Mohon tunggu...
Merza Gamal
Merza Gamal Mohon Tunggu... Konsultan - Pensiunan Gaul Banyak Acara
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Berpengalaman di dunia perbankan sejak tahun 1990. Mendalami change management dan cultural transformation. Menjadi konsultan di beberapa perusahaan. Siap membantu dan mendampingi penyusunan Rancang Bangun Master Program Transformasi Corporate Culture dan mendampingi pelaksanaan internalisasi shared values dan implementasi culture.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Membangun Tenaga Kerja Pascapandemi yang Lebih Terampil

9 Agustus 2021   06:47 Diperbarui: 9 Agustus 2021   13:26 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Tenaga Kerja| Sumber: SHUTTERSTOCK.com/SORN340 IMAGES via Kompas.com

Krisis Covid-19 yang memicu perubahan model kerja kantoran menjadi model kerja hybrid telah mempercepat kebutuhan akan keterampilan tenaga kerja baru.

Sesuai dengan survei global yang dilakukan oleh McKinsey Institute, menyatakan bahwa menutup kesenjangan keterampilan telah menjadi prioritas yang lebih tinggi sejak pandemi dimulai, dan 69 persen perusahaan terlibat dalam lebih banyak pengembangan keterampilan daripada sebelum krisis.

Menariknya, keterampilan yang paling diprioritaskan perusahaan adalah kepemimpinan dan pengelolaan talenta, pemikiran kritis dan pengambilan keputusan, serta manajemen proyek. Hal tersebut menunjukkan bahwa selain ingin lebih berpusat pada insan perusahaan, organisasi masih memahami cara kerja baru yang dipaksakan oleh virus.

Dari hasil survei tersebut, diperkirakan bahwa permintaan akan keterampilan sosial dan emosional (yang tidak dapat dikuasai oleh mesin) akan meningkat 25 persen pada dekade berikutnya, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan sebelumnya sebesar 18 persen. Dan penelitian dari McKinsey & Company menemukan bahwa 107 juta pekerja mungkin perlu beralih pekerjaan pada tahun 2030 atau naik 12 juta dari perkiraan sebelum pandemi.

Perusahaan perlu mempersiapkan insan perusahaan untuk masa depan di mana keterampilan dan cara kerja yang baru dan berkembang diberikan dan di mana pembelajaran berkelanjutan adalah kunci relevansi di tempat kerja.

Para eksekutif perusahaan harus melakukan pembelajaran berkelanjutan sambil memulai eksperimen organisasi yang lebih luas untuk menentukan seperti apa tempat kerja di dunia pasca-Covid-19. Para eksekutif senior dapat mempelajari praktik yang telah dilakukan perusahaan yang telah mengasah keterampilan di tempat kerja dengan serius.

Artikel ini, menyoroti tiga prinsip baru yang diambil dari praktik terbaik berbagai perusahaan dunia. Sementara itu, relatif masih sedikit perusahaan yang sepenuhnya menguasai tantangan. 

Contoh keberhasilan mereka dapat menjadi titik kontak yang berguna bagi organisasi mana pun yang bercita-cita untuk mulai membangun tenaga kerjanya sendiri yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan.

1. Temukan titik awal perusahaan yang sebenarnya

Sekarang, dengan Artificial Intelligence (AI) dan keterampilan analitik data menjadi semakin penting bagi industri, banyak tenaga kerja saat ini tertinggal. Perusahaan harus bisa melakukan inventarisasi keterampilan yang komprehensif di seluruh organisasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun