Mohon tunggu...
Merza Gamal
Merza Gamal Mohon Tunggu... Konsultan - Pensiunan Gaul Banyak Acara

Menulis untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar menjadi manfaat bagi orang banyak dan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Mungkinkah Mengembangkan Industri Fesyen Ramah Lingkungan?

29 Juli 2022   08:52 Diperbarui: 29 Juli 2022   10:31 196 20 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Image:  Mungkinkah Mengembangkan Industri Fesyen Ramah Lingkungan? (Photo by Merza Gamal)

Setelah belajar banyak, Kakek Merza baru sadar bahwa industri fesyen merupakan salah satu industri yang ikut merusak keseimbangan alam dan boros air, mulai dari proses pencelupan, pengolahan, pengolahan basah mengkonsumsi banyak air, mencemari banyak air, dan mungkin bukan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya berharga dimiliki bumi.

Menurut laporan Ellen MacArthur Foundation, industri fesyen menggunakan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lima juta orang. Industri ini bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon global tahunan. Hal tersebut merupakan gabungan dari semua penerbangan internasional dan pelayaran laut. Ada beberapa angka yang menunjukkan bahwa industri fesyen menghasilkan sekitar lima gigaton [emisi gas rumah kaca setiap tahun].

Tentu saja ada industri lain yang jauh lebih besar menyumbang masalah emisi gas rumah kaca. Namun demikian, industri fesyen merupakan kontributor penting dan profil tinggi untuk tantangan yang kita hadapi. Hampir semua pembelian fesyen adalah pembelian diskresioner. 

Orang tidak akan mati kedinginan ketika musim dingin dengan menggunakan jaket dari bahan lain dari yang selama ini digunakan atau semacamnya. Sebagai konsumen, kita secara kolektif bisa berubah agar jejak karbon dan pemborosan air dari industri fesyen dapat diminimalisir. Akan tetapi, bagaimana ada sebuah lembaga yang bisa memikirkan aspek jejak karbon tersebut?

Dalam episode baru podcast Forward Thinking McKinsey Global Institute (27 Juli 2022), Edwin Keh, CEO Institut Penelitian Tekstil dan Pakaian Hong Kong menyelidiki hal tersebut dan proyek inovatif lainnya yang berfokus tentang keberlanjutan dan memperpendek rantai pasokan tekstil dan fesyen.

Menurut Edwin Keh, jika kita melihat bagian manufaktur dari rantai pasokan, di situlah peluang indutri fesyen ikut menyelamatkan bumi. Jenis bahan yang dpilih, cara memproses bahan, cara memproduksi bahan, cara mengangkut produk yang merupakan bagian terbesar dari jejak karbon rantai pasokan merek fesyen.

Dengan demikian, jika industri mengubah sesuatu lebih jauh ke hulu dari sana, itulah peluangnya. Bukan hanya jejak karbon, tetapi juga banyak hal tidak sehat lainnya yang dihasilkan oleh industri fesyen, yakni: limbah kimia. limbah padat. air kotor, dan hal-hal yang dipancarkan ke udara.

Edwin Keh juga menjadi pengajar di Wharton School, University of Pennsylvania, Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong, serta memiliki pengalaman panjang dalam bisnis ritel, antara lain bekerja untuk Walmart dan Donna Karan, sehingga beliau paham sekali dengan kondisi industri fesyen.

Image: Proses daur ulang Garment to Garment ciptaan Institut Penelitian Tekstil dan Pakaian Hong Kong (File by Merza Gamal)
Image: Proses daur ulang Garment to Garment ciptaan Institut Penelitian Tekstil dan Pakaian Hong Kong (File by Merza Gamal)

Edwin Keh  Bersama Institut Penelitian Tekstil dan Pakaian Hong Kong telah menciptakan Sistem Daur Ulang Garment to Garment (G2G) pada tahun 2018. G2G yang merupakan lini produksi skala mini yang didirikan di toko ritel untuk mendaur ulang garmen yang telah dipakai menjadi yang baru. Proses daur ulang dilakukan secara integral dan loop tertutup yang ramah lingkungan tanpa menggunakan air dan bahan kimia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan