Mohon tunggu...
Fadli
Fadli Mohon Tunggu... Peminat sejarah dan budaya

Menyukai dunia sejarah dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Tradisi Tujuh Likur di Daik

11 Mei 2021   08:16 Diperbarui: 11 Mei 2021   15:18 411 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tradisi Tujuh Likur di Daik
img-20210511-wa0000-609a3beed541df4fc46f8e64.jpg

Dalam setahun sekali umat Islam melaksanakan  rukun Islam yang ketiga yakni berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Oleh orang Melayu, bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan puasa. Tentunya saat bulan puasa yang penuh rahmat dan berkah disambut dengan gembira dan suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Sebelum bulan puasa tiba, terdapat berbagai tradisi keagamaan dilakukan masyarakat Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. 

Di bulan Sya'ban, secara bergiliran  di setiap surau dan masjid  mengadakan kenduri haul jamak atau kenduri pembacaan doa untuk arwah seluruh kaum muslimin. Sebagian masyarakat yang mampu turut juga mengadakan kenduri di rumah masing-masing. Di malam bulan lima belas Sya'ban atau malam nisfu Sya'ban, disetiap surau dan masjid selepas shalat maghrib dilakukan pembacaan surah Yaasin. Dipenghujung bulan Sya'ban mendekati bulan puasa, masyarakat melakukan pembersihan kuburan sanak keluarga. Ada juga dilakukan pembersihan secara gotong-royong di tempat pemakaman umum. Menjelang seminggu sebelum puasa, masyarakat semakin ramai melakukan ziarah ke kubur. Mereka yang melakukan ziarah, mengadakan pembacaan doa arwah.

Pada hari terakhir bulan Sya'ban, ada satu tradisi khas yang dilakukan masyarakat Kampung Tanda Hulu di Kelurahan Daik dalam menyambut bulan puasa. Ibu-ibu rumah tangga membuat makanan ringan untuk dibagikan kepada tetangga berdekatan rumah dan sanak keluarga di lain kampung. Pada sore hari, anak-anak akan membawa makanan ringan untuk dibagikan kepada tetangga. Mereka yang mendapat hadiah selanjutnya, membalas dengan menghadiahkan kembali makanan yang dimiliki. 

Di malam-malam bulan puasa, seperti umum yang dilakukan kaum muslim ialah shalat tarawih berjama'ah di surau dan masjid. Malam-malam bulan puasa juga di isi dengan tadarus Al-Quran. Tadarus di surau dan masjid kadang menggunakan pengeras suara, sehingga suasana perkampungan di malam-malam bulan Ramadhan tidak pernah sepi dengan suara lantunan ayat suci Al-Qur'an. Di samping berbagai kegiatan ibadah, di penghujung bulan Ramadhan terdapat suatu tradisi khas yakni tujuh likur. Tradisi tujuh Likur ialah dimulai dengan memasang pelita di halaman rumah yang dimulai pada malam satu likur atau malam dua puluh satu Ramadhan, hingga sampai malam puncaknya pada tujuh likur yakni malam dua puluh tujuh Ramadhan. Di duga tradisi tujuh likur mulai ada, sejak cahaya Islam mulai menerangi alam Melayu Lingga.

Malam tujuh likur dianggap paling utama dan istimewa karena berhubungan dengan menyambut malam Lailatul qadr. Malam Lailatur Qadr malam yang paling mulia berbanding malam seribu bulan dan penuh dengan rahmat juga pengampunan. Para ulama telah berbeda pendapat tentang kapan terjadinya malam Lailatul qadr. 

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Lailatul qadr jatuh pada malam 27 Ramadhan, sebagian ulama yang lain berbeda pendapat, Akan tetapi sebagian besar dari mayoritas ulama itu berpendapat bahwa lailatul qadr terbatas pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tepatnya malam-malam ganjil (Abdurrahman Al-Baghdadi 2012:328). Mengenai turunnya Lailatul Qadr, Syaikh 'Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali (2013:128) menyatakan, 

Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Yang pertama bersifat umum, sedangkan pendapat kedua bersifat khusus. Dalam hal ini, dalil yang khusus didahulukan daripada dalil yang umum. Ada beberapa hadits lain yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tujuh malam terakhir, dan riwayat ini terkait bagi orang-orang yang tidak mampu dan lemah, sehingga tidak ada masalah. Dengan demikian, hadits-hadits tersebut berkesesuaian dan tidak bertentangan, sepakat dan tidak bertolak belakang.

Tradisi tujuh likur untuk menyambut dan menyemarakkan malam Lailatul qadr yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Daik, sejalan dengan hadits dan pendapat sebagian ulama. Dalam satu hadis dinyatakan bahwa malam dua puluh tujuh Ramadhan sebagai malam terjadinya Lailatul qadr,

Dari Ibnu Umar, beberapa orang sahabat Nabi saw telah melihat (dalam mimpi) malam kemuliaan pada tujuh malam akhir Ramadhan. Lalu Rasul saw, bersabda : "Kuperhatikan impianmu itu tepat pada tujuh malam akhir Ramadhan, maka barang siapa hendak mencarinya amatilah pada malam itu." (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam sejarah, setelah era Nabi, malam tujuh likur begitu istimewa di Mekkah, kita bisa melihat tradisi penduduk Makkah dibulan Ramadhan dalam Rihlah Ibnu Bathuthah (2009:179) yang dinyatakan, "Malam yang paling mulia bagi mereka adalah malam ke-27. Malam ini dirayakan dengan lebih meriah daripada malam-malam lain. Pada malam itu, Al-Qur'an dikhatamkan dibelakang Maqam Ibrahim." Dalam sejarah Melayu, sejak Islam menerangi alam Melayu, malam tujuh likur pun menjadi malam istimewa dan mulia dalam adat istiadat raja-raja Melaka. Muhammad Syah sultan Melaka yang pertama masuk Islam menetapkan  adat istiadat kerajaan dalam menyambut malam tujuh likur  yang dalam Sulalatus  Salatin dikisahkan,

Syahdan jika malam dua puluh tujuh, tatkala pada siangnya mengarak sejadah ke masjid, Temenggung mengepalakan gajah; maka puan dan segala alat kerajaan dan gendang, semuanya diarak dahulu ke masjid. Setelah malam maka raja berangkat seperti adat hari sembahyang terawih, sudah itu berangkat kembali. Setelah esok harinya maka Laksamana mengarak serban, adat raja-raja Melayu berangkat ke masjid bertengkolok berbaju sarong, itulah yang jadi larangan pada orang kahwin; barang siapa yang dikurniai maka beroleh memakai dia; dan memakai cara Keling itu pun larangan lagi, melainkan barang siapa sedia pakaian, dapatlah dipakainya sembahyang dan kahwin (Shamad Ahmad 1979:74) 

Suasana sepuluh hari terakhir Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri, terasa meriah dan lebih hidup. Di Kampung Tanda hulu, Kelurahan Daik, untuk menyambut malam tujuh likur pada sorenya ibu-ibu rumah tangga membuat kue untuk dibagikan kepada tetangga berdekatan rumah dan sanak keluarga yang berada di lain kampung. Jika malam tiba, halaman rumah masyarakat terdapat lampu pelita. Pada malam tujuh likur suasana tambah hidup dan meriah karena sekeliling rumah diterangi semakin banyak lampu pelita. Yang paling bergembira ialah para anak-anak, mereka bermain kembang api dan bahkan petasan.  Di Kelurahan Daik, di malam tujuh likur suasana bertambah meriah dan ramai, karena masyarakat berbondong-bondong keluar rumah mengendarai kendaraan mau pun berjalan kaki, untuk melihat berbagai pintu gerbang yang berada di kampung-kampung sekitar.

Dalam melaksanakan tradisi tujuh likur, di mulai dengan memasang satu pelita di malam satu likur atau dua puluh satu Ramadhan di halaman depan rumah. Seterusnya  pada malam berikutnya, pelita yang dipasang sebanyak dua buah, mengikuti bilangan jumlah malam dua likur. Malam selanjutnya pelita terus ditambah satu buah, hingga sampai malam tujuh likur atau malam dua puluh tujuh Ramadhan. Pada malam tujuh likur  pelita dipasang minimal sebanyak tujuh buah, atau pun sebanyak mungkin sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan. 

Pada malam selanjutnya hingga malam Idul Fitri, pelita terus dipasang  dalam jumlah yang banyak. Malam Idul Fitri, sebagai malam penutupan pemasangan pelita dan berakhirnya tradisi tujuh likur. Pemasangan pelita yang dimulai pada malam selikur sebagai pertanda umat Islam telah berada di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan yang salah satunya terdapat malam Lailatul qadr dan setiap orang perlu terus  meningkatkan lagi amal ibadah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN