Mohon tunggu...
Miftahul Afdal
Miftahul Afdal Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa

Menjadi seperti mata air yang mengalir menghidupkan tumbuhan disekitarnya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Putus Rantai Stigma Corona: Jauhi Penyakitnya Bukan Orangnya

23 Mei 2020   12:10 Diperbarui: 23 Mei 2020   12:09 192
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Berkaitan dengan hubungan sosial, Karl Marx menyatakan bahwa manusia, selain terasing dengan hal-hal yang bersangkut-paut dengan pekerjaannya juga terasing dengan kehidupan sosialnya.

Keterasingan bukan saja diakibatkan eksploitasi kapitalisme terhadap buruh, namun juga diakibatkan oleh wabah virus corona yang berdampak kepada kaum buruh yang menciptakan stratifikasi sosial semakin melebar. Yang kaya akan bertahan yang miskin akan melarat.

Dimana keberadaan kaum pekerja berpotensi mendapatkan PHK, bahkan ada pula yang telah di PHK, akibatnya mereka kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian, terlebih lagi akibat dari virus corona stigmatisasi terbangun dalam pikiran masyarakat bahwa orang yang bisa saja terindikasi harus dijauhi agar tidak terdampak virus corona.

Situasi virus corona membawa perubahan sosial

Situasi virus corona dengan berbagai kebijakan dari Pemerintah membawa pengaruh situasi dan kondisi psikologi dan sosiologi masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah korban yang positif terjangkit virus corona. Anne Kerr dalam bukunya yang berjudul “Genetics and Society: A Sociology of Disease” menjelaskan bahwa fenomena wabah penyakit di masyarakat dapat membuat masyarakat mengalami kecemasan (anxiety) dan ketakutan (fear).(Tempo.co)

Berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh virus corona merubah perilaku sosial, hal itu sering dialami oleh mereka tenaga medis, pasien positif corona, orang yang sepulang dari daerah terindikasi (masuk masa karantina). Sebab, ditakuti mereka membawa virus corona dan dapat menyangkiti orang lain.

Sebagai contoh kasus, dibeberapa tempat banyak yang menolak penguburan pasien positif virus corona di daerah mereka, bahkan beberapa perawat sempat diusir dari kos-kosan karena dianggap membawa virus.

Salah satu kasus, seorang lelaki inisal GR yang baru pulang dari Kota Palu dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri. Namun, hanya berselang 2 hari dari melakukan karantina mandiri, ketika ibunya ingin membeli sesuatu di salah satu tokoh tidak dilayani oleh penjual, sebab dianggap terjangkit virus dari anaknya yang sepulang dari daerah terindikasi tersebut.

Sehingga, ia mengeluhkan perlakuan dirinya dan keluarga oleh masyarakat disekitarnya. Bagaimana dia bisa makan jika semua orang menjauhi dirinya dan keluarga.

Manusia butuh makan untuk hidup. Seharusnya, jika ada pemberlakuan khusus kepada setiap orang yang baru saja datang dari daerah terindikasi dan melakukan karantina. Apabila orang tersebut dilarang untuk keluar rumah, maka perlu ada jaminan pelayanan agar dirinya tetap menjaga kondisi tubuhnya.

Jika saja perlakuan ini terus berlarut, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa mereka yang mendapatkan stigmatisasi bukan mati akibat virus corona tapi akibat kelaparan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun