Mohon tunggu...
Milchazena
Milchazena Mohon Tunggu... .

Seorang wanita yang sedang belajar menjadi penulis.

Selanjutnya

Tutup

Media

Bicara di Media Sosial Seakan Orangnya Ada di Depan Kita

19 Oktober 2019   05:02 Diperbarui: 19 Oktober 2019   05:11 81 2 1 Mohon Tunggu...

    Pernahkah terpikirkan apa jadinya hidup tanpa media sosial? Sejatinya, hidup kita akan baik-baik saja. Sebagai generasi Millenial, saya sempat merasakan bertumbuh tanpa kehadiran media sosial. Interaksi secara langsung dan personal dengan lingkungan sekitar mengambil mayoritas dari interaksi sosial saya pada saat itu. Saat pertama kali menggunakan ponsel pun, fitur yang digunakan hanyalah telepon dan SMS. Keduanya sekedar menggantikan interaksi sosial dalam batas yang wajar (pada zamannya, layanan telepon dan SMS berbiaya cukup mahal).

     Perkembangan internet, ponsel pintar, serta munculnya media sosial tak diragukan telah mengubah cara kita berkomunikasi dan berinteraksi. Mudahnya meninggalkan komentar, cuitan, ataupun sekedar klik tombol 'like' dapat dilakukan di mana pun, kapan pun, bahkan tanpa harus mengenal orang yang kita tinggalkan pesan. Saking mudahnya, hal ini menimbulkan rasa nyaman yang mengisolasi. Seolah-olah kita berlindung di dalam gelembung transparan. Kita dapat menyaksikan hal-hal yang terjadi di luar gelembung, namun hal-hal tersebut tidak mampu menyentuh diri kita secara langsung. Kita dapat berlindung di balik akun media sosial, menjelajah dunia maya yang luas seakan tanpa risiko. Kita dapat mengatakan apapun yang kita suka, yang belum tentu mampu kita ungkapkan di dunia nyata.

     Seorang kawan saya merupakan figur publik yang memiliki cukup banyak pengikut di media sosial. Suatu hari, dalam konteks pekerjaan, ia mengunggah sebuah foto dirinya mengenakan pakaian muslimah dengan secarik selendang membalut kepalanya, menyisakan sebagian rambutnya yang terlihat. Menurut saya tidak ada yang salah dengan foto ini, toh memang sehari-harinya kawan saya ini tidak mengenakan jilbab. Dari banyaknya komentar positif dan likes dari unggahan tersebut, terselip sebuah komentar pedas yang menyampaikan nyinyiran bahwa jika seseorang berpakaian muslimah seharusnya tidak ada rambut yang terlihat; bahwa kawan saya tidak berpakaian sepantasnya. Kata-kata yang digunakan pun tidak sopan. Usut punya usut, komentar tersebut datang dari sebuah akun yang anonim, bukan datang dari orang yang secara pribadi dikenal oleh kawan saya. Kawan saya memang cukup bijak dalam menyikapi hater tersebut. Ia menuturkan bahwa memang begitu kuatnya terpaan pesan negatif di media sosial, hingga tidak sedikit orang-orang yang sampai mengambil nyawanya sendiri karena tidak tahan dengan cyberbullying, yang dilakukan oleh orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya. Begitu mudahnya mengetik dan menekan tombol unggah, tanpa perlu bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.

     Begitu nyaman dan mudahnya kita tinggal dalam gelembung transparan, seolah bersembunyi di balik keanoniman media sosial. Namun, apapun yang kita lakukan, termasuk di dunia maya, sejatinya membentuk kualitas dan jati diri kita. Si Fulan yang santun tutur cakapnya, berarti santun pula di media sosial. Si Fulanah yang menginspirasi orang-orang sekitarnya, tidak akan meninggalkan komentar yang menjatuhkan orang lain di media sosial. Memang, godaan untuk meninggalkan komentar pedas ini cukup besar, terlebih karena banyaknya orang-orang yang melakukan hal serupa. Hal ini sama saja dengan pengendara motor yang melanggar lalu lintas dengan menerobos jalur busway. Pelanggaran lalu lintas ini menjadi lumrah karena toh banyak orang lain yang melakukannya, kan? Bagaimanapun, hal yang baik adalah baik, dan yang buruk adalah tetap buruk. Berkata kasar dan 'pedas', baik dilakukan secara langsung maupun dari balik gelembung sosial media, adalah tetap perbuatan tercela yang menurunkan kualitas diri kita.

     Untuk terus menjaga kualitas diri sebagai pribadi yang santun dan elegan, bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial. Jadikan media sosial sebagai salah satu, dan bukan satu-satunya, alat berkomunikasi. Pecahkan gelembung transparan itu dengan menggunakan lebih banyak saluran komunikasi. Bertemu dengan teman-teman lama, bergabung dengan komunitas, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga. Saat merasa ingin meninggalkan komentar di sosial media, berhenti sejenak untuk berpikir. Apakah komentar tersebut adalah komentar yang akan saya utarakan secara langsung jika berhadapan dengan orang ini? Beranikah saya mengucapkannya dengan mulut dan suara saya sendiri di hadapan orang banyak? Apakah dampak komentar saya ini bagi orang tersebut, dan juga orang-orang lain yang membacanya? Apakah saya memang benar-benar mengenal orang ini di dunia nyata, ataukah saya hanya membuat asumsi-asumsi tentang dirinya?

     Ketiklah pesan atau komentar tersebut. Namun, sebelum benar-benar mengunggahnya, berdirilah sejenak di depan cermin dan bacalah pesan tersebut keras-keras. Apakah itu memang hal yang akan Anda ucapkan di dunia nyata? Berkaca sekali lagi, pastikan bahwa pesan tersebut mampu menggambarkan karakteristik dan kualitas diri Anda yang sebenarnya. Salah-salah, Anda malah akan terlihat kurang berpendidikan dan berpribadi tidak elegan.

     Media sosial bukanlah pusat dari dunia kita, seharusnya bukanlah hal yang menurunkan kualitas diri kita. Pecahkan gelembung transparan itu, agar dapat merasakan udara segar dan sinar matahari hangat di baliknya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x