Mohon tunggu...
mijel
mijel Mohon Tunggu... Masih dapat berubah

Produksi Multimedia 2020

Selanjutnya

Tutup

Film

Paradigma Fenomenologi Film "Imperfect" (2019)

24 September 2020   16:56 Diperbarui: 24 September 2020   17:05 86 1 0 Mohon Tunggu...

Film Imperfect (2019) disutradarai oleh Ernest Prakasa yang diangkat dari novel karya istrinya, Meira Anastasia. Film ini mengangkat isu yang sering terjadi di lingkungan masyarakat. Mengangkat isu Body Shaming membuat film ini menjadi topik perbincangan yang tidak jarang kita dengar.

Berada di lingkungan yang kurang mendukung memang terkadang sangatlah sulit, itulah yang dialami oleh Jessica Mila yang berperan sebagai Rara dalam film ini. Memiliki ibu yang pernah menjajaki dunia model dan adik kandung yang bertubuh mirip dengan ibunya membuat Rara sering disinggung mengenai bentuk tubuh fisik. 

Memiliki pasangan yang menerima Rara apa adanya, bahkan jatuh cinta dengan Rara karna inner beuty memunculkan harapan baru untuk meneruskan semangat hidup Rara. selain itu, Rara juga tersadar bahwa banyak anak-anak bahkan orang tua anak yang sangat menaruh harapan padanya karna dedikasinya untuk memajukan pendidikan masyarakat ekonomi rendah. 

Membicarakan mengenai isu yang mayoritas masyarakat pernah mengalaminya sangatlah menarik. Permasalahan body shaming atau mempermalukan bentuk tubuh bukan lagi menjadi hal baru dan tabu di Indonesia. Body shaming terdiri dari dua suku kata yang terdiri dari body dan shaming. Body dalam Bahasa Indonesia artinya tubuh dan shaming artinya mempermalukan.

Body shaming adalah istilah yang merujuk kepada kegiatan mengkritik dan mengomentari secara negatif terhadap fisik atau tubuh orang lain atau tindakan mengejek / menghina dengan mengomentari fisik (bentuk tubuh maupun ukuran tubuh) dan penampilan seseorang. Body shaming ini selain dijumpai didunia nyata kerap kali juga dijumpai pada dunia maya seperti media sosial Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya.

Saya pernah mengalami situasi ini bahkan hingga dikucilkan bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Bahasa halusnya mungkin bisa disebut DIPANDANG SEBELAH MATA namun yang objek rasakan lebih dari sebuah kata. 

Saat saya mengalami situasi ini, saya belum paham mengenai Body Shaming bahkan saya tidak tahu apa yang seharusnya dan bisa saya katakan atau perbuat untuk mereka. Mereka terlihat sangat kuat entah karna apa namun satu hal yang saya pahami saat berada di situasi itu adalah saya memang di takdirkan untuk mendapatkan cemooh. 

Merefleksikan setiap hari kekurangan diri dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi pada diri saya setiap malam adalah hal yang paling saya nikmati. 

Keinginan untuk berubah sangat terbayang setiap detik bahkan ketika berpapasan dengan orang-orang yang masuk kategori cantik di Indonesia. Untuk hal ini, walaupun banyak yang bersuara bahwa cantik tidak harus dari fisik namun di kehidupan nyata hal tersebut masih ada dan dilakoni oleh pihak-pihak yang punya kepentingan besar. 

Bersyukur rasanya bisa melewati masa-masa tersebut hingga saat ini. Mengetahui ada istilah body shaming dan larangan serta per-undang-undangan mengenai isu ini menimbulkan keberanian dan kepercayaan diri yang lebih akan diri saya. Saya bahkan ingin menjadi orang yang sehat dan memiliki citra diri sport women. 

Ketika menonton film Imperfect (2019) saya merasa menyaksikan cerita kehidupan saya kembali yang benar-benar terjadi. Saya rasa film ini disajikan untuk audience bahwa ada fenomenologi seperti ini di masyarakat. Bahasa tubuh dan setiap adegan membuat perasaan saya tersentuh karna pernah ada di posisi tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x