 5 1

1) Malam melata saat umurnya masih sepertiga.  Mengendap-endap di balik rimbun beringin tua.  Entah apa yang dihindarinya.  Mungkin musuh mungkin pula kekasihnya.

Musuhnya adalah bara api yang menyala.  Membakar kebekuan namun melahirkan kekacauan.  Kekasihnya adalah sinar lampu.  Menerangi tempatnya sembunyi namun tak memanasi.

2) Malam tersandung jaring laba-laba.  Terjerat kuat terlipat-lipat.  Laba-labanya berlarian mendekat.  Hanya untuk mendapati malam mengirimkan pekat.

Malam lalu berlari dari sengat yang mengejarnya tanpa aba-aba.  Ketakutan akan bisa melumpuhkan tubuhnya.  Terpaku di situ.  Lalu bagaimana sisa dua pertiga malamnya?

3) Meminta bantuan sisa-sisa cahaya bulan yang tak seberapa.  Menunjukkan jalan seharusnya kemana.  Malam merambat sedikit cepat.  Sudah saatnya mempersilahkan separuh malamnya mengingatkan.

Orang-orang yang pulang kemalaman.  Dari hiruk pikuk jalanan.  Orang-orang yang ingin pulang kepagian.  Demi tetes demi tetes nira tua yang memanaskan tenggorokan.

4) Malam beranjak pulang.  Sudah cukup merangkai cerita panjang.  Ini saatnya sepertiga malamnya mendapatkan cipratan air padasan.  Tubuhnya berpeluh habis-habisan.

Suara pancuran mengucur di beberapa tempat.  Ketika para pecinta malam menadahkan tangan berkhidmat.  Menyesap kerinduan tak pernah tamat.  Kepada Satu-satunya yang bisa mencipta kiamat.

Jakarta, 4 April 2018