Politik

Indonesia Pasca Pemilu 2019

12 Mei 2019   18:13 Diperbarui: 12 Mei 2019   18:38 204 0 1

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Tiga tahun terakhir ini, negara kita Indonesia menyelenggarakan runtutan pesta demokrasi dalam berbagai tingkat, mulai dari kota, kabupaten, dan provinsi pada tahun 2017 dan 2018, serta pemilu legislatif dan pemilu presiden pada tahun 2019. Pada saat yang bersamaan pula, dapat dirasakan suhu politik yang memanas, dan munculnya konflik di berbagai lapisan masyarakat. 

Macam-macam strategi antara lain populisme, politik identitas, dan sektarianisme oleh para elite partai politik demi mencapai kemenangan dalam berbagai tingkat pemilu tersebut, dengan saluran penyampaiannya lewat media massa dan media sosial, baik dalam bentuk berita valid maupun hoax dan provokasi membuat kemanusiaan yang ada di masyarakat kita mulai luntur karena banyak yang hanya menelan narasi-narasi politik memecah belah antargolongan masyarakat secara mentah.

 Narasi-narasi yang memecah belah ini pun sering dilakukan sehingga berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan antar kelas maupun antargolongan. Perubahan dalam masyarakat memang terjadi secara terus-menerus, dan selalu terjadi konflik namun elemen-elemen sosial yang ada dapat mempengaruhi bagaimana perubahan yang terjadi, apakah akan mengarah ke disintegrasi atau hanya perubahan biasa saja (Dahrendorf, 1959). Tentu saja, segala sesuatu yang mengarah ke disintegrasi nasional harus dicegah.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kondisi masyarakat pasca pemilu tahun 2019?
  2. Hal apa yang menyebabkan terjadinya kondisi tersebut di masyarakat?
  3. Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi dampak negatif kondisi tersebut?

3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui kondisi masyarakat pasca pemilu tahun 2019.
  2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kondisi masyarakat tertentu pasca pemilu pada tahun 2019.
  3. Untuk mengetahui cara mencegah dan menanggulangi dampak negatif dari kondisi masyarakat tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Kondisi Masyarakat Pasca Pemilu 2019

Dari berbagai berita dari sumber terpercaya seperti surat kabar, televisi, dan situs online yang terdaftar resmi di Dewan Pers, dapat dilihat bahwa bibit-bibit perpecahan di masyarakat akibat pemilu dan pilkada, selama lima tahun terakhir ini sudah mulai muncul. Mengutip berita dari BBC News Indonesia, tanggal 26 April 2019 dengan judul "Politik identitas: Pilpres 2019 ungkap potensi keretakan sosial di masyarakat", perpecahan di masyarakat sangat terlihat dan dirasakan oleh anggota masyarakat. 

Dalam berita tersebut, masyarakat yang diwawancarai menceritakan pengalamannya akan akibat dari panasnya kontestasi politik dalam pilkada dan pemilu terhadap kehidupan sosial mereka. Salah satu warga yang diwawancarai adalah warga Jakarta Selatan, Nursyamsiah. Ia menuturkan bahwa ia pernah mendapatkan penghakiman secara kasar dan juga kecaman serta sebutan "kafir" dari teman dan keluarganya hanya karena berbeda pilihan capres. 

Warga Surabaya bernama Zabidi juga menuturkan pengalamannya bahwa terjadi saling mengumpat di kalangan keluarga besarnya di Madura hanya karena perbedaan pilihan capres. Sedangkan Asro, warga asal Padang Panjang, Sumatra Barat mendapatkan hujatan dari teman-temannya, dan bahkan tokoh intelektual dan tokoh agama karena ia mengeluarkan opini di media sosial bahwa tidak perlu menjelek-jelekkan capres dan cawapres dari kubu yang berseberangan dengan yang didukung.

Berdasarkan hasil survei lembaga survei Polmark pasca Pilkada DKI Jakarta tahun 2018, diketahui terhdapay 5.7% responden yang mengatakan bahwa ada kerusakan hubungan pertemanan pasca Pilkada, meningkat dibandingkan pada survei pasca Pilpres 2014 dimana terdapat 4.3% responden yang mengatakan bahwa ada rusaknya hubungan pertemanan. Meskipun angkanya belum terlihat signifikan, namun hal ini perlu diwaspadai karena terjadi peningkatan sehingga berpotensi menyebabkan dampak yang jauh lebih besar kedepannya.

Dari pengamatan langsung yang dilakukan oleh media-media terpercaya, riset dari lembaga survei, serta pengalaman penulis dalam bermedia sosial, dapat diketahui bahwa pemilu ini telah memberikan banyak dampak negatif terhadap kondisi masyarakat. Mengkafirkan, mengumpat, dan menghakimi satu sama lain, menunjukkan bahwa dampak yang berbahaya dari pemilu ini yaitu lunturnya rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh sebagian anggota masyarakat. Bahkan teman dan keluarga sendiri pun tidak dianggap sebagai sesama manusia hanya karena mendukung capres yang berbeda.  Kondisi ini sangat berbahaya bagi perkembangan bangsa Indonesia kedepannya karena beresiko menyebabkan suatu disintegrasi nasional.

2. Penyebab Kondisi Masyarakat Terpecah Pasca Pemilu 2019

Nursyamsiah, warga Jakarta Selatan yang diwawancarai dalam berita BBC News Indonesia mengatakan bahwa Ia sering sekali mendengar narasi bahwa jika memilih capres A, maka akan masuk surga, sebaliknya, bila memlih capres B akan masuk neraka. Narasi ini sering dipaparkan oleh tokoh-tokoh tertentu dan menyebar secara intensif di berbagai kalangan masyarakat, padahal kebenarannya tentu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bahayanya, opini dan pernyataan-pernyataan tidak berdasar yang dapat digolongkan sebagai hoax atau fitnah dan cenderung bersifat provokatif ini menjadi dipercaya oleh banyak anggota masyarakat karena penyebarannya yang intensif dan juga karena banyak anggota masyarakat kita yang belum dapat berpikir rasional, sehingga mereka rentan menjadi korban kebohongan-kebohongan tersebut. Karena cenderung provokatif, maka pemirsa dan pendengar berita bohong dan pernyataan ini pun juga cenderung menjadi bersifat lebih agresif dan fanatik dalam mendukung pihaknya, dan lebih ekstrim dalam menolak pihak yang berseberangan dengannya. Bahkan, tidak jarang ada warga yang berurusan dengan hukum karena berita dan pernyataan bohong tersebut.

Joseph Goebbels, seorang yang pada saat Perang Dunia II menjabat sebagai menteri propaganda Nazi, mengatakan bahwa sebuah kebohongan yang dinyatakan secara berulang-ulang akan dipercaya sebagai suatu kebenaran. Ini merupakan pernyataan yang menggambarkan penyebab maraknya keributan dan perpecahan di masyarakat, karena penyampaian informasi bohong seputar pemilu secara terus menerus sehingga dipercaya dan menyebabkan fanatisme dan ekstremisme yang memecah belah antar anggota masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2