Mohon tunggu...
Yatmiko
Yatmiko Mohon Tunggu...

Aku anarkis!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Partai Golkar Merapat ke Gerindra?

19 Mei 2014   23:44 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:21 205 2 2 Mohon Tunggu...

Banyak berita beredar bahwa Partai Golkar  tidak mendapatkan rekan koalisi sehingga tidak dapat mengusung ARB sebagai capres. Sebelumnya ada peluang untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat, namun pada Rapimnas Partai Demokrat kemarin, terlihat bahwa Partai Demokrat lebih memilih untuk menjadi pihak netral dan menjadi oposisi. Ditambah lagi dengan keputusan PDIP yang memilih Jusuf Kalla (JK) sebagai cawapres dari Jokowi untuk Pilpres mendatang tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Partai Golkar tempat JK bernaung.

Oleh sebab itu, Partai Golkar harus dengan cepat menentukan langkah politik dalam menghadapi Pilpres mendatang, berita santer terdengar bahwa Partai Golkar akan merapat ke Gerindra untuk mendukung Prabowo-Hatta sebagai capres-cawapres dari Gerindra. Sangat disayangkan memang apabila hal tersebut terjadi dikarenakan ARB harus merelakan posisinya sebagai capres Partai Golkar dan memilih untuk menjadi pendukung capres dari Gerindra.

Namun apabila hal tersebut benar terjadi, maka hal tersebut sangat menguntungkan Gerindra. Mengapa demikian? Karena posisi mereka di parlemen nantinya akan sangat kuat, koalisi dari Gerindra akan berjumlah 292 kursi (dengan rincian, Partai Golkar: 91 kursi, Gerindra: 73, PAN: 49, PKS: 40, dan PPP: 39) dibandingkan dengan koalisi PDIP yang hanya berjumlah 208 kursi (dengan rincian, PDIP: 109 kursi, Nasdem: 35, PKB: 47, dan Hanura: 17). Sedangkan untuk pihak Partai Demokrat mendapatkan 61 kursi, yang pasti akan menjadi pihak oposisi nantinya dipemerintahan. Apabila Prabowo-Hatta nantinya menang pada pilpres mendatang, maka koalisi PDIP walaupun sudah bergabung bersama Partai Demokrat sebagai pihak oposisi tidak dapat menandingi koalisi Gerindra karena masih berjumlah 269 kursi.

Sebelumnya pun terdapat pemberitaan bahwa ARB yang akan menentukan pemenang Pilpres nanti, saya rasa hal tersebut benar adanya, dikarenakan walaupun elektabilitas ARB sering kali dikatakan rendah, namun saya melihat suara Partai Golkar adalah suara yang loyalis, jadi sangat memungkinkan kalau koalisi Partai Golkar dengan Gerindra akan sangat menguntungkan Gerindra dalam menyokong Prabowo dan Hatta sebagai capres dan cawapres dari koalisi Gerindra.

Elektabilitas ARB yang seringkali dikatakan rendah oleh media-media nasional pun tidak menjadi jaminan apabila hal tersebut tidak membantu Prabowo dalam memenangkan Pilpres nanti. Namun saya melihat bahwa hal tersebut justru akan menambah kekuatan bagi Prabowo dan Hatta untuk memenangkan Pilpres nantinya. Saya pun salut terhadap ARB yang dapat menurunkan ego pribadinya untuk tidak maju sebagai capres ataupun cawapres pada Pilpres kali ini demi kebaikan Bangsa Indonesia nantinya.

Melihat hal ini, saya menjadi teringat dengan sebuah kisah fiksi sejarah dari negeri Tiongkok mengenai perang tiga negara atau yang lebih dikenal sebagai Romance of The Three Kingdom. Cerita tersebut pasti sudah sangat familiar dengan kita, dimana terjadi pertempuran tiga negara antara negara Wei, Shu dan Wu. Banyak dari kita pasti juga sudah menyaksikan film Red Cliff yang bercerita mengenai Liu Bei dari Dinasti Shu, yang dibantu oleh Zhuge Liang, Guan Yu, Zhang Fei dan Zhao Yun, yang bekerja sama dengan Sun Quan dari Dinasti Wu untuk mengalahkan Cao Cao dari Dinasti Wei pada saat peperangan di Tiongkok Selatan. Singkat cerita, kerjasama antara Liu Bei dan Sun Quan akhirnya berhasil mengusir Cao Cao dari Tiongkok Selatan.

Apabila boleh saya ibaratkan, ARB sebagai Liu Bei dari Dinasti Shu, Prabowo sebagai Sun Quan dari Dinasti Wu dan Jokowi sebagai Cao Cao dari Dinasti Wei. Mengapa saya mengibaratkan demikian? Karena saya melihat beberapa kesamaan pada karakter mereka, ARB seorang negarawan yang baik yang tidak malu untuk saling bekerja sama walalupun memiliki peluang yang sama dengan Prabowo dan dengan Partai Golkar mempunyai kader-kader yang berkualitas, Prabowo dengan Gerindra-nya mempunyai potensi tersembuyi yang masih butuh dukungan dari pihak lain untuk memaksimalkan potensinya, dan Jokowi bersama PDIP yang sudah kuat namun terlihat sombong dan arogan dikarenakan merasa dirinya yang paling kuat dalam menghadapi Pilpres mendatang.

Saya tidak menyangka bahwa cerita fiksi sejarah tersebut mirip sekali dengan apa yang terjadi pada perpolitikan kita sekarang ini.  Tiga Bakal Calon Presiden dominan dari tiga partai yang berbeda, dan dua diantaranya saling bekerja sama untuk menggabungkan kekuatan.

Menarik untuk kita lihat akan menjadi seperti apa nantinya Pilpres yang akan dilakukan oleh bangsa Indonesia, apakah Jokowi benar menjadi Cao Cao pada cerita tersebut atau malah dapat membalikan keadaan.

VIDEO PILIHAN