Mohon tunggu...
Mya Ye
Mya Ye Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Penulis novel yang sangat tertarik dengan budaya dan tradisi Tionghoa. Dua novel sebelumnya, “AMOI, GADIS YANG MENGGAPAI IMPIAN” (Penerbit Buku Kompas) dan “PENGANTIN PESANAN” (Gramedia Pustaka Utama) menceritakan kisah nyata tentang perempuan Tionghoa di Kalimantan Barat. Silakan kunjungi blog saya di: ceritapecinan.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perempuan: Anggota Keluarga Kelas Dua?

29 November 2021   09:00 Diperbarui: 29 November 2021   12:55 113 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

"Anak perempuan itu kalau sudah menikah jadi milik keluarga suaminya. Ikut marga keluarga sana."

Perkataan itu sudah seringkali mampir di telinga saya. Jadi bukan sesuatu yang aneh lagi.

Keluarga tradisional Tionghoa memang penganut budaya patriarkat. Suatu sistem sosial yang sangat mementingkan garis keturunan ayah. Maka dari itu kehadiran anak perempuan memang seperti tenggelam di bawah bayang-bayang saudaranya yang laki-laki.

Anak laki-laki, terlebih anak sulung, mengemban tugas untuk meneruskan marga keluarga. Mereka juga bertanggung jawab penuh untuk menjaga dan merawat kedua orang tua mereka semasa hidupnya di dunia.

Saat menikah, ada semacam tanggung jawab moral untuk memiliki anak laki-laki sebagai generasi penerus. Mendidiknya hingga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan keluarga. Setelah orang tua meninggal, anak laki-laki pula yang seharusnya turun tangan mengurus kematian hingga upacara persembahyangan.

Begitu besar tugas dan tanggung jawab anak laki-laki terhadap orang tua dan keluarga. Maka itu tidak mengherankan kalau sejak lahir kehadiran mereka juga terkesan lebih diistimewakan daripada anak perempuan. 

Tidak aneh juga jika pada akhirnya banyak pasangan suami-istri, yang hanya mempunyai anak perempuan, lantas mengadopsi anak laki-laki untuk melanjutkan keberlangsungan keturunan mereka.

Karena perbedaan peran itu pula maka ada istilah cucu dalam dan cucu luar. Cucu dalam sudah pasti cucu yang lahir dari anak laki-laki sehingga masih menyandang marga yang sama dengan ayah dan para leluhurnya. 

Sedangkan cucu yang lahir dari anak perempuan, biarpun dia seorang laki-laki, tetap disebut sebagai cucu luar. Bagi orang-orang tertentu, perbedaan ini juga ditunjukan secara gamblang melalui sikap dan perbuatan. Yang satu lebih disayang daripada yang lain sehingga menimbulkan iri hati dan dendam yang tidak ada habisnya.

Belum lagi soal pendidikan. Saya pernah membaca sebuah tulisan, entah di mana, yang mengatakan kalau dalam tradisi China Benteng (Cinben) pendidikan anak perempuan tidak terlalu diutamakan. 

Bagi keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, seringkali anak perempuan "dikorbankan". Mereka berhenti bersekolah sampai di tingkat tertentu, lantas bekerja untuk membantu orang tua dan membiayai saudara mereka yang laki-laki. Tulisan tersebut memang tidak salah, tetapi keadaan ini juga banyak terjadi di tempat lain. Bukan hanya Cinben.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan