Mohon tunggu...
Lingkungan

Pengembangan kota Urbanus

3 Mei 2019   18:07 Diperbarui: 3 Mei 2019   18:20 0 1 0 Mohon Tunggu...

Sarana dan prasarana buat anak anak di kota urban sangat minim apalagi kota kota besar seperti Jakarta, penataan ruang dan lingkungan hidup menjadi sangat sulit apalagi di kota kota besar sekarang sudah jarang ditemui lahan kosong secara khusus untuk tempat bermain anak. 

Anak anak yang hidup di Ibu Kota bercampur dengan anak anak remaja bahkan orang dewasa, bisa saja mereka melihat dengan tidak sengaja perilaku sosial yg menyimpang dan tidak sehat yg berakibat kurang baik bagi tumbuh kembang anak secara psikologis.

Mengapa saya mengangkat topik landscape anak di kota urban? Karna saya melihat di beberapa negara barat yg memiliki kepadatan infrastruktur bangunan yang moderen, namun dalam maket plan tata kotanya tetap menyisakan ruang anak disetiap tempat dan distrik, yang letaknya justru di pusat kota, sebagai taman hiburan atau taman kota, area parking dan bermain anak.

Jakarta memang sudah habis, landscape kotanya sudah habis , semua konsep diterapkan sudah tak ada yang cocok selain dibumi hanguskan kembali ke Nol , semua sudah crowded tidak bisa diatur karena ketimpangan kebijakan. Susah karena semua sudah merasa pintar.  Semua landscape habis  digunakan hanya untuk pengguna jalan, perluasan jalan, tempat transportasi yg berlebihan dan market. 

Ciri ciri kota kota besar memang padat penduduk karena urbanisasi. Sedangkan Jakarta hanya menyediakan sedikit saja apartemen bagi penduduk Jakarta, Pemerintah tidak berusaha mencoba terobosan baru bagi kebijakan tata kotanya maupun UU agraria yg membatasi kota kota besar seperti Jakarta hanya diperbolehkan membangun Rumah susun ataupun apartment. 

Sehingga developer masih saja dengan bebas membangun petak petak tanah di Jakarta yang semakin sempit itu dengan bangunan rumah mewah, perumahan maupun residen yg menghabiskan begitu banyak lahan publik dan tempat bermain anak, jakarta sudah usang, jakarta sudah habis dan ludes .. dhes  Jakarta memang sudah habis, landscape kotanya sudah habis digunakan hanya untuk pengguna jalan, perluasan jalan, tempat transportasi yg berlebihan dan market. 

Ciri ciri kota kota besar memang padat penduduk karena urbanisasi. Sedangkan Jakarta hanya menyediakan sedikit saja apartemen bagi penduduk Jakarta, Pemerintah tidak berusaha mencoba terobosan baru bagi kebijakan tata kotanya maupun UU agraria yg membatasi kota kota besar seperti Jakarta hanya diperbolehkan membangun Rumah susun ataupun apartment. 

Sehingga developer masih saja dengan bebas membangun petak petak tanah di Jakarta yang semakin sempit itu dengan bangunan rumah mewah, perumahan maupun residen yg menghabiskan begitu banyak lahan publik dan tempat bermain anak sduah tak ada lagi tempat untuk anak -anak di jakrata terlalu berbahaya.

Untuk  lepas dari kondisi tidak sehat perkotaan dan hiburan malam, anak anak yang kurang mendapat lahan bermain yang sehat mereka bermain di jalan jalan, pasar malam hingga batar gebang, bercampur aduk dengan permainan orang tua dan hiburan orang dewasa. Perkosaan terhadap anak dibawah umur atas kurang nya perhatian pemerintah dan orang tua, menjadi tak terelakkan lagi.

Konsep simetris dan sinergis Pembangunan kota memang harus mempertimbangkan banyak hal khususnya mempertimbangkan proyeksi sosial dan keamanan anak. Kasus yuyun menjadi cermin kita semua, banyak faktor yang menyebabkan keselamatan anak di jalan menjadi memprihatinkan. 

Ruang publik yang harusnya aman untuk anak bermain bahkan untuk kembali kerumahnya menjadi lingkungan yang menyeramkan, orang tua menjadi was was kehidupan diluar rumah, pun sekedar keluar untuk menerima pendidikan di sekolah.( Massayu ganda sary  doktor  bidang  sosial urban dari Utrech jerman )