Pemerintahan

Sektor Pertanian Belum Beres, Buat Resah Kaum Susah

8 Oktober 2018   22:59 Diperbarui: 8 Oktober 2018   23:25 318 0 0

Negara ini masih terus diresahkan dengan persoalan pangan yang tak kunjung membaik. Sektor produksi yang dikelola Kementan ternyata bermasalah. Karena hingga memasuki pekan ke dua Oktober harga beras masih mahal. Persoalan pangan sangat penting karena berkenaan dengan hajat hidup orang banyak. 

Banyak pengamat ekonomi meminta Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk mengevaluasi kinerja Menteri Pertanian Amran Sulaiman karena dianggap tidak becus dalam mengelola produksi. 

Dalam evaluasi itu Menko Perekonomian harus mengecek validitas data produksi komoditas pangan yang dimiliki Kementan secara langsung.

Karena seringkali data yang diproyeksikan Kementan meleset jauh dari realita di lapangan. Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan "Bila data ternyata berbeda, (produksi) lebih rendah dari dimiliki Mentan, Presiden harus mengambil tindakan tegas terhadap Mentan. Ini bisa berujung kepada reshuflle." 

Isu reshuffle memang kini tengah bergaung. Alangkah baiknya Presiden Jokowi segera memanggil menteri terkait untuk menjelaskan terkait produksi yang selama ini bermasalah.

Karena, meskipun sering menegaskan kondisi swasembada beras pada berbagai pemberitaan, Menteri Amran tak menyajikan data pangan secara riil.

Menko Darmin juga membeberkan bagaimana data yang meleset dari Kementan mempengaruhi pengambilan keputusan impor pada rakortas lintas kementerian.

Kementerian Pertanian yang sangat sering membuat klaim swasembada terkait berbagai komoditas pertanian, dinilai menyesatkan oleh Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto.

Pasalnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan justru memperlihatkan adanya permasalahan dari sisi produksi. Jika dibiarkan, potensi adanya penetapan kebijakan dari data yang salah sangatlah besar.

sampai kapankah kesalahan serupa terulang? Kementan perlu dievaluasi. Jika memang perlu dilakukan reshufle maka lakukanlah, masyarakat sudah terlalu lelah menghadapi kesulitan pangan yang tak kunjung reda.