Mohon tunggu...
Michael D. Kabatana
Michael D. Kabatana Mohon Tunggu... Relawan - Bekerja sebagai ASN di Sumba Barat Daya. Peduli kepada budaya Sumba dan Kepercayaan Marapu.

Membacalah seperti kupu-kupu, menulislah seperti lebah. (Sumba Barat Daya).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tidak Ada Satu pun Manusia Hidup yang Luput dari Masalah

28 November 2021   15:37 Diperbarui: 30 April 2022   16:51 878
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Orang-orang sering katakan "tidak ada satu pun manusia hidup di dunia ini yang luput dari masalah". Jika kita ingin menggali lebih dalam makna kalimat tersebut, kita perlu bertanya, masalah yang dimaksudkan dalam ungkapan ini sebenarnya apa? Apakah merujuk pada satu atau beberapa hal? Apa hal itu berwujud? Ataukah frasa masalah merujuk pada keseluruhan dari sesuatu yang abstrak dan tidak berwujud yang mengakibatkan tidak adanya ketenangan dalam diri dan menimbulkan ketidakstabilan emosi?

Ungkapan lain lagi yang kadang kita dengar "manusia itu rumit". Kata manusia itu sendiri apakah hanya merujuk kepada tubuh semata? Jika frasa manusia dalam ungkapan tersebut merujuk kepada keseluruhan badan, jiwa, dan sikap manusia, maka ungkapan tersebut butuh permurnian dan konkretisasi yang merujukkan kepada bagian tertentu saja. Manusia sebagai badan dan jiwa tidaklah rumit. 

Hal yang membuat sesuatu itu rumit adalah pikiran manusia. Dalam pikirannya, manusia memiliki kemampuan interpretasi. Kemampuan ini adalah karunia terindah yang dimiliki manusia dibanding makhluk lain. Kemampuan interpretasi membantu perkembangan manusia menjadi sangat cepat dibanding makhluk lain di alam semesta ini.

Selain sebagai karunia, di sisi lain kemampuan interpretasi kepada hal-hal sederhana yang dikategorikan sebagai masalah di sekitar kehidupan manusia baik dalam interaksi sosialnya, keadaaan ekonominya dan lain sebagainya menghasilkan kecemasan dan bahkan ketakutan serta berbagai perasaan lain. Perasaan takut, cemas, kwatir dan lain sebagainya kerap disebut sebagai perasaan negatif. 

Padahal perasaan-perasaan seperti itu justru yang menjaga manusia tetap hidup. Jika bisa digolongkan, maka perasaan-perasaan tersebut adalah cara tubuh bertahan hidup. 

Ketika otak menyampaikan informasi bahwa akan ada suatu bahaya. Tubuh akan melepaskan hormon tertentu yang dari hormon tersebut terciptalah perasaan seperti cemas, takut, kwatir dan lain sebagainya sebagai ajakan untuk berwaspada. Jadi, tidak tepatlah jika berbagai perasaan tersebut dinilai sebagai perasaan negatif.

Hanya saja memang betul bahwa segala sesuatu yang berlebihan pasti akan membawa dampak buruk. Seperti halnya, air yang cukup akan membawa kehidupan dan kesuburan bagi tumbuhan dan hewan, namun jika berlebihan akan membawa bencana banjir. Demikian pula perasaan cemas, takut, kwatir yang berlebihan akan membawa dampak buruk bagi tubuh dan jiwa seseorang.

Sesuatu dikatakan bermasalah ketika hal tersebut mampu menciptakan rasa tidak aman akibat rasa cemas, takut, kwatir dan lain sebagai yang ditimbulkan. Lantas orang mulai membenci dan tidak menyukai kehadiran masalah dalam kehidupannya. 

Padahal sebenarnya masalah adalah momen setiap pribadi mengukur kemampuan dalam diri  dan mengakrabi kekuatan dirinya. Hanya saja yang perlu menjadi "lampu kuning" adalah masalah yang ada jangan sampai berlebihan. 

Sama halnya dengan perasaan cemas, takut, kwatir, dan lain sebagai yang berlebihan akan menghasilkan dampak buruk bagi tubuh dan jiwa. Demikian pula, adanya terlalu banyak masalah akan membawa dampak buruk bagi kehidupan yang dijalani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun