Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Hidup Berkali Lipat

14 Januari 2018   18:11 Diperbarui: 14 Januari 2018   18:24 119 0 0

Kau tiba dengan terlambat.  Tapi kau mampu membuat hidupku menjadi berkali lipat.  Menyepuh diam menjadi bara yang enggan padam.  Lalu menyiramkan matahari pada api yang memenuhi hati.

Aku mendatangimu dengan kekuatan air bah.  Dari puncak gunung yang rontok oleh kenangan sekuat gelombang laut selatan.  Kenangan yang tiba-tiba menyapu habis rindu yang membatu.

Kita memulakan sebuah kisah tentang lebah.  Berkeliling mencari manis yang sesungguhnya.  Gula ternyata tidak cukup bagi adukan kopi di pagi hari.  Pahit masih tercekat pada lidah yang kesulitan berkata lupa.  Sementara ludah yang terciprat mirip cuaca yang berkarat.

Setelah hidup ini kau buat serupa perkalian.  Jangan sampai berhenti di sebuah titik yang penuh dengan pertanyaan.  Apalagi jika kau padukan dengan kerusuhan drama yang banyak muncul di kepala.

Ingatlah kepada danau di pinggang Semeru.  Ingatlah kepingan batu bata di Piazza del Roma.  Ingatlah pada harapan yang bergelimpangan dari anak-anak lusuh di perempatan jalan.  Ingatlah pada janji dan sumpah berikut serapah yang menyiangi rumput dan alang-alang di halaman rumah.

Rumah tempat kita berteduh saat menyelamatkan beberapa bait puisi yang kita tulis bersama.

Bogor, 14 Januari 2018