Mohon tunggu...
Mya Ye
Mya Ye Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Penulis novel yang sangat tertarik dengan budaya dan tradisi Tionghoa. Dua novel sebelumnya, “AMOI, GADIS YANG MENGGAPAI IMPIAN” (Penerbit Buku Kompas) dan “PENGANTIN PESANAN” (Gramedia Pustaka Utama) menceritakan kisah nyata tentang perempuan Tionghoa di Kalimantan Barat. Silakan kunjungi blog saya di: ceritapecinan.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Misoa: Semangkuk Kenangan dan Harapan

8 November 2021   13:30 Diperbarui: 8 November 2021   13:52 163 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Private collection (Canva)

Akulturasi atau percampuran budaya Tionghoa dengan Indonesia bukan lagi sesuatu yang baru. Sejak kedatangan para perantau dari negeri Tiongkok beratus-ratus tahun yang lalu ke tanah Nusantara, secara otomatis  percampuran itu mulai terjadi. 

Menurut Aji Chen Bromokusumo dalam bukunya yang berjudul "Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, makanan adalah produk akulturasi budaya yang kedua setelah bahasa. Baru setelah itu menyusul yang lain-lainnya.

Banyak makanan asal Tiongkok yang dibawa oleh para perantau pada zaman dahulu kini berubah menjadi makanan khas tersendiri, yaitu makanan peranakan. Perubahan ini biasanya disebabkan karena adanya penyesuaian bumbu-bumbu dari negeri asalnya dengan bumbu yang tersedia di tanah rantau. 

Mereka mengerti untuk dapat bertahan di tempat yang baru mereka mesti beradaptasi. Hal yang sama juga dilakukan oleh penduduk setempat terhadap kebiasaan yang dibawa oleh para "tamu" ini.

Dengan teknik memasak yang mereka bawa dari tempat asalnya dan digabung dengan bahan-bahan yang tersedia di alam Nusantara, maka terciptalah berbagai jenis masakan yang baru. 

Mi, bakso, tahu, pangsit, bihun, soun, kuetiauw, siomay, dan lapis legit adalah beberapa jenis makanan peranakan Tionghoa yang kini sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat setempat. Dengan berbagai variasinya, makanan-makanan itu kini sudah menjadi bagian dari makanan khas Indonesia.

Salah satu masakan peranakan yang sangat familiar dengan lidah saya adalah misoa atau dalam Bahasa Mandarin disebut mian xian (baca: mien sien). Ini salah satu dari tiga jenis mi putih yang bentuknya mirip. 

Dua lainnya adalah soun dan bihun. Kalau bihun terbuat dari tepung beras, memiliki tekstur yang keras dan kenyal, soun dari tepung gandum, tepung beras, dan tepung tapioka atau tepung ubi yang bentuknya tipis serta transparan, maka misoa merupakan mi bening yang teksturnya sangat halus dan terbuat dari tepung gandum.

Kegemaran menyantap misoa diawali pada masa kecil. Setiap berulang tahun, pagi hari sebelum diperbolehkan memakan makanan yang lain, saya diharuskan untuk menghabiskan semangkuk misoa. 

Emak (nenek dalam dialek Hokkian) saya yang membuatnya. Lengkap dengan dua butir telur rebus yang sudah diberi pewarna merah di dalamnya. Kuahnya dibuat dari kaldu ayam kampung yang baik untuk kesehatan dan sedikit tumisan bawang putih sebagai penyedap rasa dan katanya bagus untuk kulit.

Sebenarnya, saya kurang suka telur rebus. Maka memakannya, dua butir pula, merupakan "siksaan" buat saya. Tapi apa daya? Harus dihabiskan. Karena membuang-buang makanan hukumnya "pamali" dan saya pasti diomeli kalau berani melakukannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan