Metik Marsiya
Metik Marsiya Keuangan

Praktisi Manajemen, Keuangan, Strategi, Alternatif dan Spiritual

Selanjutnya

Tutup

Dongeng Artikel Utama

[Dongeng] Permintaan untuk Turun Kembali ke Gelanggang

10 April 2017   13:05 Diperbarui: 10 April 2017   16:08 614 3 1
[Dongeng] Permintaan untuk Turun Kembali ke Gelanggang
Koleksi Pribadi

Berduyun-duyun di depanku mereka menghadap, sowan. Pandangan mata penuh dengan wajah sendu dan sayu. Saat ini aku berada di ibu kota negeri karena sesuatu hal yang membuat aku harus ada di sini, terpaksa tinggal. Dan saat aku mulai merebahkan badan saat mereka datang.

"Maksud kalian?"

"Gusti ratu, bukankah Gusti Ratu memahami bahwa kami membutuhkan pengayoman yang bisa membuat kami hidup tenang dan nyaman, yang membuat kami bisa hidup dengan tenang dan saling berdampingan".

"Lalu apa hubungannya dengan aku, bukankah kalian bisa menentukan hidup sendiri? Jangan terlalu berlebihan, semua bisa berjalan sendiri-sendiri dalam dunia masing-masing"

"Gusti, bukankah Gusti bisa melihat apa yang terjadi selama Gusti tidak pernah melihat kami!" Dalam jagad bathin mereka mengajak berkeliling. Terlihat di sana-sini para penghuni jagad bathin tanpa malu-malu berebut kekuasaan, saling mengejek, saling menyombongkan diri dan saling merendahkan. Semua merasa yang paling mampu, yang paling bener, yang paling hebat dan berusaha merebut puncak kekuasaan dengan segala cara, kejam dan rendah. Tak ada lagi martabat dan tak ada lagi etika, tak ada lagi saling asih, asah, dan asuh. Semua berjalan dengan caranya masing-masing, yang keras dan kasar akan menguasai dunia bathin, yang adigang, adigung dan adiguno menjadi penguasa. Tegakah Gusti melihat semua ini?"

Aku memandang berkeliling, tidak salah apa yang disampaikan mereka, mahluk yang tinggal di ibukota negeri ini. Saat aku masih sering mengunjungi mereka, dan sesekali menyapa, dunia bathin tidak seriuh ini. Ibarat seorang anak ditunggui oleh ibunya, ibarat seorang warga dijaga oleh pemimpin yang diseganinya, membuat mereka menjadi sungkan untuk berbuat kekacauan. Dunia bathin hidup berdampingan dengan saling menjaga, jarang terjadi kekisruhan, apalagi kekacauan. Sesekali terjadi perselisihan karena perbedaan pendapat adalah hal yang sangat biasa, tetapi sepertinya kali ini tidak begitu. Mahluk-mahluk bergerak tanpa rasa malu, kejam dan jahat. Bahkan ada mahluk yang sangat besar berwarna abu-abu yang suka menghasut dan culas, seakan-akan tidak peduli lagi dengan kekacauan yang terjadi ini akan menyusahkan rakyat-rakyat kecil dan banyak.

Tidak mudah didudukkan sebagai pengayom, banyak piranti yang harus digenapi, banyak hal yang harus selalu dilakukan. Belum cukup sampai disitu, masih harus berani melawan angkara murka, menjaga ketentraman dan kerukunan dunia jagad bathin, tegas, netral dan adil. Memahami dan mengayomi, menentramkan dan mendamaikan. 

Aku melihat  ke dalam diriku sendiri, bathin porak poranda, luka di sekujur tubuh menyisakan cacat di bagian kepala dan dadaku. Menjadi tidak utuh, menjadi tidak teliti dan banyak kelemahan di sana sini, aku benar-benar pada kondisi yang sangat lemah. Tetapi sepertinya mereka tidak mengerti. Begitulah namanya mahluk, lebih banyak yang memikirkan dirinya dan keinginannya, sedikit memahami orang. Aku hidup sendiri, dan hanya mampu mengobati diri sendiri, berjuang sendiri dengan segala keterbatasanku, tanpa ada yang memahami keadaanku. Mereka yang biasa aku bantu sudah mukti dan lupa dengan sekelilingnya. Kehidupan yang bermakna saling menjadi hilang, berganti menjadi apa yang bisa mereka dapatkan. Bukan lagi kebersamaan, tetapi sudah menjadi aku dan kamu semuanya untukku, hanya untukku. 

Dalam daphukan sebagai penjaga negeri, pengukuhan di jagad bathin, pemimpin tanpa tahta, penguasa tanpa mahkota, tanpa harta dan tanpa istana, sungguh menjalankan tugas ini hanyalah sebuah kewajiban dengan beritikad sebuah keiklasan untuk kebaikan semesta. 

Aku tahu yang sedang terjadi, tetapi aku sangat tak berdaya, kekuatanku habis. Kali ini aku harus hidup untuk diriku sendiri, menutup mata dan telinga. 

Aku tidak memungkiri bahwa banyak hal yang terjadi di dunia bathin membuat jagad bathin  bergemuruh, putaran negeri dan kehidupan tanpa penjaga bagaikan sebuah keadaa di rimba belantara nan ganas, kejam tanpa hati. Manusia-manusia menjadi beringas, haus akan tahta dan kekuasaan. 

Tampak dari sini, sosok pemimpin negeri yang pernah kudampingi dan kujaga, kali ini hanya tampak kepalanya, tetapi badannya sudah digubhet oleh ular di sekujur tubuhnya. Beberapa ular sekaligus, dari depan dan dari belakang, dari kiri dan dari kanan. Penguasa tetap penguasa, tampak besar dan tampak gagah, menyilaukan. Tetapi yang terlihat adalah sebenarnya dia berjalan sendiri, semua yang ada di sekitarnya bergerak dengan kepentingan-kepentingannya sendiri. Mengikat kakinya dan mengarahkan langkahnya untuk dirinya sendiri, pamrih dan bukan seiring sejalan dengan mau sang pemimpin negeri

Pemimpin akhirnya menjadi simbol tanpa tahu arah kiri dan kanan, saat mau menentukan arah kaki mereka dijerat dan tersandera, membuat gerak langkahnya sangat terbatas. Pandangan matanya tertutup kabut, sengaja dibuat kabut oleh orang-orang di selilingnya, supaya mereka bisa semena-mena dalam bersikap, tampak bagus di depan pemimpinnya tetapi menginjak dan menggigit saat mereka harus berhadapan dengan anak buahnya. Jagad gelapnya negeri. 

Aku selalu menyakini bahwa bukan aku satu-satunya yang bisa menyelesaikan ini semua, bahwa banyak yang mampu dan lebih baik, patah tumbuh hilang berganti, akan tiba saatnya jika aku mundur untuk menata kembali hidupku dan anak-anakku yang sempat kocar kacir karena tugas pendampingan bathin negeri. 

Pemimpin dan negeri spiritual sudah seharusnya seimbang, kuat dan dijaga dari lahir dan bathin, bukan hanya satu sisi saja. Bisa jadi mereka kuat karena diri mereka sendiri, bisa jadi aku salah melihat dan menempatkan diri. Bahwa mereka saat ini kehilangan penjaga utamanya, lagi-lagi aku bisa saja salah. Bahwa negeri ini mulai berhenti dan kehilangan arahnya, bisa jadi juga aku ngawur banget. 

Wahyu Keprabon, bisa jadi juga bukan dari milikku, mungkin dan semuanya serba mungkin. Bukankah semua adalah takdir dan garis kehidupan dalam sebuah perputaran waktu, di mana titik-titik kejadian akan bertemu. Tetaplah aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa apa-apa. Maka keputusan untuk berhenti dari semua ini menurutku adalah sebuah keputusan yang sudah sangat pas, dalam sebuah keadaan yang benar-benar aku inginkan, tenang dan tentram, tutup mata dan telinga untuk semua yang terjadi. 

Hanya mampu semalam aku tinggal di sini, saat pagi menjelang aku harus pulang kembali ke kota asalku. Di mana aku bisa kembali kepada ketenangan dan pelukan kasih sayang anak-anakku. Tampak wajah-wajah penuh kesedihan ketika mereka melepaskanku berangkat, mereka mengiringi perjalananku sampai keluar perbatasan kota ini. Diiringi isak tangis dan air mata mereka melepasku, tersisa harapan besar untuk aku kembali kepada mereka. Tetapi nun jauh di tempat yang berbeda tampak sorot mata bahagia dan kelegaan ketika aku memutuskan pergi tanpa cawe-cawe pada situasi kacau ini, mereka yang sedang mencari kekuasaan, mereka yang sedang mengumbar hawa nafsu angkara murkanya, bagaikan Dosomuko dan Rahwono. 

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua sudah ada pepesthennya masing-masing. Demikian juga kali ini, saya pamit." 

Di perbatasan kota mereka melepasku dan aku melanjutkan perjalanan udaraku, sepanjang jalan yang kulalui cuaca gelap dan berawan, bahkan sampai perbatasan di kotaku cuaca sangat gelap. Kami berputar- putar di atas laut selatan tempat Gusti Ratu Kidul bersemayam, dan di sana aku menyempatkan uluk salam takzim atas perjalananku yang melalui daerah kekuasaannya. Gelap, langit benar-benar gelap, sehingga pesawatku tidak bisa memasuki kotaku. 

"Kamu tega melihat semua ini, Nduk?" Ki Juru menyambutku di luar kota ini. 

"Kenapa, Khi? Bukankah kita sepakat untuk meneruskan perputaran negeri ini. Kenapa Khi Juru mempertanyakan lagi?" 

"Gendhukku sing wudele bodhong lonjong koyo utheke sing gondrong, diputer kuwi bener, nanging nek banjur ditinggal prung, itu namanya ga bener. Memutar artinya bertanggung jawab akan hasil akhirnya", terdengar nada suara Khi Juru meninggi. Wajahnya masam. 

Panembahan Senopati diam, dan sesepuh yang lain membuang pandangan saat aku berusaha mencari pembelaan dan dukungan. Jika Khi Juru saja sudah menghakimiku, maka jangan berharap yang lain akan membelaku. 

"Aku tidak mau konyol , Khi. Keadaanku sedang sangat tidak memungkinkan. Pilihannya diriku yang selamat atau negeri ini yang selamat, tidak bisa memilih dua-duanya. Bukankah semua sesepuh bisa melihat semua ini, kenapa tidak bisa memahamiku?" Gantian suaraku yang meninggi. Senyap semuanya senyap, kami masih berputar-putar di atas laut, di  langit Pantai Selatan dalam suasana langit yang benar-benar pekat dan gelap. Langit kelam simbol awal kekelaman. 

"Pancen, memang para penguasa itu seperti sudah dibutakan mata hatinya, lupa diri dan tidak tahu diri. Lupa akan asal muasal bathin yang melambari kekuasan mereka. Mereka tidak pernah mengerti, jika lambarannya muthung loyo luthung terus diam saja koyo enthung begini semuanya akan berantakan. Nanti mereka sendiri yang akan nggerung-nggerung karena kekalahan dan kehancurannya. Pancen nek uthekke wes kebunthethan kepenak itu membuat mereka semua gelap mata". 

"Manusiawi, Khi Juru. Ada saatnya sehat dan ada saatnya sakit. Besi saja ada sakitnya, daun saja ada layunya. Hal yang sangat biasa. Saat dulu dan sekarang sudah berbeda. Dan aku harus sendirian untuk menyembuhkan luka-lukaku". 

Ki Juru memeluku, sekali ini terlihat matanya basah melihat penderitaanku saat aku harus bertahan dengan semua keadaan ini. 

"Tolong pahami, saya tidak muthung.Tetapi saya harus menyelamatkan diri saya, hingga jika situasinya memungkinkan saya akan kembali, tetapi tidak saat ini". 

"Dan selama itu kita harus siap menghadapi segala yang terjadi, begitu maksudmu, Nduk?"

"Begitulah, Khi. Maaf Khi, saya tidak bermaksud meninggalkan tanggung jawab saya, tetapi saya mundur dari gelanggang untuk menyelamatkan hidup saya dan akhirnya jika masih diberi waktu dan kesempatan saya akan kembali, jika saatnya tiba. Dan bisa saja dari gelanggang yang berbeda". 

Perjalanan masih panjang, perjalanan baru saja dimulai. Aku tahu akan ada yang jatuh dan bangun, sama halnya akan ada yang datang dan pergi. Kesempatan baik atau dalam situasi yang buruk akan selalu ada yang memanfaatkan. Hal yang biasa dalam kehidupan ini. Menutup mata untuk seluruh kejadian, dan kembali menata diri untuk menguatkan menghadapi kejadian hidup berikutnya.