Humaniora

Keluarga adalah Benteng Terkuat Antisipasi Begal

13 Oktober 2017   14:50 Diperbarui: 13 Oktober 2017   14:54 147 0 0

Beberapa hari yang  saya membaca pesan di grup whattsapp yang berbunyi kira-kira demikian:

"Mengingat maraknya begal di Kota Medan, maka kita akan percepat jadwal latihan malam ini. Maaf dadakan, tapi ini demi kebaikan kita bersama.." pesan ini diamini oleh anggota grup. Saya sendiri yang sekarang tinggal jauh di kota lain, (tetapi masih bergabung dalam grup whattapp) merasa sangat miris dengan kondisi tersebut.

Kekhawatiran ini tidak berlebihan. Mengingat tingginya tingkat kejahatan yang dimotori oleh kelompok yang disebut "begal".  Mereka tidak main-main dalam menjalankan aksinya. Tidak cukup hanya merampok sepeda motor dan harta benda lainnya, tetapi mereka juga tidak segan membunuh korban yang mencoba mempertahankan miliknya. Mereka kerap beraksi tengah malam hingga subuh. Ketika jalanan mulai sepi, apalagi penerangan kurang, itu adalah situasi empuk mereka untuk menangkap mangsa, bahkan tanpa ampun.

Sasaran mereka biasanya adalah orang yang pulang malam atau sebaliknya, orang yang beraktivitas dini hari.  Salah satunya adalah para supir ojek  dan taksi online. Dua hari berturut-turut terjadi perampokan dan pembunuhan terhadap pelaku transportasi daring ini. Tepatnya pada tanggal 23 September, seorang supir ojek online dibunuh karena mempertahankan sepeda motornya dari tangan begal, dan pada keesokan harinya, seorang sopir taksi online ditemukan tewas di selokan dengan luka sekujur tubuh. Belum lagi kengerian itu mereda, pada tanggal 3 Oktober yang lalu seorang  wanita muda tercampak dari motor dan tidak sadarkan diri, ketika tasnya dihentak dan ditarik paksa oleh perampok. Kejadian sekitar pukul 23.00 malam hari. Beruntung nyawanya masih bisa tertolong. Ini adalah beberapa dari kejadian yang diekspose media.

Perbuatan para begal ini tentu sudah sangat brutal dan keterlaluan. Sepertinya mereka tidak lagi memiliki perikemanusiaan. Ketika Polisi hendak meringkus mereka, mereka melawan baik dengan senjata tajam maupun dengan pistol, sehingga dalam waktu sepekan, (tanggal 23 September -- 01 Oktober) sudah ada 5 orang begal yang ditembak mati aparat. Diharapkan tindakan tegas ini akan memberikan efek jera kepada para kawanan begal. Tetapi sepertinya tembak mati bukanlah solusi yang tepat, itu hanya pilihan terakhir. Ketika nyawa aparat jadi taruhan, maka tindakan tegas terukur inilah yang dilakukan.

Kalau sudah begini,  apakah yang dapat kita lakukan? Apakah kita harus melarang masyarakat untuk pulang larut malam atau beraktivitas dini hari? Atau, apakah kita harus memberi peringatan kepada masyarakat agar menghindari area-area tertentu yang dianggap berbahaya? Apakah kita harus menghalangi rezeki para pekerja pagi dengan melarang mereka menjalankan aktivitas ekonominya sebelum matahari terbit? Bukankah dengan demikan, berarti kita secara tidak langsung "mengakui" eksistansi para begal? Dengan menjadi takut dan menghindar, berarti kita sedang menciptakan dan memberikan ruang yang lebih luas kepada para begal beraksi. Lantas bagaimana? Apakah kita mau tutup mata dan masa bodoh dan akhirnya kita atau anggota keluarga kita mati sia-sia di tangan mereka?

Siapa yang harus bertanggungjawab atas kondisi buruk ini? Yang saya tahu, negara harus hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakatnya. Karena rasa aman adalah salah satu Hak Azasi Manusia. Setiap anggota masyarakat berhak untuk aman dalam bepergian, termasuk ketika "terpaksa" harus pulang malam atau berangkat pagi. Karena hidup ini disetting tidak untuk mengakomodasi kepentingan para begal. Sehingga ketika mereka memaksa masuk dan merusak tatanan yang ada, merekalah yang harus diusir keluar, bukan masyarakat yang diminta untuk mengalah.

Karena itu, tindakan pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan atau peringkusan ketika korban sudah jatuh. Nyawa sudah melayang. Sebuah keluarga tidak lagi utuh. Istri yang kehilangan suami sebagai tulang punggung keluarga, anak balita yang tidak akan pernah lagi mendapat figure utuh seorang ayah sepanjang hidupnya. Siapa yang akan menggantikan posisi sang ayah dan mengembalikan kualitas hidup keluarga seperti semula? Tentu tidak ada yang bisa! Sekalipun 5 nyawa begal melayang..itu tidak ada nilainya bagi keluarga yang kehilangan.

Tapi kita juga tidak boleh sedikit-sedikit menuntut  negara. Jangan tanya apa yang negara berikan padamu..tapi tanyalah, apa yang kamu berikan pada negara. Kalimat ini tentu bukan omong kosong belaka. Dimulai skala yang paling kecil, kita bisa lakukan hal yang sangat besar, yaitu mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Jadilah orang tua yang memberikan contoh nyata. 

Jangan hanya jejali anak kita dengan nasihat dan petuah, tetapi hidup kita sendiri tak bisa menjadi teladan. Jangan hanya penuhi kebutuhan fisik mereka, tetapi terlebih penting penuhi kebutuhan emosi mereka. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi mereka untuk bertumbuh. Tanamkan rasa berharga di hati mereka. Mereka adalah  anak yang disayangi, mereka adalah anak yang diinginkan dan mereka adalah anak yang berguna. Sehingga mereka penuh dengan kebaikan hati dan kekayaan jiwa. Mereka memiliki gambaran yang jelas tentang makna hidup dan harus berbuat apa untuk membuat hidup lebih baik.

Apa hubungannya dengan begal? Tentu saja sangat erat hubungannya!! Kita tidak bisa menutup mata, kalau para begal ini didominasi anak-anak remaja. Umumnya mereka masih berusia dua puluhan atau bahkan belasan tahun. Mereka menjadi beringas hanya karena ingin mendapatkan pengakuan yang selama ini mereka tidak dapatkan dari keluarganya. 

Mereka ingin membuktikan bahwa mereka adalah seseorang, dan bisa melakukan sesuatu. Meski "seseorang" dan "sesuatu" itu didefinisikan dengan cara yang keliru. Tetapi setidaknya di lingkungan itulah mereka merasa diterima. Itu sebabnya kita tidak habis pikir, kenapa mereka seolah tidak memiliki belas kasih dan perikemanusiaan? Jawabannya, karena mungkin itulah "pesan" yang mereka dapat dari lingkungan tempat mereka dibesarkan.

Jadi, dengan menjaga dan mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya, kita telah turut berperan menciptakan rasa aman di dunia ini. Karena anak yang tercukupi kebutuhan emosinya, tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dari luar. Karena dia memiliki nilai-nilai yang benar. Karena dia memiliki figure yang jelas. Karena dia memiliki keyakinan yang kuat. 

Anak seperti ini akan lebih memilih mengukir prestasi daripada mencari jati diri yang bahkan tak pernah ditemukannya di jalanan sana. Dengan menjaga anak dan keluarga kita, berarti kita tidak turut menyumbang jumlah begal yang tidak diketahui berapa pastinya. Kita mencegah bertambahnya korban yang tidak seharusnya. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan.

Semoga saja para penegak hukum di kota ini benar-benar tertantang hatinya untuk mengungkap dan menyelesaikan masalah begal ini sampai ke akar-akarnya. Tentu ini bukan tugas mereka semata. Tetapi perlu bersinergi dengan berbagai institusi, baik pihak sekolah sebagai pendidik generasi muda, pemimpin agama yang disegani umat, bahkan dengan dinas pertamanan untuk menerangi jalan-jalan sehingga tidak ada jalan gelap, dinas pekerjaan umum agar memperbaiki jalan rusak dan berlubang, karena ketika gelap dan laju kendaraan lambat akibat jalan rusak, ini adalah kesempatan tepat untuk begal mendekat.  Tetapi semua upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan institusi  yang paling kecil, yaitu keluarga.