Mohon tunggu...
Milisi Nasional
Milisi Nasional Mohon Tunggu... Freelancer - Buruh Tulis

Baca, Tulis, Hitung

Selanjutnya

Tutup

Politik

Semua Pasti Lemas Bila NU Halalkan NKRI Bersyariah

11 Agustus 2019   21:00 Diperbarui: 11 Agustus 2019   21:26 395
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nasdem memainkan manuever dengan jalan bertemu Anies Baswedan untuk membicarakan kans Pilpres 2014 nanti. Joko Widodo adalah orang yang disentil oleh Nasdem terkait pertemuan itu, pasalnya Nasdem tadinya adalah pendukung Jokowi garis keras, "Jokowi Presidenku, Nasdem Partaiku" begitu ungkap baliho besar yang banyak terpasang diberbagai daerah. 

Namun setelah rekonsiliasi dan diplomasi nasi goreng, presiden Jokowi seoalah tidak lagi jadi pilihan oleh Nasdem, Nasdem sekarang memproyeksikan pilihan politiknya ke Anies Baswedan.  

Nasdem secara instrinsik ingin menyampaikan kepada Jokowi bahwa Nasdem siap pindah dukungan jika Presdiden Jokowi lebih mengutamakan rekonsiliasi dan hasil diplomasi nasi goreng, ketimbang Nasdem yang telah berjuang keras memenangkan Jokowi-Maruf pada Pilpres 2019.

Jalan terjal merapatnya Gerindra ke dalam Pemerintahan Jokowi jelas mendapat berbagai macam tantangan. Bahkan Wapres Jusuf Kalla berkomentar jika Gerindra bersama Prabowo ingin masuk koalisi itu terserah, keputusannya  ada di tangan Jokowi dan Prabowo dan harus dengan seizin partai koalisi. 

"Tentang apakah itu Gerindra masuk koalisi, nanti terserah kepada Pak Jokowi dan Pak Prabowo, juga koalisi pemerintah yang ada. Karena kalau mau kawin kan harus ada persetujuan yang mau kawin dan juga keluarga dekat, ini anggaplah partai itu keluarga dekat. 

Kalau keluarga tidak setuju, susah juga dia kawin kan," ungkap Jusuf kalla di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan (30/7/2019).

Bergabungnya partai Gerindra ke dalam koalisi jelas akan mengundang resistensi dari partai pendukung yang berpotensi jatah menterinya berkurang bahkan tergusur. 

Dan yang mungkin paling tidak diperuntungkan dengan kondisi tersebut adalah PKB dan PPP dua partai yang berbasis dukungan warga Nahdatul Ulama (NU). 

Tidak bisa dipungkiri dukungan warga NU adalah kunci kemenangan Jokowi-Maruf. Kekuaatan NU menjadi kekuatan umat Islam yang begitu besar dalam mendukung pencapresan Jokowi-Maruf. Kekuatan NU jelas jauh lebih unggul, ketimbang dukungan umat Islam yang berafiliasi ke Prabowo-Sandi via PKS. 

PKB dan PPP menjadi partai motor yang menggalang kekuatan basis massa NU untuk merapatkan dukungan pada Jokowi-Maruf, juga menjadi Partai yang menggalang dukungan ulama-ulama Jawa pada Jokowi di 2019. Peran PKB dan PPP jelas besar bagi kemenangan Jokowi, terutama PKB. PKB yang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar memastikan Jokowi mendapat dukungan warga NU secara penuh, juga mempertahankan dukungan Keluarga Wahid (Keluarga Mantan Presiden Gus Dur) pada Joko Widodo.

PKB menjadi partai yang begitu berperan bagi kemenangan Jokowi namun juga menjadi Partai yang paling riskan posisinya ketika Gerindra akhirnya masuk ke kubu Pemerintah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun