Mohon tunggu...
Mhina Lezta
Mhina Lezta Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Telapak Kaki Emas di Negeriku

3 Mei 2015   20:05 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:25 223 5 2 Mohon Tunggu...

'Ilustrasi Anak Tulehu' (dokumentasi Pribadi)

Adalah Tulehu, negeri tempat habitat tumbuh dan berkembangnya benih 'Burung Garuda' di ujung Timur laut Kota Ambon yang  berjarak kurang lebih 25 km dari pusat kota. Negeri para jawara sepakbola, negeri tempat dilahirkannya  ratusan pasang kaki-kaki lincah Garuda muda berprestasi, terkenal hingga ke mata dunia. Negeri yang kini bergelar kampung sepak bola itu  menunjukan ke mata semua orang bahkan dunia bahwa dari perut bumi raja-rajalah inilah 'si kulit bundar' mampu ditaklukan dan dikendalikan.

Ini sepenggal cerita dari Negeri Tulehu, kecamatan Salahutu, Maluku Tengah

Sore itu terlihat beberapa pelatih sepak bola baru saja menyelesaikan latihannya bersama beberapa anak asuhnya di lapangan Matawaru, tapi tiba–tiba salah satu anak berusia sekitar 10 tahun berlarian mendekati bola sepak yang baru saja digunakan saat latihan tadi, sementara anak lainnya membantu mengumpulkan bola, nampak terlihat salah satu anak lainnya melakukan aksi 'menimbang bola' dengan kaki tanpa jatuh ke tanah.

Dari jauh nampak mereka terlihat seperti burung-burung kecil yang bertengger di dahan pohon. Sorot mata mereka terlihat berbinar dan bersemangat tinggi, setinggi harapan mereka yang selalu merindukan binaan, perhatian lebih, karna sedang menaruh harapan besar  untuk suatu saat nanti bisa bergabung di Squad Merah Putih. Tim Nasional Garuda. Dengan keyakinan serta bakat alam yang kebanyakan mereka miliki,  selain itu anak-anak ini menaruh harapan besar suatu saat nanti bukan saja dapat bergabung sebagai tim sepak bola profesional akan tetapi bisa menyalurkan hasrat bersepakbola mereka yang menggebu-gebu, terbukti beberapa dari mereka dengan memiliki bakat alam yang luar biasa, bisa menembus pemain Timnas, Garuda U-19, dan U-23 tentu bahkan sudah meraih prestasi beberapa tahun belakangan ini.

Aktifitas di atas selalu tersaji setiap hari di lapangan Matawaru Tulehu. Lapangan ini teletak di pusat negeri Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, lapangan yang tampak jauh dari kesan megah dan mewah ini luasnya hanya sekitar setengah dari lapangan sepak bola atau mungkin lapangan Merdeka kota Ambon. Ukurannya tidak standar lapangan bola di kampung-kampung, meski begitu terdapat satu tribun yang dibangun melalui swadaya masyarakat, nampak seperti lapangan sepak bola kebanyakan. Meski tampak kumuh dan banyak kotoran hewan, namun dari lapangan kebanggan Tulehu ini, telah lahir telapak–telapak kaki emas pesepak bola bertalenta langka dan tangguh yang menghias nama-nama tenar pesepak bola tanah air kita.

Sebut saja nama-nama yang menghias layar kaca pesepakbola tanah air, seperti Alfin Ismail Tuasalamony, Riski Ramdani Lestaluhu, Riski Ahmad Sanjaya Pellu, Irfendi Aljubaidi hingga Muhammad Rifad Marasabessy. Bahkan di masa-masa sebelumnya, secara nasional sejumlah nama besar yang aktif menghias dan berperan dalam laga sepak bola tanah air. Sebut saja Aji Lestaluhu, Muhtadi Lestaluhu, Muh Kasim Pellu, Rahil Tuasalamony , Imran Nahumarury, hingga Khairil Anwar Ohorella.

Meskipun secara lokal, kiprah dan prestasi sepak bola Maluku seperti mati suri, namun itu tidak terjadi pada anak–anak negeri Tulehu. Meski secara lokal tidak banyak kompetisi yang diselenggarakan oleh timsepak bola Tulehu, apalagi Propinsi Maluku, namun di tingkat Nasional, para pelaku pesepakbola Tulehu terutama dari divisi I, divisi II , divisi III (sekarang Liga Nusantara), divisi utama hingga Indonesia Super League (sekarang QNB League) terus bersinar. Mulai dari Alfian, Rahman Lestaluhu, Manahati Lestusen pernah memperkuat Tim Divisi II CS Vise Belgia selama tiga tahun. Prestasi yang mereka dapatkan tak lepas dari hasil latihan di lapangan Matawaru ini.

Rumput lapangan yang kering di saat musim kemarau datang, ataupun becek ketika musim hujan tiba lapangan bola kampung ini tak pernah sepi dari latihan pemainnya, selalu saja ada yang menenteng bola di pinggir lapangan kemudian memainkan bola di tengah lapangan. Aktifitas bermain sepak bola ini tidak hanya terlihat di lapangan Matawaru, masih ada dua lapangan lain di negeri yang bertajuk Haturesy ini yaitu lapangan kampus universitas Darussalam dan lapangan di dusun Hurnala, meski ukurannya lapangannya juga tidak berstandar lapangan bola lazimnya di desa–desa lain.

Bibit–bibit pesepak bola di negeri Tulehu inilah yang kemudian menjadi inspirasi seorang sutradara muda Angga Sasongko yang mengemasnya dalam kisah filmnya “Cahaya Dari Timur -Beta Maluku" . Film ini pun kemudian dinobatkan sebagai pemenang Film Terbaik dalam Festifal Film Indonesia (FFI) 2014 dan sejumlah penghargaan lainnya. Kisah film ini memberi kesan bahwa selalu saja lahir benih pesepakbola lokal berkualitas Nasional bahkan Internasional, meski di tengah kendala dan berbagai keterbatasan anak-anak di daerah, mereka semua tumbuh dan berkembang secara alami menjadi benih-benih pesepakbola berkualitas, keinginan mereka yang kuat selama  proses latihan dan kompetisi menggambarkan keadaa yang sebenarnya, bahwa hanya ingin meraih kebanggaan dan utamanya semangat menjadi bagian dari pasukan pemain Timnas Gaurda Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN