Mohon tunggu...
Mya Ye
Mya Ye Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Penulis novel yang sangat tertarik dengan budaya dan tradisi Tionghoa. Dua novel sebelumnya, “AMOI, GADIS YANG MENGGAPAI IMPIAN” (Penerbit Buku Kompas) dan “PENGANTIN PESANAN” (Gramedia Pustaka Utama) menceritakan kisah nyata tentang perempuan Tionghoa di Kalimantan Barat. Silakan kunjungi blog saya di: ceritapecinan.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sembahyang Leluhur: Kepercayaan atau Tradisi?

15 November 2021   12:34 Diperbarui: 16 November 2021   21:22 172 7 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

                "Keluarga saya sudah tidak pernah sembahyang leluhur lagi. Tidak pasang hio lagi."

Kalimat seperti di atas adalah salah satu ucapan yang sudah sering saya dengar. Tidak sedikit orang yang bercerita kepada saya kalau dirinya tidak pernah memegang hio sejak kecil atau kalau pun pernah, hanya dilakukan di masa lalu. 

Kebanyakan dari mereka menganggap upacara ini sebagai bagian dari agama atau kepercayaan tertentu sehingga ketika sudah menganut agama yang berbeda, mereka sudah tidak mau lagi melakukannya.

Pernyataan-pernyataan pribadi seperti itu memang tidak dapat disalahkan. Biarpun upacara sembahyang leluhur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari etnis Tionghoa, ritual-ritual yang berhubungan dengan budaya dan tradisi lama seperti ini, bagi sebagian orang, memang sudah menjadi sesuatu yang asing. Sejarah politik masa lalu yang mendiskriminasi etnis yang satu ini menjadi penyebab utamanya.

Sekarang meskipun zaman sudah berubah ternyata perasaan terasing itu sudah keburu menguat dalam diri sebagian orang. Banyak orang Tionghoa yang sudah meninggalkan, bahkan tidak mengenali lagi adat istiadat dan tradisi leluhur mereka sendiri.

Namun sebenarnya, sembahyang leluhur itu kepercayaan atau tradisi?

Sebelum menjawab, ada baiknya untuk menelusuri dulu asal mulanya. Zaman dahulu, masyarakat Tionghoa percaya bila seseorang meninggal dunia maka arwahnya meninggalkan jasad kasarnya, dan mereka dapat tetap hidup. 

Arwah-arwah ini dapat lebih bebas pergi ke mana pun mereka inginkan. Konsep seperti ini menimbulkan perasaan takut dalam diri orang yang masih hidup. Maka dari itu muncullah upacara sembahyang arwah.

Sembahyang dilakukan oleh anggota keluarga yang masih hidup secara turun-temurun. Maka itu ada istilah "dupa tidak berhenti terbakar". Hal ini dimaksudkan supaya para arwah tersebut tidak mengganggu mereka yang masih hidup. Selain itu, juga untuk menunjukkan bakti kepada anggota keluarga yang sudah pergi mendahului.

Secara tradisional, tugas melakukan sembahyang leluhur seharusnya dijalankan oleh anak laki-laki sulung dalam keluarga. Mengapa? Karena keluarga Tionghoa adalah penganut budaya patriarkat yang sangat mementingkan garis keturunan ayah.

Jadi, kelangsungan garis keluarga dilanjutkan oleh keturunan laki-laki pertama sebagai penerus marga. Bila anak laki-laki sulung itu telah meninggal lebih dulu, maka secara otomatis tanggung jawab ini dilanjutkan oleh anak laki-laki berikutnya. Anak perempuan akan bertanggung jawab untuk mengurus sembahyang leluhur keluarga suaminya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan