Mohon tunggu...
Mya Ye
Mya Ye Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Penulis novel yang sangat tertarik dengan budaya dan tradisi Tionghoa. Dua novel sebelumnya, “AMOI, GADIS YANG MENGGAPAI IMPIAN” (Penerbit Buku Kompas) dan “PENGANTIN PESANAN” (Gramedia Pustaka Utama) menceritakan kisah nyata tentang perempuan Tionghoa di Kalimantan Barat. Silakan kunjungi blog saya di: ceritapecinan.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tradisi Bersoja

22 November 2021   09:11 Diperbarui: 29 November 2021   10:29 144 11 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Budaya dan tradisi Tionghoa tidak hanya kaya akan simbol dan maknanya, tetapi juga penuh dengan sederet aturan dan tata krama. Etiket-etiket ini biasanya sudah diajarkan sejak kecil sehingga ketika dewasa mereka sudah terbiasa menjalaninya. Salah satu etiket yang biasa diajarkan adalah etiket saat bertamu dan bertemu (berpapasan) dengan orang lain.

Ketika masih kecil saya selalu diajarkan untuk bersoja (pai pai) saat bertemu dengan orang lain. Urut-urutannya selalu dimulai dengan menyapa orang yang paling tua lebih dulu. Sapaan yang lazim biasanya seperti, "Kong, baik... Mak, baik..." Berjabatan tangan hanya dilakukan bila orang yang dijumpai itu bukan orang Tionghoa.

Namun bila berkunjung ke rumah orang yang masih menyimpan meja abu atau altar sembahyang (hio lo), urutan itu jadi sedikit berubah. Bersoja dan menyapa tuan rumah dari yang paling tua berada di urutan kedua. Yang paling pertama harus dilakukan adalah memasang hio dan pai pai di depan hio lo. Sebagai tambahan, bila penghormatan itu dilakukan di depan altar sembahyang leluhur sendiri, setelah bersoja biasanya dilakukan kui, yaitu bersujud sampai dahi menyentuh lantai.

Bersoja memang bentuk salam tradisional orang Tionghoa. Kepalan tangan kiri yang merupakan simbol "yang" (laki-laki) menutupi kepalan tangan kanan yang memiliki simbol "yin" (perempuan), yang secara filosofis berarti laki-laki melindungi perempuan. Pada saat pai, ibu jari kiri diacungkan lebih tinggi dari yang kanan. 

Posisi ini membentuk huruf kanji "ren" yang berarti orang, atau bisa juga kasih, dan kemanusiaan. Keempat jari lainnya mengandung makna yang berbeda-beda. Bagi laki-laki, maknanya adalah berbakti, setia, rendah hati, dan dapat dipercaya. Sedangkan bagi perempuan, berarti mengerti susila, adil, suci atau memaafkan, dan tahu malu.

Bersoja juga mempunyai aturannya sendiri. Bila bersoja terhadap langit atau Sang Pencipta kepalan tangan diangkat setinggi dahi. Terhadap orang yang lebih tua, di depan wajah atau setinggi dagu. Bila berhadapan dengan orang yang sederajat, pai dilakukan setinggi dada, dan di bawah dada bagi orang yang lebih muda.

Yang harus selalu diingat: soja harus dibalas dengan soja.

Etiket-etiket dasar seperti ini tidak asal dibuat, tetapi berlandaskan pada ajaran Konfusius. Ajaran untuk menghormat dengan cara bersoja juga tertuang dalam buku "pedoman bagi seorang murid dan anak" atau biasa dikenal sebagai "dizigui" (Baca: ticekwi). Buku tentang budi pekerti yang diajarkan kepada anak2 di Tiongkok yg sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. 

Dizigui berasal dari buku naskah pencerah batin (Xu Meng Wen) yang ditulis oleh Li Yuxiu pada tahun Kangsi, Dinasti Qing. Buku tersebut mengutip makna ayat "tentang pelajaran" yang ada di bab enam dari buku Lun Yu. Buku yang terakhir disebutkan ini khusus membahas tentang inti ajaran Konfusius.

Budaya dan tradisi orang Tionghoa memang tidak bisa lepas dari ajaran Sang Filsuf Agung tersebut. Dasar utamanya adalah berbakti dan patuh terhadap orang tua, yang termasuk juga menghormati semua orang yang lebih tua. Di samping itu juga menunjukkan kasih sayang terhadap saudara. Setelah kedua hal tersebut, barulah mengikuti yang lain-lainnya, seperti mengembangkan kewaspadaan diri dan peduli terhadap lingkungan hidup hingga menjadi orang yang bisa diandalkan, belajar memberikan cinta kasih terhadap sesama, dan juga mendekatkan diri dengan orang-orang bijak.

Dalam Dizigui disebutkan, "Bila berpapasan dengan orang yang dituakan, cepatlah maju untuk memberikan soja. Bila yang dituakan tidak bersuara, mundurlah dan berilah jalan dengan menghormat." Maksudnya, kita harus memberi salam bila bertemu dengan orang yang lebih tua. Bila beliau tidak bereaksi apa-apa, maka berilah jalan dan mundur. Tunggu sampai beliau berlalu dari hadapan kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan