Hijau

Melihat Dinamika Mangrove Muara Porong

10 Juni 2017   13:49 Diperbarui: 10 Juni 2017   13:52 57 0 0
Melihat Dinamika Mangrove Muara Porong
MAPS

Mangrove merupakan tumbuhan yang banyak hidup di sekitar pantai, berdekatan dengan muara sungai. Mangrove hidup dengan dipengaruhi pasang surut air laut dan perairan yang payau. Tumbuhan mangrove memiliki banyak fungsi dan manfaat, diantaranya tempat pemijahan, mencegah abrasi dan intrusi air laut, layaknya hutan tropis mangrove juga sebagai simpanan karbon, mengurangi dampak tsunami, serta sebagai ekosistem berbagai organisme.

Salah satu lokasi keberadaan mangrove di Daerah Sidoarjo adalah muara Sungai Porong. Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat MSS 1972, citra Landsat7 ETM tahun 2000, serta citra Landsat8 OLI 2014, diketahui bahwa mangrove di sekitar muara Sungai Porong memanjang hingga pantai disekitarnya mengalami dinamika/perubahan. Obyek berwarna merah pada citra merupakan kenampakan vegetasi dari band inframerah yang menunjukkan sebaran mangrove. 

Sementara obyek berwarna hijau/biru gelap dan berbentuk relatif persegi di pantai Sidoarjo merupakan kenampakan obyek tambak. Berdasarkan citra, dapat diketahui bahwa pada tahun 1972 keberadaan mangrove masih sangat luas, terutama pada muara sungainya. Kemudian, seiring berjalannya waktu, banyak terjadi alih fungsi lahan yang semula mangrove berubah menjadi area tambak (citra tahun 2000). Selanjutnya, 14 tahun kemudian, yaitu berdasarkan citra tahun 2014 diketahui bahwa luasan mangrove kembali bertambah. Hal ini dimungkinkan karena adanya pertambahan substrat dari sedimentasi lumpur Porong yang dialirkan lewat sungai menuju muara.

Mangrove mengalami pengurangan luas dari 1972-2000. Kemudian  mengalami pertambahan luas di tahun 2014, sejak adanya sedimentasi dari lumpur Porong tahun 2006 (Fitriani, 2014). Perkembangan sedimen di wilayah kepesisiran Sidoarjo megalami peningkatan  signifikan dari tahun 2002 hingga 2013. Perkembangan luas tahun 2002-2009 sebesar 1,07 km2. Perkembangan cukup Intensif setelah peristiwa semburan lumpur tahun 2006.  Perkembangan luas tahun 2009-2013 mengalami peningkatan sebesar 11,24 km2 (Fitriani, 2014).

Pola sedimentasi yang terbentuk turut mempengaruhi pola persebaran sedimen yang menjadi habitat tanaman mangrove. Penambahan material sedimentasi menambah luas hidup vegetasi mangrove. Vegetasi mangrove yang ditemukan di wilayah kepesisiran sidoarjo sebagian besar pada bagian utara adalah Avicennia marina, bagian tengah adalah Avicennia eucalyptifolia dan Avicennia alba, serta bagian selatan adalah Avicennia marina (Fitriani, 2014).

Khusus untuk hutan mangrove di pesisir pantai Sidoarjo, Razak (2011) menyatakan bahwa terdapat kurang lebih 15 spesies burung yang menjadikan hutan mangrove di kawasan tersebut sebagai habitat (dalam Hidayah dkk, 2013). Pada tahun 2013, penelitian tentang habitat burung di area antara Sungai Ketingan dan Sungai Porong, digunakan sebagai habitat burung pantai, ditemukan ada 27 jenis (Irawanto, 2013). Berdasarkan kedua peneliatian tersebut diketahui bahwa peningkatan luasan mangrove juga mendukung adanya peningkatan jumlah organisme, khususnya spesies burung yang tinggal semakin banyak.

Referensi:

Fitriani, Ajeng Kumala Nur. 2014. Kajian Karakteristik Sedimen Di Muara Sungai Porong, Sidoarjo Terhadap Perkembangan Ekosistem Mangrove. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Hidayah, Zainul. Dwi Budi Wiyanto. 2013. Analisa Temporal Perubahan Luas Hutan Mangrove Di Kabupaten Sidoarjo Dengan Memanfaatkan Data Citra Satelit. Jurnal Bumi Lestari.Vol. 13 No.2 318-326. Denpasar: PPLH Universitas Udayana.

Irawanto, Rony. 2013. Peran Nipah Sebagai Vegetasi Kunci, Habitat Burung, dan Penyebarannya di Sungai Ketingan, Sidoarjo. Proceeding. Semnas X Pendidikan Biologi FIKIP UNS.