Mohon tunggu...
Merza Gamal
Merza Gamal Mohon Tunggu... Konsultan - Pensiunan Gaul Banyak Acara

Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Misteri Bankir Kembar Antar Bangsa (Bagian ke-18)

10 Desember 2022   04:53 Diperbarui: 10 Desember 2022   05:03 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image: Misteri Bankir kembar antar bangsa (bagian ke-18) - Grafis olahan Merza Gamal

Malam ini merupakan malam terakhir aku di Stuttgart sebelum besok pagi bertolak ke Frankfurt, dan akhir pekan tugas kami di Jerman sudah selesai, dan rencananya aku akan langsung pulang ke Jakarta.

Sesampai di rumah, sepulang dari kantor, seperti biasa sudah ada hidangan sore dan kopi tersedia untukku dan Gustav. Mama menyambut kami pulang kantor, "besok Morgan sudah tidak ada di rumah ini lagi, Mama wird meinen Sohn Morgan immer vermissen. Semoga tidak lama kita berpisah dan bisa bertemu kembali."

Mama memelukku dengan erat, kemudian Mama mengelus tanganku, membelai rambutku. Aku kembali diperlakukan bagaikan anak kecil Mama.

"Mama masak hidangan istimewa untuk malam sebagai malam perpisahan kita," kata Mama sambil terus memelukku. "Cepat sekali waktu berlalu, Mama vermisst meinen Sohn Morgan immer noch sehr," Mama seakan tidak mau melepaskanku.

Tiba-tiba Papa muncul dari ruang depan. Papa baru kembali dari kantornya. Mama pun meminta kami bebersih diri dan siap-siap makan malam. "Mama tunggu semuanya jam tujuh malam di ruang makan." Dan, kami pun bangkit menuju kamar masing-masing.

Setelah di kamar aku pun langsung mandi, kemudian berwudhu dan bersiap shalat maghrib dijamak isya. Selesai semua itu, jam masih menunjukkan pukul 6.30 PM, masih setengah jam lagi untuk kumpul di meja makan. Tetapi, mengapa ada perasaan aku ingin cepat-cepat bersama Mama menghabiskan malam terakhirku di Stuttgart? Kemungkinan ini pertemuan kami terakhir sebelum aku kembali ke Indonesia. Karena dari Frankfurt aku akan langsung pulang ke Indonesia.

Seminggu bersama Mama ditambah dengan akhir pekan di minggu lalu, membuat batinku semakin dekat dengan Mama. Apabila aku sedang dipeluk Mama ada rasa aliran-aliran darahku yang menyatu dengan aliran darah Mama. Logika yang menyatakan aku bukan anak Mama dan bukan saudara kembar Gustav semakin hari semakin terkalahkan oleh getaran-getaran batinku.

Getaran-getaran itu semakin mengantarkan suara hatiku ke suatu tempat dimana kau dan Gustav pernah di suatu tempat yang penuh keheningan dan damai dalam sekian lama. Pelukan Mama memperkuat getara-getaran itu. Apalagi, jika kami sedang bertiga. Biasanya Mama memelukku, dan Gustav memeluk Mama.

Namun getaran-getaran batin itu selalu kulawan dengan kehadiran wajah Mama yang memelukku erat-erat seakan aku tak akan terlepas dari pelukannya. Bahkan, dalam suatu malam di rumah ini aku sempat bermimpi tidur dalam dekapan Ibu di sisi kananku dan Mama di sisi kiriku.

 Aku pun keluar dari kamarku, dan menuju tangga serta turun ke bawah, lalu di ruang keluarga aku pun duduk di sofa mengarah pandangan ke TV. Baru saja aku duduk di sofa, tanpa kusadari Mama sudah ada di sebelahku, dan dia memelukku erat. "Mama wird meinen Sohn Morgan immer vermissen," kata-kata yang diucapkan Mama tadi sore kembali kudengar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun