Mohon tunggu...
Metik Marsiya
Metik Marsiya Mohon Tunggu... Menembus Batas Ruang dan Waktu

Praktisi Manajemen, Keuangan, Strategi, Alternatif dan Spiritual

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Notonegoro dan Air Tirta Kamandanu, Eyang Banten

17 Juli 2013   08:11 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:26 0 7 9 Mohon Tunggu...

"Kenapa negeri ini harus dijaga?" "Karena dari sinilah awal muasal kehidupan, sangkan paraning dumadi. Di tanah nusantara, dan di tanah Jawa inilah manusia pertama dilahirkan. Titisane Semar. Jika nusantara ini hancur, maka hancurlah kehidupan di bumi." "Apa istimewanya tanah Jawa, Eyang?" Kali ini aku bersama dengan Eyang Banten, pendamping para leluhur, termasuk pendamping Ki Juru dan Romo Panembahan Senopati. "Tanah Jawa adalah tanah kehidupan, nyawa dan roh Bumi ada di sini. Di tanah ini terdapat sumur kehidupan, air tirta kamandanu. Siapa yang meminumnya, maka akan abadi selamanya." Lelaki kurus, kulit sawo matang, legam terbakar matahari. Leluhur dari Banten, penjaga sumur abadi. selembar kain hitam, melilit,  menutupi dari pinggang sampai di atas lutut. Selempang selendang menutupi dadanya, berikat  kepala. Perawakan pas, tidak terlalu kurus seperti Ki Juru, tetapi barisan tulang rusuk dan ototnya terlihat kukuh. Eyang Banten, pendamping penataan kebijaksanaan, dasar keseimbangan. Sederhana dan bersahaja. "Dan di sini juga pusar bumi, kepundan. Nafas bumi ada di tanah ini. Jika bumi sudah kehilangan nafasnya, maka hilang pulalah kehidupan di muka bumi". "Bagaimana dengan di daerah yang lain, bukankah di tempat lain juga punya kehidupan yang sama, punya leluhur dan punya cerita sejarah?" "Semua punya masa lalu, punya latar belakang. Tetapi awal muasal dan latar belakang dari semua cerita ada di tanah ini. Tanah ini adalah jantung, denyut nadi Bumi, denyut kehidupan di dunia.  Leluhur-leluhur yang kau temui sepanjang perjalananmu adalah mereka-mereka yang pernah mendapat tugas sepertimu, menjaga tanah jawa, dan aku adalah pendahulumu". "Di bawah tanah Jawa terdapat mata air kehidupan. Hanya orang tertentu yang bisa sampai ke sana. Siapapun orang itu akan diberi kemampuan untuk menjadi tabib, raja pengobatan." "Bagaimana orang mengambil airnya, eyang ? Jika letaknya saja di dasar bumi, di bawah tanah." Nalarku terlalu dangkal untuk menangkap penjelasan eyang. "Air itu sama halnya dengan air yang dikisahkan dalam legenda Dewa Ruci. Kehidupan yang sesungguhnya.  Sastro Jendra Hayuningrat. Cangkok Wijaya Kusuma. Sama saja.  Jika ada orang yang diijinkan untuk sampai ke sana adalah orang yang  senantiasa melakukan topo ngrame. Laku dengan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan, tanpa pamrih, apapun bentuk pertolongannya, iklas. Ringan tangan, hati jembar. Apapun keadaanya, berusaha menolong orang sebisanya. menolong dengan materi, jika tidak punya dengan tenaga, jika tidak ada lagi dengan doa". "Mereka yang menemuiku dan akhirnya menemukan sumur abadi adalah orang yang berada dalam kepasrahan,  kebeningan hati, dan dalam ketenangan jiwa. Karena demikianlah seharusnya hidup, tidak bergejolak, tidak grusa grusu, senantiasa mengalir bagaikan tenangnya air danau, bergemericik menyejukkan, menenangkan." "Janganlah  terperdaya oleh keinginan,  terpenjara oleh nafsunya. Hidup adalah panggilan jiwa untuk selalu kembali kepadaNya, menyiapkan jalan, merintis, dan menerabas semua yang menghalangi perjalanan ini. Keinginan dan nafsu jiak tidak dikendalikan akan menjadi rintangan untuk menemukan jalanNya." "Masih banyak yang masih harus dikerjakan untuk mewujudkan keinginanmu, menjadikan negeri ini negeri cahaya. Jika Gusti Allah memberikan restunya maka semuanya akan terjadi." "Anakku, cahaya kehidupan. Menjadikan negeri cahaya berarti menjadikan dirimu cahaya kehidupan, hingga sinarnya akan menyinari bumi, menyinari negeri, membawa kedamaian, dan mengembalikan semuanya pada tatanan yang sebenarnya." "Setiap manusia adalah cahaya. Menjadi penjaga adalah sebuah karunia. Seorang penjaga nusantara akan diberikan anugrah kemampuan Notonegoro. Notonegoro adalah sebuah gelar, gelar yang diberikan kepada seseorang karena kemampuannya dalam menata negara, melihat secara utuh jagad lahir dan batin, dan mengetahui simpul-simpul antara keduanya. Jika gelar notonegoro sudah diberikan kepada seseorang di nusantara ini, maka harapan akan datangnya perubahan dan kemakmuran akan menjadi kenyataan". "Apakah notonegoro ini yang akan menjadi pemimpin, eyang?" "Belum tentu, tetapi notonegoro akan mengambil bagian baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses bernegara. Bathinnya sangat kuat. Pemikirannya tajam. Selalu mampu memberikan jalan keluar dan menemukan cara untuk menyelesaikan semua masalah negeri dengan baik. Tuntas, aman tanpa masalah". "Kira-kira kapan, eyang?" "Kita tunggu saja, bukankah semua sudah dimulai. Tidak akan lama lagi. Bersiaplah, kukuhkanlah hatimu untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Dan satu lagi, anakku, semakin pasrah kepada Yang Kuasa, maka kamu akan semakin kuat. Aku pergi dulu". Eyang Banten meninggalkan paseban agung. Langkahnya biasa saja, tetapi dengan ilmu Sayepi Angin, dalam satu kedipan mata eyang banten telah  hilang dalam kegelapan malam. Aku masih merenungi apa yang disampaikan Eyang Banten denganku tentang Notonegoro. Selama ini orang-orang terpaku pada singkatan nama para pemimpin negeri ini, ternyata yang saya terima berbeda makna. Entah mana yang lebih pas, aku tidak mengerti. Kebenaran di jagad bathin tidak ada yang mutlak, boleh berbeda persepsi, dan tidak ada kebenaran atau kesalahan. Yang dibutuhkan adalah toleransi terhadap perbedaan dengan saling menghargai dan tidak menghakimi, karena kebenaran yang sesungguhNya hanyalah milikNya. Lanjutan Link   http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2013/07/11/menunggu-perubahan-prosa-jongko-joyoboyo-572664.html

KONTEN MENARIK LAINNYA
x