Mohon tunggu...
Meta Morfillah
Meta Morfillah Mohon Tunggu...

seorang anak manusia yang dilahirkan oleh seorang ibu di tanggal 22 oktober

Selanjutnya

Tutup

Catatan

[Review Buku] 7 Habits

23 Februari 2015   23:04 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:38 3009 0 0 Mohon Tunggu...
[Review Buku] 7 Habits
14246822261619715623

Judul : The 7 Habits of Highly Effective People
Pengarang : Stephen R. Covey
Penerbit: Binarupa Aksara cetakan pertama 1997
Genre : pengembangan diri/non fiksi
Jumlah halaman: 345
Buku ini merupakan buku keenam (semoga saya tidak salah) dari karya Stephen Covey. Tapi baru karya ini yang saya baca, bahkan sudah ada penyempurnaannya menjadi 8 habits (habits terakhir tentang menemukan suara). Namun saya tetap memilih mereview buku ini, karena begitu berbekas dalam benak saya dan dipakai dalam training, bahkan dilisensi oleh salah satu kompetitor perusahaan tempat saya bekerja. Berikut paparan saya mengenai 7 kebiasaan manusia yang efektif.
Oke, dimulai dari daftar isi. Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, berjudul paradigma & prinsip merupakan prolog. Membahas tentang betapa pentingnya sebuah sudut pandang (paradigma), yang biasanya mempengaruhi keberhasilan hidup manusia. Paradigma dipengaruhi pengkondisian yang berdampak pada persepsi. Diilustrasikan melalui sebuah gambar (yang umum sekali). Dari sebuah gambar itu, dapat ditangkap dua hal, yaitu wanita berusia 20 tahun dan wanita berusia 70 tahun. Hal ini membuktikan bahwa paradigma Anda dipengaruhi pengkondisian (dari sudut mana Anda melihat) dan menghasilkan sebuah persepsi yang berbeda. Hal ini bukan masalah logis, tetapi psikologis ketika dua orang dapat melihat hal yang sama, tidak saling sepakat, namun sama-sama benar (h.14).
Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan. (Aristoteles)
Bagian dua, berjudul Kemenangan Pribadi, memuat tiga kebiasaan. Kebiasaan pertama, “Jadilah proaktif” membahas tentang mengubah pribadi dari reaktif (bereaksi sebagaimana stimulus diberikan) menjadi proaktif (mampu memilih dan menetapkan reaksi yang diinginkan terhadap stimulus. Memiliki kontrol kehidupan). Dimulai dari bahasa yang digunakan. Salah satu contoh bahasa reaktif “ia membuat saya begitu marah.”
Kalimat di atas menandakan bahwa emosimu tidak berada dalam kontrol dirimu. Emosimu mampu dikendalikan oleh orang lain. Seharusnya, bersikap proaktif dengan berkata, “Saya mengendalikan perasaan saya sendiri.”
Banyak sekali di antara kita yang menyalahkan kekuatan luar—orang lain, keadaan, bahkan zodiak—untuk situasi mereka sendiri. (h.69)

Mengetahui bahwa kita bertanggung jawab—mampu berespons—merupakan dasar bagi efektivitas dan kebahagiaan kita sendiri. (h.84)
Kebiasaan kedua, “merujuk pada tujuan akhir”. Mulailah segala sesuatu dengan akhir di dalam pikiran. seperti apa Anda ingin dikenang semasa hidup? Buat kriteria dasar dari sekarang. Lalu berfokuslah pada tujuan akhir tersebut. Dijelaskan pula dalam buku ini, ada 10 pusat kehidupan yang biasa dijadikan tujuan akhir manusia. Kesepuluh pusat itu adalah, pasangan, keluarga, uang, kerja, barang/milik, kesenangan, teman, musuh, gereja (organisasi agama), dan diri sendiri. Namun, bila Anda menggunakan salah satu itu sebagai pusat hidup Anda, maka tidak ada yang sejati, semua itu adalah pusat-pusat alternatif. Sedangkan pusat yang sejati adalah prinsip (yang mengandung pedoman, kebijaksanaan, dan daya).
Kebiasaan ketiga, "dahulukan yang utama”. Pernah saya bahas, tips empat kuadran waktu di grup.
Kuadran 1: penting & mendesak, seperti krisis, proyek dengan deadline yang mendesak.
Kuadran 2: penting & tidak mendesak (kuadran efektif), seperti pengembangan hubungan, rekreasi.
Kuadran 3: tidak penting & mendesak, seperti interupsi telepon, beberapa meeting.
Kuadran 4: tidak penting & tidak mendesak, seperti aktivitas menyenangkan, pemboros waktu.
Anda harus bersikap proaktif untuk mengerjakan kuadran II, karena kuadran I & III mengerjakan Anda. Mengapa? Karena seringkali urusan mendesak/genting akan menghabiskan waktu Anda & membuat stress, walau masalah tersebut tidak penting. Bila ingin menjadi manusia efektif, buatlah waktu Anda berada di kuadran II selagi bisa.
Dari tiga kebiasaan awal, bila dipraktikkan akan mengubah kita menjadi manusia yang ketergantungan menjadi manusia mandiri. Inilah yang dinamakan kemenangan pribadi. See… semua dimulai dari dirimu.
Bagian tiga, berjudul Kemenangan Publik, memuat tiga kebiasaan. Kebiasaan keempat, “berpikir menang-menang”. Terdapat enam paradigma interaksi manusia (berkaitan dengan negosiasi) yaitu menang/menang, menang/kalah, kalah/menang, kalah/kalah, menang, dan menang/menang atau tidak sama sekali. Pilihan mana yang terbaik? Jawabannya “Tergantung”. Untuk situasi pertandingan sepak bola yang ingin Anda menangkan, maka situasi menajdi Menang/kalah. Tapi untuk situasi hubungan yang menurut Anda persoalannya tidak penting dibandingkan harga hubungan tersebut, mungkin Anda akan berada di posisi kalah/Menang untuk meneguhkan orang lain. Prinsip menang-menang merupakan kepemimpinan antar pribadi (h. 212), dimulai dengan karakter, bergerak pada hubungan dan mengalirlah sebuah kesepakatan. Untuk memperoleh solusi menang-menang, ikutilah 4 proses berikut:
1.Lihat masalahnya dari sudut pandang pihak lain. Usahakan benar-benar untuk mengerti dan peduli daripada yang dapat mereka lakukan sendiri.
2. Kenali persoalan pokoknya (bukan posisi) yang terlibat.
3.Tentukan hasil apa yang merupakan solusi yang dapat diterima sepenuhnya.
4.Kenali pilihan-pilihan baru yang mungkin diambil untuk mencapai hasil-hasil itu.
Kebiasaan kelima, “berusaha dimengerti terlebih dahulu, baru dimengerti”. Hal ini memerlukan perubahan paradigma yang sangat mendalam. Kita biasanya berusaha lebih dahulu untuk dimengerti. Kebanyakan orang tidak mendengar dengan maksud untuk mengerti, mereka mendengar dengan maksud untuk menjawab. Empat respon autobiografis manusia dalam mendengarkan ialah mengevaluasi (kita setuju atau tidak setuju), menyelidik (kita mengajukan pertanyaan dari kerangka acuan kita sendiri), menasihati (memberikan nasihat berdasarkan pengalaman kita sendiri) dan menafsirkan (berusaha memahami dan menjelaskan motif orang berdasarkan motif kita). Dibutuhkan keterampilan mendengar empatik yang harus terus diasah. Dan kuncinya, adalah “baru dimengerti”. Setelah kita berusaha mengerti, maka kita harus mengungkapkan bagaimana kita ingin dimengerti. Unik ya? Ada hubungan timbal balik. Tidak melulu kita yang mendengarkan/mengerti orang lain saja, melainkan kita pun dimengerti. Seimbang bukan?
Kebiasaan keenam, “wujudkan sinergi”. Alam semesta bersifat sinergistik, dan menghargai perbedaan yang ada. Anda dapat menjadi sinergistik dalam diri Anda, bahkan di tengah lingkungan yang bermusuhan. Tidak usah memasukkan hinaan ke dalam hati, luaskan perspektif Anda. Gunakan keberanian Anda dalam kerja tim (sinergis) untuk menjadi terbuka, mengekspresikan gagasan perasaan & pengalaman Anda dengan cara yang akan mendorong orang lain menjadi terbuka pula. Anda dapat menghargai perbedaan dalam keanekaragaman tanpa perlu setuju dengan mereka, anda hanya meneguhkan mereka. Carilah selalu alternatif ketiga ketika pilihan yang ada hanya benar dan salah.
Dari kebiasaan keempat hingga keenam, Anda berubah dari makhluk mandiri menjadi makhluk “saling” tergantung. Maka dari kemenangan pribadi, anda bergerak menuju kemenangan publik.
Bagian empat sekaligus penutup, adalah kebiasaan terakhir yaitu asahlah gergaji.
“Kadang ketika saya mempertimbangkan betapa luar biasanya konsekuensi dari hal-hal kecil… Saya tergoda untuk berpikir, sebenarnya tidak ada hal-hal kecil.” Bruce Barton (h. 287)
Kebiasaan ketujuh ini adalah kapasitas produksi pribadi Anda. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang Anda miliki, yaitu diri Anda (h. 288).
Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan.
“Apa yang sedang Anda kerjakan?” Anda bertanya.
“Tidak dapatkah Anda melihat? Saya sedang menggergaji pohon ini,” jawabnya tidak sabar.
“Anda terlihat lelah. Berapa lama Anda telah mengerjakannya?”
“Lebih dari 5 jam, dan saya lelah. Ini benar-benar kerja keras!” serunya.
“nah, mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu? saya yakin Anda dapat bekerja lebih cepat setelah mengasahnya,” ucap Anda.
“Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. Saya terlalu sibuk menggergaji!”
Itu merupakan salah satu ilustrasi mengenai kebiasaan ketujuh yaitu “mengasah gergaji”, hal mana merupakan perumpamaan dari diri Anda. Ketika diri Anda sudah terlalu lelah, maka lakukanlah pembaruan meliputi empat hal, yaitu fisik (olahraga, nutrisi, manajemen stres), mental (membaca, visualisasi, perencanaan, menulis), spiritual (penjelasan nilai & komitmen, studi & meditasi) dan sosial/emosional (pelayanan, empati, sinergi, rasa aman intrinsik).
Tuhan bekerja dari dalam ke luar. Dunia bekerja dari luar ke dalam. Dunia akan membentuk manusia, tapi Tuhan dapat mengubah sifat manusia. Ezra Taft Benson.
Kelebihan buku ini: Gaya bahasanya tidak terlalu kaku walau terkadang menggunakan istilah “agak tinggi”, menggunakan beragam kasus, ilustrasi dan cerita-cerita yang memudahkan pembacanya paham.
Kekurangan: lebih kepada fisik buku ini, masih terkesan biasa dan standar. Saya sih berharap dibuat dari kertas kece seperti bukunya Rhenald Kasali “recode your DNA”.
4.5bintang dari 5 bintang.
Thanks,
meta morfillah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x