Mohon tunggu...
Mida Yoshi
Mida Yoshi Mohon Tunggu... D'mee

Be the best yourself

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku Bukan Pelakor

21 September 2019   05:45 Diperbarui: 21 September 2019   05:50 0 4 2 Mohon Tunggu...

Pagi itu suasana terasa amat dingin, angin bertiup dengan kencangnya yang membuat badanku menggigil. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Kutarik kembali selimut yang ternyata masih terlipat rapi di ujung kakiku. Oh ternyata aku tertidur semalam itu tak terasa setelah menerima telepon dari kekasihku. 

Ah jadi teringat pada kekasihku yang mungkin pada saat itu sedang dipeluk atau memeluk istrinya. Oh tidak pikiran itu terus menggelayut di otakku seakan tak akan sirna dari hari-hariku. Mungkin orang akan berpikir tentang kebodohanku yang telah berani mencintai seorang lelaki yang telah beristri. Entahlah akupun tak pernah tahu mengapa aku memiliki perasaan lebih terhadapnya.

Mataku tak juga mau terpejam meskipun sesungguhnya masih dalam kantuk yang kurasakan. Bayang-bayang akan sosok lelaki yang mengisi hariku mulai mengusik pikiranku kembali. Sosok yang kurindukan selama ini yang mampu meluluhkan hati yang saat itu terluka oleh orang dari masa laluku. Pelampiasankah? Dengan tegas kukatakan..oh tidak! Karena aku menyayanginya tulus dan begitupun dengan dirinya meskipun aku tahu disisi hatinya yang lain iapun menyayangi perempuan lain yang telah hidup bersamanya selama sepuluh tahun ini. 

Kuambil ponselku yang tergeletak di meja samping tempat tidurku. Ku buka satu persatu percakapanku dengannya. Membacanya membuat hatiku berbunga-bunga, tersenyum sendiri kadang sampai menangis saat kami sama-sama menumpahkan isi hatinya. 

Sudah dua hari ini dia tak menghubungiku sejak percakapan mesraku dengannya kepergok oleh istrinya. Dia menjadi diam dan berubah.

"Aku minta maaf karena keadaanku yang seperti ini. Mungkin akan sulit bagi kita berkomunikasi lagi. Tapi aku akan selalu berusaha menghubungimu saat keadaannya mulai aman." Tuturnya saat itu.

Aku tak mampu berkata-kata sementara pikiranku mulai kalut dibuatnya. Ketakutanku akan kehilangannya mulai menghantui setiap malamku. Hingga tak sadar sering menangis saat melihat semua kenanganku bersamanya.

"Haruskah aku pergi, sayang?" Tanyaku 

"Kamu mau kemana?" 

"Aku harus pergi, sementara kamu tak bisa kehilangan dia dan aku tak mampu menggantikan dia juga bagimu. Aku rela jika memang kepergianku akan membuatmu bahagia,"ujarku menahan tangis

"Kamu jangan pergi," rengeknya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x